Kaltim.akurasi.id, Penajam Paser Utara – Siang itu, angin laut berembus pelan di Pelabuhan Penyeberangan Penajam. Ferry baru saja merapat. Suara mesin perlahan mereda, bercampur teriakan petugas yang mengatur penumpang turun satu per satu.
Beberapa orang tampak tergesa. Ada yang menarik koper. Ada yang menenteng plastik belanja. Tak ada yang menyadari, di antara kerumunan itu, seorang perempuan berdiri dengan tubuh gemetar, menatap laut tanpa suara.
Tak lama kemudian, jeritan pecah.
“Dia lompat!”
Tubuh perempuan itu meluncur dari sisi kapal, jatuh ke air yang keruh kehijauan. Ombak kecil menggulungnya, sementara pelabuhan yang semula riuh mendadak membeku.
Baca Juga
Perempuan itu adalah SW (34), seorang ibu rumah tangga asal Kota Balikpapan.
Beberapa jam setelah kejadian, SW berhasil diselamatkan. Secara fisik, ia selamat. Namun di balik tubuhnya yang basah dan lemas, ada luka yang jauh lebih dalam. Luka yang berasal dari layar ponsel.
Kapolsek Penajam, AKP Saifuddin, mengungkapkan bahwa perempuan tersebut menjadi korban pemerasan melalui media sosial TikTok, dengan total kerugian mencapai Rp30 juta.
“Korban ini ibu rumah tangga,” kata Saifuddin, suaranya terdengar hati-hati.
Semua bermula dari perkenalan singkat di dunia maya.
Selama kurang lebih satu minggu, SW berkomunikasi intens dengan seorang pria berinisial D. Awalnya percakapan berjalan biasa. Sapaan ringan, obrolan sehari-hari. Hingga pelaku mulai membangun kedekatan, kepercayaan, lalu perlahan menjebak.
Korban kemudian diminta mengirimkan video asusila. Tak lama setelah itu, ancaman datang.
Pada Minggu pagi, sekitar pukul 09.00 Wita, ponsel SW berdering berkali-kali. Pelaku menelepon, meneror, dan menuntut uang.
Jika tidak dituruti, video itu akan disebarkan. Tekanan demi tekanan membuat pikirannya kalut.
Baca Juga
“Dari situ dia bingung, pikirannya kacau. Jalan tanpa arah,” tutur Saifuddin.
Tanpa tujuan jelas, tanpa bekal uang, SW keluar rumah. Ia tak tahu mengapa langkahnya membawanya ke Penajam. Ia hanya naik ferry, seolah ingin menjauh sejauh mungkin dari ketakutan yang mengejarnya.
Namun ketakutan itu tak pernah benar-benar tertinggal. Di atas kapal, pikirannya runtuh. Dan laut menjadi tempat pelariannya.
Saat polisi mencoba meminta keterangan, kondisi psikis korban belum stabil.
“Setiap ditanya, korban langsung pingsan. Masih sangat shock,” ungkap Saifuddin.
Karena pertimbangan psikologis, pemeriksaan akhirnya dihentikan sementara. Suami korban yang datang ke Polsek memahami kondisi tersebut dan meminta agar kasus tidak dibahas lebih lanjut hingga istrinya pulih.
SW pun dipulangkan ke rumahnya di Balikpapan.
Sementara itu, pelaku berinisial D masih dalam pencarian. Seluruh akun media sosialnya telah nonaktif, menyisakan jejak digital yang sulit dilacak.
“Kami masih selidiki,” tegas Saifuddin.
Kasus ini menjadi potret gelap kejahatan digital yang kian nyata. Bukan hanya soal uang, tapi tentang tekanan mental, rasa takut, dan kehancuran batin yang bisa mendorong seseorang ke titik paling gelap dalam hidupnya.
Di pelabuhan itu, air laut kembali tenang. Ferry berikutnya datang dan pergi seperti biasa. Namun bagi SW, hari itu akan selalu menjadi garis batas, antara hidup yang hampir terenggut, dan kenyataan pahit bahwa satu perkenalan singkat di dunia maya nyaris merenggut segalanya. (*)
Penulis: Nelly Agustina
Editor: Fajri Sunaryo