Langit sore menggantung rendah di atas Kota Masohi, seperti kelopak mata orang tua yang terlalu lama menahan tangis. Awan kelabu bergerak lambat dari arah laut, membawa angin asin bercampur bau lumpur tambak. Daun-daun ketapang di pinggir jalan poros berjatuhan satu per satu, menyentuh tanah dengan bunyi lirih, seperti kalimat yang tidak selesai diucapkan.
Ramadan tinggal beberapa jam lagi.
Di gang sempit dekat kantor lurah, rumah panggung Andi Nurfadilah ramai oleh orang-orang yang datang silih berganti. Ibu-ibu duduk melingkar di ruang tamu sambil melipat mukena. Lelaki-lelaki berdiri di teras, merokok, menyeruput kopi hitam dari gelas-gelas kecil.
Bau minyak kayu putih, sabun mandi jenazah, dan tanah basah bercampur jadi satu.
Daeng Irwan berdiri di sudut ruangan.
Baca Juga
Tubuh Andi Nurfadilah terbaring di atas dipan, tertutup kain putih. Wajahnya tenang. Terlalu tenang, seolah hanya tertidur setelah seharian bekerja.
“Baru kemarin ketemu di pasar,” bisik seorang perempuan.
“Katanya tekanan darahnya sering naik.”
Baca Juga
“Bukan cuma itu,” sahut yang lain, mendekatkan wajah.
“Aku dengar dia lagi banyak masalah.”
“Suaminya jarang pulang.”
“Kiriman uangnya makin sedikit.”
“Ada juga yang bilang mereka sering bertengkar.”
“Utangnya lumayan.”
Bisik-bisik itu bergerak cepat, berpindah dari satu telinga ke telinga lain, seperti lalat mengerumuni gula.
Baca Juga
Irwan menunduk.
Tak satu pun dari mereka menyebut bagaimana Dilah sering duduk sendirian di beranda, menahan tangis dengan ujung jilbab.
Di kamar belakang, ibu Dilah terduduk lemas. Matanya kosong. Sesekali ia mengusap rambut cucunya yang tertidur di pangkuan.
Arsyad.
Anak lelaki berusia lima tahun itu belum tahu bahwa ibunya tak akan lagi menyiapkan sahur untuknya.
Irwan mengenal Dilah sejak kecil. Mereka tumbuh di gang yang sama. Rumah panggung kayu ulin itu selalu terbuka bagi siapa pun yang ingin singgah.
Setiap sore, Dilah mengipas arang untuk membakar pisang epe. Asapnya tipis dan manis, cukup untuk membuat Irwan berhenti motor.
“Daeng, singgahmi dulu. Kopi sudah jadi.”
Irwan bukan daengnya. Bukan saudara. Tapi panggilan itu menjadi kebiasaan.
Dua minggu lalu, Dilah masih bercerita tentang rencananya menjual es buah dan jalangkote untuk Ramadan.
“Kalau laku, lumayan buat tambah-tambah uang sekolahnya Arsyad,” katanya.
“Jangan terlalu capek,” jawab Irwan.
Perempuan itu tertawa kecil.
“Capek sedikit tidak apa-apa. Daripada pikiran yang capek.”
Irwan mengangguk.
Padahal ia tahu, beberapa malam terakhir Dilah sering menangis di beranda. Ia pernah melihatnya mengusap wajah dengan ujung jilbab, cepat-cepat, seolah takut ketahuan.
Irwan tahu.
Tapi ia memilih tidak ikut duduk.
Tidak ikut bertanya.
Ia tidak ingin ikut capek.
Pesan terakhir Dilah datang tiga hari sebelum wafat.
Daeng, besok kalau saya tidak buka lapak, jangan heran ya.
Irwan membacanya sambil berjalan tergesa. Membalas singkat:
Iya.
Ia tidak bertanya kenapa.
Tidak menelpon.
Ia mengira masih ada waktu.
Padahal malam itu, Dilah duduk sendiri di dapur, menatap kolak pisang yang gagal mengental. Santannya pecah. Pisangnya terlalu matang. Ia memotret panci itu, hampir mengirimkannya ke Irwan, lalu menghapusnya.
