Kami tinggal di perkampungan pesisir yang tidak benar-benar bisa disebut kampung nelayan, tapi juga terlalu berantakan untuk disebut kawasan kota. Rumah-rumah berdiri rapat dengan punggung menghadap laut, seolah air asin dan bau ganggang itu sesuatu yang sebisa mungkin kami hindari, meski setiap hari hidup kami bergantung padanya. Gang-gang sempit mengular di antara rumah papan dan tembok setengah jadi, berakhir di bibir pantai yang dipenuhi perahu kecil, jaring robek, dan papan iklan proyek yang tak pernah benar-benar berjalan.
Di sini, orang-orang hidup dengan kebiasaan masing-masing. Kami saling kenal, tentu saja, terlalu sempit wilayah ini untuk tidak saling mengenal, tetapi itu tidak berarti kami saling dekat. Kami tahu nama, pekerjaan, dan satu-dua gosip penting. Selebihnya, masing-masing mengurus hidupnya sendiri.
Kalau ada konflik, biasanya kecil dan cepat membesar. Soal batas tanah, soal parkir motor di gang, soal suara musik terlalu keras saat malam. Kami mudah tersinggung, tapi juga cepat lupa, asalkan tidak menyentuh urusan perut atau harga diri. Perkelahian jarang berujung panjang; besoknya orang-orang tetap berpapasan di warung kopi, berpura-pura tidak terjadi apa-apa.
Pos ronda berdiri di sudut kampung, menghadap laut, dengan bangku kayu panjang yang catnya sudah mengelupas. Jadwal ronda tertulis rapi di papan tripleks, tapi jarang benar-benar dipatuhi. Biasanya hanya satu-dua orang yang datang, duduk sebentar, lalu pulang sebelum tengah malam. Kami tahu itu salah, tapi juga tahu tak ada yang benar-benar peduli.
Masjid kecil di ujung gang dekat pantai menjadi penanda waktu. Azan terdengar bercampur suara ombak dan mesin kapal. Kami datang untuk salat, tapi jarang untuk tinggal. Selesai salat, kami pulang. Tidak banyak sapa, tidak banyak obrolan. Masjid bukan tempat bersosialisasi, hanya tempat singgah kewajiban.
Baca Juga
Begitulah keadaan kami sebelum lelaki tua itu datang.
Kami pertama kali melihatnya duduk di bangku pos ronda suatu sore. Badannya kecil, kurus, dengan punggung sedikit membungkuk. Rambutnya putih seluruhnya, tapi dipotong pendek rapi. Ia mengenakan kemeja lengan panjang yang warnanya sulit ditebak, antara cokelat, abu-abu, atau mungkin putih yang terlalu lama terkena matahari.
Ia tidak melakukan apa-apa yang mencolok. Hanya duduk, memandang laut, sesekali mengusap lututnya yang tampak sering sakit. Tidak membawa barang, tidak bertanya apa pun. Kami mengira ia hanya singgah, mungkin menunggu seseorang, atau sekadar orang tua yang suka duduk di luar rumah.
Baca Juga
Ternyata ia datang lagi keesokan harinya. Dan lusa. Dan hari-hari setelahnya.
Kami mulai memperhatikannya karena satu hal sederhana: ia selalu duduk paling akhir. Jika ada orang di pos ronda, ia memilih bangku yang paling ujung, dekat tiang, seolah tak ingin mengganggu ruang siapa pun. Kalau bangku penuh, ia berdiri sebentar, lalu pergi tanpa protes.
Ia tidak pernah ikut mengeluh, tidak ikut tertawa keras, tidak ikut membicarakan orang lain. Ia hanya mendengar. Kadang mengangguk, kadang tersenyum tipis.
Kami tidak tahu namanya pada awalnya. Tidak ada yang merasa perlu bertanya.
Di kampung seperti kami, orang baru biasanya menyesuaikan diri dengan cepat atau segera tersingkir dengan sendirinya. Lelaki tua itu tidak melakukan keduanya. Ia ada, tapi seperti bayangan. Tidak mengganggu, tapi juga tidak larut.
Perubahan kecil pertama kami sadari di masjid.
Baca Juga
Suatu sore, setelah salat Magrib, kami melihat lelaki tua itu masih duduk di saf paling belakang. Ia tidak langsung pulang. Ia membuka tas kain kecil, tas yang entah sejak kapan selalu ia bawa, ia kemudian mengeluarkan sapu lidi. Tanpa berkata apa-apa, ia mulai menyapu lantai masjid yang sebenarnya tidak terlalu kotor.
Kami mengira ia sedang mencari perhatian. Tapi ia menyapu pelan, hampir seperti ritual pribadi. Setelah selesai, ia melipat sapu dan meletakkannya di sudut, lalu duduk lagi, menunggu Isya.
Besoknya, lantai masjid tampak lebih bersih. Lusa, sajadah-sajadah disusun lebih rapi. Minggu berikutnya, rak sandal yang biasanya berantakan mulai tertata.
Tidak ada pengumuman. Tidak ada rapat warga. Tidak ada penunjukan resmi.
Ia melakukannya sendiri.
Kami mulai merasa tidak enak. Bukan karena terganggu, tapi karena merasa bersalah. Masjid itu milik bersama, tapi selama ini kami menyerahkan perawatannya pada siapa pun yang mau. Dan sekarang, seorang lelaki tua yang entah siapa mengambil alih tugas itu tanpa diminta.
