Di Bawah Atap Rumbia, Ia Kembali

Di desa yang percaya pada tanda, suara dari perut Lamalia kembali berdenyut seperti bayi yang pernah hilang, membawa malam pada ingatan yang tidak pernah selesai.
Fajri
By
8.4k Views

Desa Tamasongo, Sulawesi Selatan, sebuah kampung yang hanya punya satu jalan tanah berbatu, yang bila musim hujan datang berubah seperti bubur cokelat yang menelan sandal siapa pun yang memaksanya dilewati. Rumah-rumah bambu berdiri saling berjauhan, dihubungkan oleh suara jangkrik yang tak pernah cuti, dan bau tanah basah yang menyerap hingga ke tulang. Dari kejauhan, bukit menjulang seperti punggung binatang purba, dilapisi kabut tipis yang selalu tampak seperti napas.

Di sinilah rumahku berdiri sederhana, berdinding anyaman bambu, beratap rumbia dengan warna kecokelatan, sebagian telah menghitam karena asap dapur. Jika malam tiba, hanya lampu teplok kecil yang menggantung di para-para dapur sebagai saksi segala sunyi yang menyebar. Cahaya kuningnya begitu redup, seolah takut menyingkap sesuatu yang bersembunyi di sudut rumah.

Aku, Lamalia, tinggal bersama suamiku, Daeng Mangemba, dan ibuku yang sudah tua dan mudah lupa. Lantai rumah kami terbuat dari papan kelapa yang jernih oleh waktu dan sering berdecit jika diinjak tengah malam. Kasur kapuk di kamar kami kempes dan berbau lembab, menyimpan ingatan tentang tubuh-tubuh yang dulu tidur di atasnya, termasuk bayi pertama kami yang hanya sempat hidup beberapa jam sebelum akhirnya menghilang seperti embun di pagi hari.

Tiga tahun berlalu sejak anak itu kami kuburkan diam-diam di bawah pohon nangka di belakang rumah. Tak ada doa panjang, hanya tanah basah yang kututup dengan tangan kosong sambil menggigil, dan mata suamiku yang tak berani menatapku malam itu. Kami dibantu Sitti Bunga, dukun beranak tua yang sudah menangani kelahiran lebih lama dari umur sebagian besar warga desa. Ia hanya berkata pelan setelah penguburan selesai:

“Jangan pernah biarkan tanah ini diganggu. Janji yang hilang selalu menemukan jalan pulangnya.”

Aku tak mengerti sepenuhnya, tapi kini kata-kata itu menggema seperti kayu kering yang patah di tengah dinihari.

***

Hari-hariku berjalan seperti air di lumbung bambu, menetes satu satu, tidak pernah habis tapi juga tidak pernah penuh. Pagi aku memasak nasi di tungku tanah liat, menanak ikan asin yang direndam semalaman agar tak terlalu asin. Aku memetik daun singkong di kebun kecil samping rumah, dan kadang membantu ibu menjemur padi di halaman. Suamiku berangkat sebelum matahari terbit, menuntun kudanya menuju sawah, kadang mengangkut gabah milik orang lain untuk ditukar dengan gula atau beras.

Tetangga sering lewat di depan rumah, menyapa sambil membawa karung padi atau bakul ikan hasil tangkapan sungai.

“Pagi, Lia.”
“Pagi juga, Daeng Nur.”
“Harap cepat hujan reda. Banyak anak turun sakit.”
“Iye, semoga cepat baik.”

Percakapan kecil seperti ini sering terjadi: pendek, sederhana, tapi memelihara rasa hidup di kampung kecil kami. Namun bahkan sapaan hangat warga tidak mampu mengisi kekosongan di tubuhku.

Sejak dua bulan terakhir, suamiku sering pulang dengan bau yang tak kukenal. Bukan bau lumpur sawah atau keringat kuda, tapi wangi minyak kelapa yang manis, bercampur samar aroma bunga kenanga. Terlalu lembut untuk seorang petani. Terlalu asing untuk seorang suami yang jarang memakai minyak rambut sekalipun.

Saat kutanya, ia merespons datar, tanpa menatap.

“Tadi habis bantu panen di rumah Daeng Tira. Perempuan banyak pakai kenanga kalau ada acara.”

“Acara apa?”

Jedanya terlalu panjang.

