Lebaran Tanpa Suara Itu

Lebaran tahun ini tak lagi sama bagi Nara. Di rumah yang kini sunyi, ia menemukan jejak cinta ibunya dalam hal-hal kecil yang dulu tak pernah ia pahami. Dari daftar belanja hingga kue kering yang sederhana, semua menyimpan perasaan yang tak pernah diucapkan—hingga akhirnya menyadarkan bahwa kehilangan kadang datang bersama pengertian yang terlambat.
Devi Nila Sari
6.2k Views

Langit sore menjelang lebaran itu berwarna pucat, seperti kain yang terlalu sering dicuci hingga kehilangan warna aslinya. Di halaman rumah, angin menggeser daun-daun kering dengan suara lirih, seolah berbisik tentang sesuatu yang telah lewat dan tak bisa kembali.

Nara berdiri di ambang pintu, kunci rumah masih menggantung di jemarinya. Sudah tiga bulan sejak rumah itu terakhir dihuni, sejak suara yang paling dikenalnya tak lagi terdengar di dalamnya.

Ia mendorong pintu perlahan.

Bau khas rumah lama segera menyambutnya—campuran kayu lembap, debu tipis, dan sesuatu yang lebih dalam, lebih personal, yang tak bisa ia namai tanpa menyebut satu kata: Ibu.

Langkahnya ragu, seperti takut mengganggu sesuatu yang tak kasatmata. Lantai berderit pelan di bawah kakinya, suara yang dulu selalu ditertawakan Ibu.

“Dengar, Nar, rumah ini ngomong kalau kamu jalan terlalu keras,” kata Ibu suatu sore, sambil menyapu.

Dulu Nara hanya mendengus. Kini, suara itu seperti menegur.

Ia menutup pintu di belakangnya. Rumah itu kembali hening. Terlalu hening.

 

Di ruang tamu, kursi rotan masih berada di tempatnya. Di atas meja kecil, taplak bunga yang mulai pudar terlipat rapi. Tidak ada yang berubah, seolah waktu di rumah ini berhenti pada hari ketika napas terakhir itu terlepas.

Nara menyentuh sandaran kursi.

Ia bisa membayangkan Ibu duduk di sana, punggung sedikit membungkuk, tangan sibuk mengupas bawang, atau melipat pakaian, atau sekadar diam memandang halaman.

Ibu selalu tampak sibuk, bahkan ketika tidak melakukan apa-apa.

Nara melangkah ke dapur.

Di sudut meja, sebuah toples plastik berisi kue kering masih tertutup rapat. Ia membuka tutupnya. Bau manis langsung menguar, bercampur dengan aroma tengik yang samar.

Nastarnya mengeras, warnanya kusam. Ia mengambil satu, menggigit sedikit, lalu berhenti. Rasanya tidak lagi sama.

Atau mungkin, pikirnya, yang berubah bukan kuenya.

Ingatan itu datang begitu saja.

Ibu di dapur, beberapa hari sebelum lebaran. Wajan panas, mentega mencair, suara sendok beradu dengan panci. Nara berdiri di pintu, memainkan ponselnya.

“Ibu, beli saja di luar. Lebih praktis.”

Ibu tidak menoleh. “Kalau semua bisa dibeli, buat apa orang belajar membuat?”

Nara tidak menjawab. Ia ingat merasa percakapan itu tidak penting.

Sekarang, ia berharap sempat menjawab dengan sesuatu yang lebih dari diam.

 

Ia membuka lemari dapur. Deretan stoples, sebagian kosong, sebagian masih berisi bahan-bahan yang tak lagi segar.

Di rak paling bawah, ia menemukan sebuah kotak plastik kecil. Di dalamnya, potongan kertas-kertas lusuh, beberapa bertuliskan daftar belanja.

Tulisan tangan Ibu.

Nara duduk di lantai, bersandar pada lemari, dan mulai membaca.

Gula 2 kg
Tepung terigu
Mentega
Telur
Daun pandan

Tulisan itu rapi, seperti selalu.

Di pojok kertas, ada tambahan kecil, hampir seperti catatan yang tidak ingin terlihat.

Nastarnya Nara suka lebih banyak selai.

Nara menahan napas.

Ia tidak ingat pernah mengatakan itu.

Atau mungkin, ia pernah mengatakannya sekali, bertahun-tahun lalu, dalam percakapan yang bahkan tak ia simpan dalam ingatan.

Namun Ibu menyimpannya.

Dalam kertas belanja.

Dalam sesuatu yang tampak sepele.

Malam mulai turun perlahan. Nara belum menyalakan lampu. Cahaya yang masuk dari jendela cukup untuk membuat bayangan-bayangan panjang di lantai.

Ia berjalan ke kamar.

Pintu itu sedikit terbuka. Ia mendorongnya pelan.

Kamar Ibu masih sama. Tempat tidur rapi, bantal tersusun, selimut terlipat. Di meja kecil, botol minyak kayu putih dan kacamata tua tergeletak berdampingan.