Ia menangis pelan.
Anaknya sudah tidur.
***
Kematian Dilah datang menjelang magrib.
“Pingsan di dapur,” kata tetangga.
Dilarikan ke rumah sakit.
Tak lama kemudian, kabar wafat menyusul.
Proses memandikan jenazah tertunda hampir satu jam karena urusan surat. Ketua RT mondar-mandir.
“Sudahmi cepat,” katanya.
“Besok orang mau sahur pertama.”
Ramadan tidak menunggu siapa pun.
Di dapur, kopi terus diseduh. Gelas kosong bertambah. Rokok dibakar satu demi satu.
Seorang lelaki berkata, “Kasihan anaknya. Masih kecil.”
Yang lain menyahut, “Perempuan begitu harusnya dijaga, bukan dibiarkan capek sendiri.”
Kalimat itu menusuk Irwan.
Dibiarkan capek sendiri.
Ia tahu.
Dan ia memilih menjauh.
***
Hari pertama puasa datang dengan udara yang dingin.
Pemakaman dilakukan setelah duha. Tanah masih basah oleh embun pagi. Sekop-sekop menghantam bumi dengan bunyi tumpul.
Tangis ibu Dilah pecah.
Arsyad berdiri di samping Irwan, menggenggam ujung sarungnya.
“Om,” katanya lirih,
“Mama pulang nanti buat buka puasa?”
Irwan menelan ludah.
Tak ada jawaban yang pantas.
Saat tubuh Andi Nurfadilah diturunkan ke liang lahat, angin dari arah laut berembus kencang. Kelopak kamboja jatuh satu per satu.
Seorang lelaki berbisik, “Semoga husnul khatimah.”
Irwan menatap tanah yang perlahan menutup wajah perempuan itu.
Hari pertama Ramadan.
Sementara anak itu pulang dengan tangan kosong.
Sore harinya, Arsyad duduk di ruang tamu rumah panggung. Di depannya, sepiring kurma dan segelas air putih.
Ia menunggu.
Setiap motor lewat, ia menoleh.
Setiap pintu berderit, ia bangkit.
“Om,” katanya pada Irwan yang singgah membawa beras zakat,
“Mama lama sekali.”
Irwan tidak sanggup menatap matanya.
Azan magrib berkumandang.
Arsyad menangis keras, memukul lantai dengan telapak tangan kecilnya.
“Aku mau Mama…”
Irwan memeluknya.
Tubuh anak itu gemetar.
***
Malam itu, setelah tarawih pertama, Irwan kembali ke pemakaman.
Suara serangga bersahutan. Dari rumah-rumah warga terdengar panci beradu, tawa kecil, sisa euforia Ramadan.
Ia duduk di samping nisan yang masih miring.
Andi Nurfadilah binti Basri
Lahir 12 September 1993
Wafat 17 Februari 2026
Tanah di sekitarnya masih hitam.
Belum kering.
Irwan menyentuh nisan itu. Jemarinya kotor oleh lumpur.
“Maaf, Dilah,” katanya pelan.
Maaf karena tahu kau sering menangis, tapi memilih tidak ikut capek.
Maaf karena mengira waktu selalu tersedia.
Angin membawa bau asin laut dan aroma tanah baru.
Di kejauhan, azan tahajud terdengar samar.
Besok orang-orang akan kembali berpuasa. Takjil akan dibagi. Doa-doa akan dinaikkan.
Dan anak itu akan terus menunggu ibunya pulang dari tempat yang tak bisa dijangkau siapa pun.
Irwan berdiri perlahan, menepuk debu dari celananya.
Sebelum melangkah pergi, ia menoleh sekali lagi ke arah makam itu—membawa pulang satu kesadaran yang datang terlambat: bahwa kehilangan paling menyakitkan bukan ketika seseorang pergi, melainkan ketika kita sadar betapa banyak kesempatan yang sengaja kita lewatkan.
Fajri Sunaryo, Jurnalis Akurasi.id