Kaltim.akurasi.id, Samarinda – Kondisi truk pengangkut sampah milik Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Samarinda yang dilaporkan keropos hingga berlubang di bagian belakang menuai sorotan publik. Keluhan masyarakat mencuat setelah video dan foto armada tersebut beredar di media sosial, memperlihatkan sampah yang menimbulkan bau menyengat sepanjang jalan yang dilalui.
Kepala Bidang Pengelolaan Sampah dan Limbah B3 DLH Samarinda, M. Taufiq Fajar, menjelaskan bahwa kondisi tersebut terjadi akibat keterbatasan armada yang saat ini dimiliki DLH.
“Saat ini kami memiliki sekitar 71 kendaraan, sementara jumlah TPS mencapai 83 titik. Di sisi lain, kebutuhan personel dan armada untuk pelayanan pengangkutan sampah juga cukup besar,” bebernya.
Ia menyebut, sejumlah armada lama masih terpaksa dioperasikan, termasuk kendaraan keluaran tahun 2013 yang secara usia seharusnya sudah dipensiunkan.
Menurutnya, keterbatasan armada membuat satu kendaraan terkadang harus digunakan secara bergantian oleh dua pengemudi untuk memastikan pelayanan kepada masyarakat tetap berjalan.
“Memang masih ada kekurangan yang harus kami hadapi di DLH. Meski begitu, kami tetap harus memberikan pelayanan maksimal kepada masyarakat,” tuturnya.
Taufiq menambahkan, pihaknya selalu mengingatkan para sopir untuk segera melaporkan jika terjadi kerusakan pada kendaraan, terutama kerusakan berat seperti bagian bak yang berlubang.
“Laporan seperti itu seharusnya segera masuk agar kendaraan bisa langsung diperbaiki,” tegasnya.
Untuk proses perbaikan, kata dia, waktu pengerjaan sangat bergantung pada kondisi antrean di bengkel. Jika kerusakan ringan dan tidak ada antrean, perbaikan biasanya dapat selesai dalam beberapa hari.
Selain itu, biaya perawatan kendaraan tua juga cukup besar. Sekali perbaikan, anggaran yang dibutuhkan bisa mencapai Rp20 hingga Rp30 juta.
Ia mengakui, jumlah armada pengangkut sampah di Samarinda saat ini masih belum mencukupi untuk memenuhi kebutuhan pelayanan publik. Namun, tahun ini belum ada rencana penambahan armada karena kebijakan efisiensi anggaran.
“Setidaknya idealnya setiap tahun harus ada pengadaan, jangan sampai terputus,” ucapnya.
Sebagai langkah sementara, DLH memaksimalkan armada yang ada dengan menempatkan kendaraan tua pada rute yang lebih dekat ke TPA agar beban operasionalnya lebih ringan. (*)
Penulis: Muhammad Zulkifli
Editor: Devi Nila Sari