Nara duduk di tepi ranjang.

Tangannya menyentuh bantal.

Dingin.

Ia menutup mata.

Dan di sanalah Ibu muncul—tidak dalam wujud, tapi dalam rasa.

Ibu yang sering mengetuk pintunya pagi-pagi.

“Nara, sahur.”

Ibu yang berdiri di ambang pintu, menunggu ia pulang.

Ibu yang bertanya hal-hal kecil yang sering ia anggap remeh.

“Makan di luar lagi?”

“Kerjanya capek?”

“Kamu baik-baik saja?”

Pertanyaan-pertanyaan yang dulu terasa mengganggu, kini terasa seperti sesuatu yang tak tergantikan.

Nara membuka mata.

Ia melihat meja kecil di sudut kamar. Ada sebuah buku catatan bersampul cokelat.

Ia mengambilnya.

Halaman pertama kosong. Halaman kedua berisi tulisan tangan Ibu.

Catatan Harian Ramadan.

Nara menelan ludah.

Ia membuka halaman berikutnya.

Hari ke-1
Nara pulang telat. Tidak sahur. Besok harus dibangunkan lebih keras.

Hari ke-5
Nara tidak suka sayur ini. Jangan masak lagi.

Hari ke-12
Nara kelihatan capek. Mungkin terlalu banyak kerja.

Tulisan itu sederhana. Tidak ada kata-kata besar. Tidak ada ungkapan cinta.

Namun setiap kalimat terasa seperti sesuatu yang hidup.

Nara terus membuka halaman.

Hari ke-20
Nara bilang ingin libur lebaran ke luar kota. Tidak apa-apa. Yang penting dia senang.

Nara berhenti.

Ia ingat percakapan itu.

“Ibu, tahun ini aku mungkin tidak pulang. Ada rencana sama teman.”

Ibu hanya mengangguk. “Iya, tidak apa-apa.”

Tidak ada protes. Tidak ada larangan.

Nara mengira Ibu tidak peduli.

Ia melanjutkan membaca.

Hari ke-21
Rumah sepi nanti. Tapi tidak boleh egois. Anak itu punya hidupnya.

Tangan Nara mulai gemetar.

Ia membalik halaman lagi.

Hari ke-27
Bikin kue sedikit saja. Kalau Nara tidak pulang, siapa yang makan banyak?

Hari ke-29
Kalau Nara pulang mendadak, harus ada nastar. Dia suka.

Air mata jatuh tanpa suara.

Ia tidak menyadari kapan tepatnya.

 

Nara menutup buku itu perlahan.

Dadanya terasa penuh, seperti ada sesuatu yang selama ini tertahan, kini memaksa keluar.

Ia berdiri, berjalan ke jendela, lalu membukanya.

Angin malam masuk, membawa suara takbir dari kejauhan.

Lebaran.

Tanpa Ibu.

Ia bersandar di kusen jendela.

Selama ini, pikirnya, ia selalu merasa Ibu tidak pernah benar-benar mengerti dirinya. Terlalu banyak larangan, terlalu banyak diam, terlalu sedikit penjelasan.

Ia merasa sendirian bahkan ketika Ibu ada.

Namun sekarang, dari catatan-catatan kecil itu, ia melihat sesuatu yang berbeda.

Ibu tidak pernah tidak mengerti.

Ibu hanya memilih diam.

Menyimpan semuanya dalam bentuk yang tidak pernah ia perhatikan.

Dalam daftar belanja.

Dalam catatan harian.

Dalam makanan yang dibuat tanpa diminta.

Dalam pertanyaan-pertanyaan kecil yang sering ia abaikan.

Cinta itu tidak pernah hilang.

Hanya tidak pernah diucapkan dengan cara yang ia pahami.

Nara kembali ke dapur.

Ia membuka toples nastar lagi.

Mengambil satu.

Menggigitnya.

Rasanya masih sama.

Atau mungkin, kali ini, ia yang akhirnya bisa merasakannya.

Ia duduk di kursi, memandang meja kosong di depannya.

Untuk pertama kalinya sejak Ibu pergi, ia tidak merasa benar-benar sendiri.

Ada sesuatu yang tertinggal di rumah ini.

Bukan dalam bentuk suara.

Bukan dalam bentuk sosok.

Tapi dalam hal-hal kecil yang selama ini ia anggap tidak penting.

Nara menunduk.

Air matanya jatuh ke meja.

“Ibu…” suaranya nyaris tak terdengar.

Ia tidak tahu apakah kata itu sampai ke mana pun.

Namun untuk pertama kalinya, ia merasa tidak perlu jawaban.

Karena kini ia tahu, selama ini, Ibu tidak pernah benar-benar pergi.

Ia hanya berubah bentuk.

Menjadi sesuatu yang lebih sunyi.

Lebih sederhana.

Dan justru karena itu, lebih sulit untuk diabaikan.

 

Fajri Sunaryo, Jurnalis Akurasi.id

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Menu Vertikal
Menu Sederhana