Sejak beberapa waktu terakhir, aku sering merasa bahwa rumah ini, yang dulu terasa begitu luas dan bersahabat, perlahan mengecil seperti plastik pembungkus yang terkena panas, merapat pada tubuhku hingga aku sulit bernapas. Semua benda tampak sama seperti sebelumnya—kursi rotan tempat suamiku biasa duduk, dapur dengan meja yang sedikit tergores, pintu kamar yang selalu berdecit pelan ketika dibuka—tetapi entah bagaimana, setiap sudut kini memantulkan diriku yang tampak semakin redup, seperti bayangan yang tidak lagi memiliki tubuh untuk ditumpangi.
***
Setiap pagi, rutinitas dimulai dengan cara yang nyaris dapat kuhitung detiknya. Suamiku duduk di kursinya, dan aroma minyak rambutnya yang dulu kukenal sebagai penanda kehadiran, kini lebih seperti tambalan wangi yang berusaha menutupi sesuatu yang tak ingin ia ceritakan. Ia meraih tas kerjanya, dan suara resleting yang ditarik ke atas itu selalu terdengar lebih keras daripada suara apa pun di rumah ini; seperti garis yang membelah antara apa yang ingin kukatakan dan apa yang akhirnya hanya kusimpan di dada.
“Pulang makan malam, ya?” tanyaku suatu pagi, suaraku nyaris kalah oleh suara sendok yang kugerakkan di atas wajan.
“Iya,” jawabnya singkat, tanpa menoleh, seolah kata itu cukup untuk menutup pembicaraan dan hari sekaligus.
Di dapur, tekstur meja dingin yang kusentuh sering membuatku sadar betapa jarang aku merasakan hangat yang bukan berasal dari api kompor atau uap nasi. Aku menghabiskan begitu banyak waktu di sini, hingga suara panci pun terdengar seperti dialek baru yang lebih kupahami ketimbang diriku sendiri. Anak-anak lewat dengan langkah tergesa, membawa bekal dan ransel yang lebih berat daripada percakapan yang pernah kami punya.
“Ma, nanti aku pulang agak sore,” kata anakku yang sulung, matanya hanya singgah sebentar sebelum kembali berlari kecil. Kadang aku merasa mereka melihatku hanya sebagai penyangga pagi, bukan seseorang yang juga memiliki dunia di balik apron dan wangi bawang goreng.
Belakangan ini, suamiku sering pulang larut. Ada aroma samar yang menempel di bagian kerah bajunya—sejenis wangi bunga yang terlalu lembut, terlalu asing, terlalu… baru. Aku mencoba mengatakan pada diriku sendiri bahwa itu hanya wangi kantor, wangi lift, wangi seseorang yang berdiri terlalu dekat tanpa sengaja. Tapi pikiran kecil seperti tetesan air dari keran bocor itu lama-lama membentuk genangan gelap di lantai batinku.
Di malam-malam tertentu, ketika rumah sunyi dan hanya jam dinding yang berdetak perlahan, aku teringat pada ayahku yang pergi. Pergi begitu saja, tanpa sepatah penjelasan, meninggalkan ibu berdiri dengan air mendidih yang tiba-tiba luapannya terhenti, seperti lupa cara melanjutkan hidup. Setiap kali suamiku pulang lebih larut dari biasanya, bayangan itu muncul kembali, seolah masa lalu sengaja menempel di pundakku seperti debu yang tak bisa diseka.
Suatu malam, ketika kudengar pintu depan terbuka, aku sedang duduk di dapur, memegang cangkir hangat yang sudah setengah dingin. Ia masuk dengan langkah pelan dan sekilas menatapku, tatapan yang cepat padam seperti lampu yang nyaris putus.
“Kamu belum tidur?” katanya. Sederhana, tapi terasa seperti kalimat yang ia lemparkan dari ruangan yang berbeda.
“Enggak. Nunggu kamu,” jawabku. Suaraku terdengar lebih rapuh daripada yang kurasakan.
Ia hanya mengangguk dan melepas sepatunya. Aku memperhatikan gerakannya: pelan, terukur, tetapi tanpa kehangatan. Ketika kusodorkan segelas air, ia menerimanya tanpa menyentuh jemariku, hanya udara tipis yang lewat di antara kami. Mungkin orang lain tak akan melihat apa pun dari gestur itu, tapi bagiku, itu lebih keras daripada pintu yang dibanting.
Di momen itu, aku sadar: jarak tidak selalu muncul dari pertengkaran, tetapi dari garis-garis sunyi yang muncul setiap hari, dari tatapan yang makin singkat, dari aroma tubuh yang berubah, dari pintu yang dibuka terlalu hati-hati. Dan malam itu, ketika ia menyeruput air tanpa menatapku, aku merasakan sesuatu dalam diriku bergerak menjauh, tanpa suara, tanpa kata, seperti langkah ayah yang dulu menghilang di tikungan jalan.
