Tidak Ada Susu, Menu MBG Ramadan di Samarinda jadi Sorotan

Menu MBG selama Ramadan di salah satu sekolah di Samarinda menjadi sorotan. Pasalnya, tidak terdapat susu dalam menu penyesuaian itu.
Devi Nila Sari
1k Views

Kaltim.akurasi.id, Samarinda – Menu Program Makan Bergizi Gratis (MBG) selama Ramadan menjadi sorotan. Pasalnya, dalam menu penyesuaian itu, tidak terdapat susu kotakan.

Hal ini diungkapkan oleh Penanggung Jawab (PIC) MBG SD 003 Sungai Kunjang Samarinda, Abdul Fajar. Menurutnya selama awal puasa, tidak terdapat susu dalam menu yang dibagikan oleh satuan pelayanan pemenuhan gizi (SPPG).

Padahal susu dianggap salah satu asupan penting untuk mendukung tumbuh kembang anak karena kaya akan kalsium, protein, dan vitamin D.

“Kami sudah hubungi pihak SPPG, katanya stok di pasaran kosong. Harusnya mereka kan punya persediaan dari jauh hari,” tuturnya di Samarinda.

Sebagai pengganti, SPPG memberi kacang untuk anak-anak. Karena dinilai keduanya memiliki gizi yang hampir serupa. Tidak hanya susu, sejumlah jenis makanan pun dilakukan penyesuaian saat Ramadan ini.

Perubahan menu tersebut dirasakan sejak hari pertama sekolah di bulan puasa, Senin 23 Februari 2026. Pada hari pertama Ramadan, siswa hanya menerima paket berisi roti, telur rebus, satu bungkus kacang goreng, dan tiga butir buah kelengkeng.

Hal serupa berlanjut pada Selasa 24 Februari 2026 dengan menu telur puyuh, roti, gorengan, dan pisang, tetap tanpa kehadiran susu.

SPPG Karang Asam Ilir Sebut Stok Susu Full Cream Kosong

Menanggapi keluhan ini, Ahli Gizi SPPG Karang Asam Ilir Endah mengakui jika pihaknya memang melakukan penyesuaian selama Ramadan. Jika biasanya mereka menyajikan makanan basah seperti nasi dan lauk pauknya, sekarang dialihkan menjadi kering.

“Tapi kami tetap usahakan menunya memenuhi unsur-unsur yang dibutuhkan,” ujarnya saat diwawancarai awak media di Samarinda, Kamis (26/2/2026).

Secara umum, setiap harinya menu MBG harus  terdiri dari berbagai jenis makanan yang memiliki gizi lengkap. Seperti, karbohidrat, protein nabati, protein hewani, sayur, buah, dan susu.

Sebagai penyesuaian, jika biasanya mereka menggunakan nasi sebagai karbohidrat saat ini diganti dengan roti. Untuk protein hewani yang biasanya diisi ikan, ayam, daging, diganti menjadi telur ayam atau telur puyuh rebus.

Selanjutnya, protein nabati diubah menjadi nugget tempe atau tahu bakso. Sementara itu untuk olahan sayur tidak ada. Serta susu sementara ini diganti kacang.

Terkait keluhan tidak ada susu, ia menyebut jika stok susu full cream susah didapatkan di Kota Tepian.

“Kami sudah cari dari gudang besar sampai toko kecil. Memang susah dicari untuk ukuran 125 ml, ada sekardus dua kardus. Tapi tidak kami ambil, karena takutnya jadi tidak adil kalau sebagian aja yang dapat,” jelasnya.

Sementara itu, pihaknya tidak mau memberi susu dengan varian  rasa. Karena dikhawatirkan dapat menimbulkan masalah kesehatan bagi anak. Misalnya, diabetes.

Untuk mengatasi keluhan ini, pihaknya akan mengganti susu menjadi susu kedelai atau bubur kacang hijau.

Endah pun menjelaskan, jika pemberian menu kering sebenarnya memiliki nilai gizi yang lebih rendah daripada menu basah. Apalagi, mereka tidak bisa memberi sayur karena dikhawatirkan basi jika dibawa pulang.

“Selain itu kalau dilihat, anak-anak lebih suka menu basah,” tambahnya. (*)

Penulis: Yasinta Erikania Daniartie
Editor: Devi Nila Sari

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Menu Vertikal
Menu Sederhana
#printfriendly .related-sec { display: none !important; } .related-sec { display: none !important; } .elementor-2760 .elementor-element.elementor-element-0f8b039 { --display: none !important; } .elementor-2760 { display: none !important; }