Jelang Ramadan, Kuburan Muslimin Ramai Diziarahi, Pedagang Bunga Raup Untung hingga Rp500 Ribu per Hari

Tradisi nyekar menjelang Ramadan kembali menghidupkan kawasan Kuburan Muslimin di Samarinda. Lonjakan peziarah membawa berkah bagi pedagang bunga tabur musiman yang mengaku omzet harian mereka melonjak tajam.
Fajri
By
1.7k Views

Kaltim.akurasi.id, Samarinda – Menjelang bulan suci Ramadan, aktivitas ziarah kubur mulai meningkat. Kondisi ini membawa berkah tersendiri bagi para pedagang bunga tabur musiman di kawasan Kuburan Muslimin, Jalan Abul Hasan, Samarinda Kota.

Salah satu pedagang, yang akrab disapa Bunda Tiara, mengaku jumlah peziarah mulai meningkat sejak Jumat (13/2/2026). Meski demikian, puncak keramaian biasanya terjadi sehari sebelum awal puasa.

“Biasanya paling ramai itu sehari sebelum puasa,” ujarnya saat ditemui awak media, Senin (16/2/2026).

Tradisi nyekar atau ziarah kubur memang masih kuat dijalankan masyarakat. Kegiatan ini dilakukan dengan menaburkan bunga sekaligus memanjatkan doa untuk keluarga atau leluhur, terutama menjelang Ramadan maupun Idulfitri.

Melihat tingginya minat masyarakat, Bunda Tiara bersama pedagang lainnya berencana kembali berjualan saat menjelang Idulfitri. Tradisi berjualan bunga musiman tersebut sudah rutin mereka lakukan setiap tahun.

Dalam sehari, ia menjual dua jenis produk, yakni bunga tabur dan bunga rampai. Bunga rampai dijual dengan harga Rp20 ribu hingga Rp25 ribu per bungkus. Sementara bunga tabur dijual Rp10 ribu untuk tiga bungkus.

Selain bunga, ia juga menjual air yasin yang dikemas dalam botol ukuran 1,5 liter dengan harga Rp5 ribu untuk dua botol. Dari hasil penjualan tersebut, ia mengaku bisa meraup keuntungan hingga Rp500 ribu per hari pada masa ramai ziarah.

Untuk stok dagangan, ia membeli bahan baku dari pemasok, seperti daun pandan dan berbagai jenis bunga, termasuk bunga rampai yang telah dirangkai. Namun berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, kali ini bunga melati dan mawar belum tersedia karena belum memasuki musim panen.

Perempuan berjilbab itu juga menceritakan, profesi sebagai pedagang bunga musiman merupakan usaha turun-temurun dari keluarganya. Di luar musim ziarah, ia beraktivitas sebagai ibu rumah tangga.

“Dulu waktu masih SD saya sering bantu ibu jualan bunga di sini menjelang puasa,” kenangnya. (*)

Penulis: Yasinta Erikania Daniartie
Editor: Redaksi Akurasi.id

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Menu Vertikal
Menu Sederhana
#printfriendly .related-sec { display: none !important; } .related-sec { display: none !important; } .elementor-2760 .elementor-element.elementor-element-0f8b039 { --display: none !important; } .elementor-2760 { display: none !important; }