Setelah ia selesai minum, suamiku meletakkan gelas di meja dengan hati-hati, seolah takut meninggalkan jejak jari yang dapat kutafsirkan sebagai sesuatu yang lebih besar. Ia lalu melangkah menuju kamar, dan aku mengikuti langkahnya dengan tatapan yang terasa seperti kain lap yang terlalu sering diusap—melebar tetapi kehilangan kemampuan menyerap apa pun.
Di belakangnya, punggung itu terlihat asing, lebih seperti punggung seseorang yang kebetulan tinggal di rumah yang sama, bukan milik laki-laki yang dulu kucintai dengan yakin dan tanpa syarat. Ia membuka pintu kamar, dan suara engsel yang berdecit seperti menggores bagian dalam kepalaku, mengingatkanku pada pintu rumah masa kecilku yang dibuka ayah pada malam ia tidak kembali. Suara yang sama, nada yang sama, hanya rumah yang berbeda.
Aku berdiri di lorong beberapa detik, membiarkan kesunyian mengisi sela-sela tubuhku. Kadang aku merasa rumah ini berbicara lebih jujur daripada suamiku: kursi yang tak lagi diduduki bersisian, seprai yang dinginnya bertahan lebih lama di sisi ranjangku, dan jaketnya yang menggantung dengan wangi yang tidak kukenali.
“Aku mandi dulu,” katanya, tanpa menoleh, suaranya datar bagai seseorang yang membaca pembacaan acara formal.
Aku hanya menjawab, “Iya,” dengan suara pelan yang langsung menyatu dengan bunyi langkahnya.
Setelah ia menghilang di balik pintu kamar mandi, aku duduk di ujung ranjang. Mataku terpaku pada lipatan kecil di ujung selimut, lipatan yang biasanya kuluruskan sebelum tidur, kebiasaan bodoh yang bertahun-tahun kulakukan tanpa pernah bertanya untuk siapa sebenarnya semua itu. Untuknya? Untuk rumah ini? Atau untuk keyakinan lama bahwa ketertiban adalah cara menjaga seseorang agar tetap tinggal?
Di sela suara air dari kamar mandi, pikiranku berputar pada pernikahan ini—lebih panjang dari koridor rumah, lebih kusut daripada lampu hias yang kusimpan di gudang. Aku teringat masa ketika kami berdua masih mengenakan pakaian murah dan makan di warung kecil, bagaimana kami tertawa karena sendoknya penyok atau karena teh manisnya terlalu encer. Aku teringat diriku sendiri yang dulu—yang dulu tidak takut kehilangan siapa pun karena merasa memiliki diriku sendiri sepenuhnya.
Kini, aku tidak tahu kapan tepatnya aku hilang. Mungkin saat aku mulai mengukur cintanya dari frekuensi ia pulang tepat waktu. Mungkin saat aku menyerahkan gaji pertamaku setelah menikah dan ia berkata, “Buat apa kamu kerja? Istirahat saja di rumah.” Atau mungkin saat aku meyakinkan diriku sendiri bahwa menjadi istri yang baik berarti membuat diriku sekecil mungkin agar ia punya ruang lebih besar untuk beristirahat.
Air dari kamar mandi berhenti. Suamiku keluar dengan rambut basah, dan aroma sabun bunga yang sama kembali memenuhi udara. Ia lewat di depanku, dan aku hanya mengikutinya dengan mata. Tidak ada tatapan, tidak ada tanya, tidak ada usaha untuk mendekat. Hanya dua tubuh yang berada di ruangan yang sama, tapi berada di cerita yang berbeda.
“Kita tidur?” katanya sambil menepuk bantalnya.
Aku mengangguk, meski tubuhku tidak bergerak. “Kamu duluan saja.”
Ia mematikan lampu meja dan berbaring. Ruangan gelap, tetapi aku bisa melihat siluetnya yang diam—diam dengan cara yang membuat jarak terasa seperti tembok tipis yang tidak bisa kutembus.
Aku duduk di tepi ranjang cukup lama, menunggu napasnya menjadi lebih teratur. Ketika ia akhirnya tertidur, aku bangkit perlahan dan berjalan menuju dapur. Di sana, lampu putih membuat semua benda terlihat lebih jujur: cangkir, piring, botol sabun, lap kain.
Aku meraih lap kain itu, yang kusentuh kerasnya sepanjang hari. Biasanya, sebelum tidur, aku selalu menggantungnya rapi, kulipat dua, kusamakan panjang sisinya, seolah ketertiban kecil itu bisa menahan apa pun dari kerusakan. Tapi malam ini, aku menggantungnya begitu saja, miring, setengah terlipat, tanpa peduli bentuknya.
Untuk orang lain, itu mungkin bukan apa-apa.
Tapi untukku, itu adalah tanda pertama bahwa aku tidak akan lagi menghabiskan hidupku untuk meluruskan hal-hal yang tidak pernah benar-benar ditujukan untukku.
Lap yang tergantung miring itu bukan sekadar kain. Ia adalah titik kecil. Kecil tapi tegas. Bahwa aku akhirnya kembali melihat diriku.
Fajri Sunaryo, Jurnalis Akurasi.id