“Katanya syukuran panen.”

Jawaban yang terasa seperti pintu yang hampir tertutup, menyisakan celah kecil untuk curiga.

 

***

 

Aku mulai memperhatikan hal yang tak seharusnya terlihat. Di bawah kolong rumah, tempat ayam sering berteduh, kutemukan potongan kain putih kecil, seperti kain pembungkus bayi. Terkadang, malam-malam menjelang fajar, aku mendengar suara ketukan lembut dari arah dapur “tok… tok… tok” seperti seseorang mengetuk dinding dari sisi yang salah.

Pernah sekali, ketika aku sedang mengaduk kopi untuk suamiku, ibu keluar dari kamar, matanya sayu seperti terendam mimpi yang tak kunjung selesai.

“Lamalia…”
“Iye, Mi?”
“Anak itu… sudah datang?”

Aku tercekat. Kopi dalam gelas bergoyang.

“Anak yang mana?”

Ibu tersenyum pelan, sangat pelan.

“Yang kau kuburkan dulu… Dia belum selesai lahir.”

Hatiku mengencang seperti tali jemuran yang tertarik badai. Kupikir ibu hanya berhalusinasi, tapi entah mengapa kata-katanya menempel seperti aroma asap yang tak mau hilang dari rambut.

***

Musim panen kedua datang bersama hujan deras yang turun hampir setiap malam. Desa menjadi becek, suara katak memenuhi kolam, dan udara basah menusuk celah-celah rumah seperti jemari dingin. Suamiku semakin jarang pulang sore hari. Kadang aku mendapati sarungnya basah lumpur, kadang hanya senyum tipis tanpa penjelasan.

Tetangga mulai bergumam.

“Mangemba banyak bersama janda tua di ujung desa.”
“Atau mungkin gadis penjaja kue di pasar.”

Aku mendengar desas-desus itu sambil mengeringkan ikan asin. Tidak menjawab, tidak menyangkal. Hanya memeluk rahasia dalam dada, seperti siapa pun yang pernah kehilangan.

Semua berubah pada malam purnama ketiga.

Cahaya bulan jatuh ke halaman seperti susu tumpah, putih dan pucat. Lampu teplok di dapur bergerak pelan tertiup angin. Aku terbangun oleh suara bayi menangis: renyah, tipis, namun jelas. Suara itu datang dari belakang rumah, tempat pohon nangka tumbuh.

Aku menghampiri dapur dengan langkah pelan, jantung berdegup lirih seperti ingin berhenti. Di sudut dapur, tergantung pada paku tua, tampak seutas tali pusar yang kering, menggantung seperti urat yang lupa dipotong kehidupan. Aku mematung. Nafas terhenti.

Daeng Mangemba datang beberapa detik kemudian. Wajahnya pucat seperti kain kafan.

“Saya juga dengar suaranya.”

“Apa yang terjadi, Daeng?”

Ia menelan ludah.

“Kadang… saya mimpi dia memanggil. Menyuruhku menggali tanah di bawah pohon nangka.”

Tulang punggungku serasa runtuh. Karena itulah mimpi yang selalu kutahan selama bertahun-tahun.

Hari-hari berikutnya terasa seperti berjalan di dalam kabut. Aku tetap pergi ke sumur, menimba air, mencuci pakaian, bertukar cerita kecil dengan tetangga, tapi tubuhku seperti bergerak tanpa aku di dalamnya. Perutku mulai terasa aneh; kadang berdenyut, kadang bergerak halus seperti ada ikan kecil di bawah kulit. Aku tahu itu mustahil. Tapi rasa itu nyata. Sangat nyata.

Suatu sore, ketika aku sedang menumbuk bumbu untuk ikan masak pammarasan, ibu duduk di sampingku sambil mengikat rambutnya pelan.

“Kau dengar suara itu tiap malam?”

Tanganku terhenti.

“Iye. Tapi saya takut menyebutnya.”

Ibu menatapku lekat-lekat.

“Tak semua anak lahir lengkap, Lia. Ada yang hanya jadi napas. Ada yang kembali sebagai kulit. Ada pula yang lahir lewat tubuh lain.”

Aku ingin bertanya lebih jauh, tapi suara ketukan itu muncul lagi “tok… tok… tok…” kali ini dari bawah lantai kamar.

