Keracunan MBG di PPU Jadi Sorotan, Dinkes Kaltim Minta Dapur SPPG Stop Operasi

Kasus dugaan keracunan makanan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Penajam Paser Utara kini menjadi sorotan serius. Dinas Kesehatan Kalimantan Timur mendesak penghentian operasional dapur SPPG sembari menunggu hasil investigasi epidemiologi dan uji laboratorium.
Fajri
By
2.5k Views

Kaltim.akurasi.id, Samarinda – Sebanyak 25 siswa tingkat SD hingga SMA di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), Kalimantan Timur, dilaporkan mengalami dugaan keracunan setelah mengonsumsi makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG). Para siswa mengalami gejala mual dan muntah usai menyantap hidangan yang disediakan.

Kepala Dinas Kesehatan Kalimantan Timur, Jaya Mualimin, mengimbau agar dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang diduga menjadi sumber keracunan dihentikan sementara operasionalnya. Menurutnya, langkah tersebut penting untuk mencegah potensi kasus serupa sekaligus memberi ruang bagi proses investigasi.

“Kami tidak ingin mengambil risiko. Untuk sementara dapur yang diduga terkait harus dihentikan operasionalnya sampai hasil pemeriksaan laboratorium keluar,” ujar Jaya.

Ia menjelaskan, Dinas Kesehatan Kaltim saat ini tengah berkoordinasi dengan Badan Gizi Nasional (BGN) Kaltim untuk melakukan penyelidikan epidemiologi. Selain itu, sampel makanan dan bahan baku telah diamankan untuk diuji di laboratorium guna memastikan penyebab pasti kejadian tersebut.

Jaya menyebut dugaan sementara mengarah pada kemungkinan kontaminasi, baik pada proses pengolahan maupun distribusi makanan. Namun, ia menegaskan kesimpulan resmi baru dapat ditentukan setelah hasil uji laboratorium diterima.

Selain investigasi penyebab, Dinkes Kaltim juga akan memeriksa kelengkapan administrasi dapur, termasuk kepemilikan Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS) serta penerapan standar keamanan pangan. Jika ditemukan pelanggaran prosedur, sanksi tegas akan diberikan sesuai ketentuan.

“Prinsipnya zero accident. Dari ribuan porsi yang disajikan, tidak boleh ada yang menyebabkan keracunan. Keselamatan siswa adalah prioritas utama,” tegasnya. (*)

Penulis: Muhammad Zulkifli
Editor: Redaksi Akurasi.id

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Menu Vertikal
Menu Sederhana
#printfriendly .related-sec { display: none !important; } .related-sec { display: none !important; } .elementor-2760 .elementor-element.elementor-element-0f8b039 { --display: none !important; } .elementor-2760 { display: none !important; }