Kaltim.akurasi.id, Samarinda – Kota Samarinda menghadapi ancaman krisis tenaga pendidik. Setiap tahunnya, jumlah guru di ibu kota Kalimantan Timur ini terus berkurang hingga ratusan orang akibat pensiun, sakit, meninggal dunia, maupun mutasi ke luar daerah.
Wakil Ketua Komisi IV DPRD Kota Samarinda, Sri Puji Astuti, mengungkapkan angka kehilangan tenaga pengajar di Samarinda mencapai sekitar 100 sampai 200 orang per tahun.
Menurutnya, kondisi tersebut menjadi tantangan serius bagi pemerintah kota dalam menjaga kualitas dan keberlangsungan layanan pendidikan, khususnya pada jenjang PAUD, SD, hingga SMP yang menjadi kewenangan pemerintah daerah.
“Setiap tahun kita kehilangan sekitar 100 sampai 200 guru karena faktor alamiah, seperti pensiun, sakit, meninggal dunia, hingga pindah tugas,” tuturnya.
Di tengah kondisi kekurangan tenaga pengajar tersebut, Samarinda juga dihadapkan pada tantangan baru. Menyusul rencana pemerintah pusat yang akan kembali mewajibkan mata pelajaran Bahasa Inggris di tingkat sekolah dasar mulai tahun ajaran 2027-2028.
Baca Juga
Kebijakan itu dinilai akan meningkatkan kebutuhan guru secara signifikan, terutama untuk tenaga pengajar Bahasa Inggris di tingkat SD yang saat ini jumlahnya masih sangat terbatas.
Sri Puji menyebut, kebutuhan guru Bahasa Inggris diperkirakan bisa mencapai lebih dari 200 orang, guna mendukung penerapan kurikulum baru tersebut.
“Dulu Bahasa Inggris dihapus dari SD, sekarang nanti diwajibkan lagi. Tentu kita akan kembali kekurangan guru. Kebutuhannya bisa lebih dari 200 orang,” tegasnya.
Baca Juga
Ia meminta pemerintah daerah, segera menyusun langkah strategis dan perencanaan jangka panjang agar persoalan kekurangan guru tidak ditangani secara parsial.
“Setiap kebijakan pendidikan memiliki dampak berantai yang harus diperhitungkan sejak awal, termasuk kesiapan sumber daya manusia di lapangan,” tutupnya. (*)
Penulis: Muhammad Zulkifli
Editor: Devi Nila Sari