Seperti seseorang yang sedang belajar mengetuk pintu dunia.

Puncaknya terjadi pada malam badai. Angin menghantam dinding bambu seperti amarah. Lampu teplok bergoyang hebat, bayang-bayang menari liar di dinding. Suara tangis bayi terdengar begitu jelas, seperti sedang berada di dalam rumah; berjalan, merangkak, mencari.

Aku bangun, tubuhku dingin. Daeng Mangemba berdiri di ambang pintu dapur, memegang parang tapi tangannya gemetar. Dari arah tungku, kulihat ular putih kecil, bersisik lembut seperti kulit bayi, merayap pelan menuju kami. Di belakangnya, tali pusar itu jatuh ke tanah dengan bunyi lirih, seolah sesuatu baru selesai diputuskan.

Ibu muncul dari kamar dengan wajah pucat, rambut terurai seperti akar pohon basah.

“Anak itu kembali. Dia menagih hidupnya.”

Ular itu menghampiriku. Aku mencoba mundur, tapi kakiku terasa menancap ke tanah. Dunia menjadi sunyi seperti rahim. Suara badai memudar, berganti dengan suara detak halus di dalam tubuhku.

Ular itu masuk melalui lipatan sarungku.

Aku terjatuh. Tubuhku kejang, tapi bukan karena sakit, melainkan karena sesuatu di dalamku sedang merebut tempat yang dulu pernah kosong.

Ketika aku bangun, rumah penuh manusia. Warga berdiri mengelilingi kasur kapukku, wajah pucat, mulut menahan doa. Perutku kini membesar seperti seorang ibu tujuh bulan hamil hanya dalam hitungan jam.

Sitti Bunga dipanggil. Ia datang membawa dupa, kelapa hijau, dan daun sirih.

“Lia, bersiaplah. Yang akan lahir… bukan manusia.”

Menjelang subuh, ketika adzan terdengar seperti suara jauh dari dunia lain, tubuhku mulai membuka jalan. Tak ada rasa sakit—hanya sensasi pasrah yang dalam, seperti tanah menerima hujan pertama musim kemarau. Perempuan-perempuan desa memegangi tubuhku, sementara suamiku berdiri gemetar dekat pintu, seperti seseorang yang tak tahu harus menunggu kelahiran atau kematian.

Yang keluar dari tubuhku bukan bayi.

Melainkan kulit ular putih; panjang, licin, mengkilap basah, seperti selubung kehidupan yang tersesat. Tidak ada darah. Tidak ada tangis. Hanya kulit yang terurai dari rahimku seperti cerita yang akhirnya selesai ditulis.

Perempuan-perempuan desa mundur dan menangis. Sitti Bunga mengangkat kulit itu, menggantungnya di paku dapur. Kulit tipis tersebut menari pelan diterpa angin dinihari, mengeluarkan bayangan panjang seperti tubuh bayi yang belum lengkap.

Suamiku jatuh berlutut. Air matanya berlinang untuk pertama kali sejak kematian anak kami.

“Maafkan saya, Lia. Saya yang menolak memakamkannya dengan benar. Saya yang membiarkannya kembali dalam bentuk lain.”

Aku memandangnya lama, tapi tidak menemukan kemarahan, hanya kehampaan yang tenang.

Beberapa hari setelah peristiwa itu, warga melihat ular putih kecil merayap keluar dari desa, menuju bukit seperti mencari rumah baru. Tak ada yang berani menangkapnya. Tak ada yang berniat mengusir. Karena mereka tahu:

Ada kelahiran yang bukan milik manusia.
Ada anak yang tidak tumbuh dari rahim, tetapi dari janji yang tertunda.

Aku kini tidur lebih tenang, meski kadang, di tengah malam yang sunyi, aku masih merasakan gerakan kecil di bawah kulit perutku. Sangat halus. Seperti salam.

Mungkin tanda bahwa ia belum pergi sepenuhnya.

Mungkin ia hanya menunggu giliran untuk lahir kembali.

Dengan cara lain.

 

Fajri Sunaryo, Jurnalis Akurasi.id

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Menu Vertikal
Menu Sederhana
#printfriendly .related-sec { display: none !important; } .related-sec { display: none !important; } .elementor-2760 .elementor-element.elementor-element-0f8b039 { --display: none !important; } .elementor-2760 { display: none !important; }