Suatu malam, seorang dari kami menyapanya.
“Daeng, rumahnya di mana?”
Ia tersenyum, agak kaget, seolah tidak menyangka ada yang berbicara padanya.
“Di ujung sana,” katanya sambil menunjuk arah rumah-rumah paling dekat pantai. “Numpang.”
“Numpang siapa, Daeng?”
“Anak orang,” jawabnya ringan.
Kami mengangguk, seolah itu jawaban yang cukup.
Sejak saat itu, kami mulai menyapanya lebih sering. Namanya Daeng Rannu, begitu kami dengar belakangan, dan panggilan itu terasa pas—tidak terlalu dekat, tidak terlalu jauh.
Anak-anak mulai memperhatikannya juga. Awalnya hanya karena penasaran: kenapa ada kakek yang selalu duduk di masjid sampai malam. Lalu karena ia membawa permen di tas kainnya. Permen biasa, murah, tapi dibagikan dengan cara yang membuat anak-anak merasa dipilih, bukan diberi.
“Ambil satu saja,” kata Daeng Rannu pelan. “Bagi yang lain.”
Anak-anak tertawa, tapi menuruti.
Pelan-pelan, masjid menjadi sedikit lebih ramai. Bukan karena ceramah atau kegiatan resmi, tapi karena ada alasan untuk tinggal lebih lama. Daeng Rannu tidak pernah mengajar apa pun secara formal, tapi kalau anak-anak bertanya, ia menjawab dengan cerita.
Tentang laut yang bisa berubah dalam hitungan menit. Tentang kapal yang karam bukan karena badai, tapi karena kesombongan nakhodanya. Tentang orang-orang yang selamat bukan karena kuat, tapi karena mau mendengar.
Kami mendengarnya sambil lalu. Tidak merasa sedang diajari, tapi entah kenapa merasa terlibat.
Perubahan kecil juga terjadi di pos ronda.
Daeng Rannu mulai datang lebih malam. Duduk hingga lewat tengah malam, meski sendirian. Kami yang pulang larut mulai merasa aneh kalau pos ronda kosong. Kalau ia tidak ada, kami duduk sebentar. Kalau ia ada, kami menemani lebih lama.
Tidak ada instruksi. Tidak ada ajakan.
Hanya rasa tidak enak kalau meninggalkan orang tua sendirian.
Warung kopi di ujung gang ikut berubah. Obrolan yang biasanya penuh keluhan mulai diselingi tawa kecil. Seseorang mulai membawa gorengan untuk dibagi. Yang lain ikut menyusul. Tidak ada yang merasa itu kewajiban, tapi juga tidak ingin jadi satu-satunya yang datang dengan tangan kosong.
Kami mulai menyadari sesuatu sedang bergerak, tapi tidak tahu harus menyebutnya apa.
Kami baru tahu kisahnya beberapa bulan kemudian, dari seorang ibu yang rumahnya dekat pantai.
“Namanya Daeng Rannu,” katanya. “Dulu nelayan.”
“Dulu?” tanya kami.
“Iya. Sudah lama berhenti.”
Tidak ada penjelasan lebih lanjut.
Kami menganggap itu cukup.
Twist kecil datang tanpa pengumuman, seperti semua hal lain yang ia lakukan.
Suatu pagi, seorang pemuda dari kampung kami terlibat perkelahian di luar wilayah. Bukan hal baru. Biasanya kami akan bersiap menghadapi balasan. Suasana tegang, obrolan dipenuhi spekulasi.
Malamnya, kami melihat Daeng Rannu duduk di pos ronda, lebih awal dari biasanya. Ia tidak menyapu, tidak bercerita. Ia hanya duduk.
Kami mendekat, duduk di sampingnya.
“Daeng,” kata salah satu dari kami, “kalau dulu di laut, kalau ada kapal hampir tabrakan, apa yang dilakukan?”
Ia terdiam lama sebelum menjawab.
“Yang paling keras klaksonnya bukan selalu yang selamat,” kata Daeng Rannu. “Biasanya yang mau belok duluan.”
Kami tidak langsung paham maksudnya. Tapi malam itu, tidak ada yang keluar kampung membawa senjata.
Besoknya, masalah selesai dengan sendirinya.
Beberapa hari kemudian, kami mendengar cerita dari seorang tetangga lama yang baru kembali ke kampung.
Daeng Rannu bukan orang sembarangan. Ia dulu ketua kelompok nelayan. Pernah memimpin perlawanan saat wilayah tangkap mereka diambil paksa. Pernah berdiri paling depan. Pernah berteriak paling keras. Pernah kehilangan banyak hal karena itu.
Termasuk keluarganya.
Ia tidak pernah bercerita itu pada kami. Tidak pernah.
Kami hanya melihat Daeng Rannu sebagai lelaki tua yang duduk paling akhir, menyapu lantai, membagi permen, dan menjaga malam.
Dan mungkin, justru karena itulah kampung ini berubah. Bukan karena ada jenderal. Bukan karena ada pemimpin.
Tapi karena ada seseorang yang akhirnya memilih duduk, bukan berdiri berteriak.
Dan kami, entah sejak kapan, ikut duduk bersamanya.
Fajri Sunaryo, Jurnalis Akurasi.id