Kaltim.akurasi.id, Samarinda – Sejumlah pedagang Pasar Pagi Samarinda mengeluhkan kondisi fasilitas pascarevitalisasi yang dinilai belum sepenuhnya mendukung aktivitas jual beli. Mulai dari biaya parkir yang mahal hingga ukuran ruko yang sempit disebut menjadi kendala utama bagi pedagang maupun pengunjung.
Salah seorang pedagang, Sarpani, mengatakan sistem parkir saat ini justru menjadi beban tambahan, terutama bagi pedagang yang setiap hari beraktivitas di kawasan tersebut. Parkir diberlakukan dengan sistem per jam, yakni Rp2.000 per jam mulai pukul 08.00 hingga 17.00 Wita.
“Kalau dihitung-hitung, pengeluaran pedagang cukup besar. Pengunjung juga kena parkir. Kadang bisa sampai Rp10.000 karena tidak punya kartu parkir,” ungkapnya.
Menurut Sarpani, hingga kini belum tersedia sistem parkir berlangganan bagi pedagang. Opsi pembayaran hanya melalui kartu elektronik atau QRIS. Sementara bagi pengunjung yang tidak memiliki kartu, pembayaran dilakukan secara tunai dengan tarif yang dinilai memberatkan.
“Parkir mahal, lahan juga kurang. Akhirnya pengunjung malas datang. Kalau parkiran penuh, orang harus cari tempat lain. Di pelabuhan dulu masih bisa parkir, sekarang juga tidak jelas fungsinya,” tambahnya.
Baca Juga
Pedagang yang telah berjualan sejak 1995 itu juga menilai konsep penataan Pasar Pagi saat ini justru berbeda jauh dengan kondisi sebelumnya yang dinilainya lebih hidup. Lorong pasar yang panjang dan sempit membuat mobilitas pedagang maupun pembeli menjadi terbatas.
“Kalau dulu penataannya bikin pasar hidup. Sekarang justru terasa mematikan. Lorongnya sempit, susah keluar-masuk,” katanya.
Selain persoalan parkir dan sirkulasi, ukuran ruko juga menjadi keluhan. Beberapa petak disebut hanya memiliki lebar sekitar 1,5 meter, jauh lebih kecil dibanding kios lama yang rata-rata berukuran sekitar 2×2 meter.
Baca Juga
“Dulu etalase bisa dibentuk. Sekarang cuma satu sisi. Barang tidak bisa dipajang banyak. Kalau rolling pintu dibuka ke samping, makin makan tempat. Akhirnya pedagang seperti tersembunyi,” jelasnya.
Keluhan serupa disampaikan pedagang pakaian yang enggan disebutkan namanya. Ia menilai sistem parkir di Pasar Pagi Samarinda belum membedakan antara pedagang dan pengunjung.
“Pedagang dan pengunjung disamakan. Parkir motor bisa sampai Rp7.000 per hari, mobil sekitar Rp11.000. Kalau non-tunai malah lebih mahal,” ujarnya.
Menurutnya, pedagang seharusnya mendapat keringanan, seperti sistem parkir berlangganan yang pernah diterapkan di Segiri Grosir Samarinda (SGS). Skema tersebut dinilai lebih adil karena pedagang beraktivitas setiap hari di lokasi yang sama.
Selain parkir, ia juga menyoroti ukuran petak yang dinilai tidak sesuai dengan informasi awal. Dari luar, bangunan Pasar Pagi tampak luas, namun kondisi di dalam justru sebaliknya.
“Kalau dari luar kelihatannya besar, tapi di dalam petaknya kecil. Waktu awal disampaikan, katanya petaknya agak besar. Setelah ditempati, ternyata seperti ini,” terangnya.
Baca Juga
Meski begitu, ia mengaku tetap bersyukur masih mendapatkan tempat berjualan. Namun, keterbatasan ruang menjadi persoalan tersendiri, terutama bagi pedagang yang hanya memperoleh satu petak.
“Kalau cuma satu petak memang kecil. Yang punya dua atau tiga petak masih agak longgar. Ada juga yang sampai sepuluh petak, otomatis tokonya besar,” imbuhnya.
Terkait penentuan jumlah petak, pedagang tersebut menyebut tidak ada pungutan biaya. Penetapan dilakukan berdasarkan data Surat Keterangan Usaha (SKS) yang diinput melalui aplikasi.
“Gratis, tidak ada bayar. Jadi bisa dibilang nasib-nasiban. Yang dapat bagus ya bagus, yang tidak sesuai ya harus diterima,” ucapnya.
Ia menambahkan, tidak ada komunikasi sebelumnya mengenai kebutuhan ruang pedagang. Seluruh proses hanya mengacu pada data SKS. Sementara bagi pedagang yang ingin menambah petak, hingga kini belum ada kejelasan karena disebut akan masuk tahap kedua revitalisasi yang jadwalnya belum diketahui.
“Kondisi ini cukup menyulitkan. Tempat kecil, pengunjung juga masih sepi. Banyak petak yang masih kosong, terutama di lantai atas,” jelasnya. (*)
Penulis: Muhammad Zulkifli
Editor: Redaksi Akurasi.id