Di kota pesisir, waktu menetes lambat, menahan seorang perempuan pada kenangan yang tak kunjung pulang.
Siang itu, kota pesisir bagai tungku yang dibakar matahari. Jalanan berkilat seperti sisik ikan yang dilempar ke bara, udara asin menyusup sampai ke paru-paru, meninggalkan rasa karat di lidah. Ombak di kejauhan bergerak lambat, seolah kelelahan, hanya menghela napas panjang sebelum kembali pecah di bibir dermaga.
Kafe kecil di sudut jalan pelabuhan berusaha bersembunyi dari teriknya siang dengan tirai biru tua yang bergoyang malas. Udara panas menempel di dindingnya seperti bayangan yang enggan pergi, bercampur dengan aroma kopi segar dan gula cair yang lengket di meja.
Di pojok ruangan, Nara duduk seorang diri. Usianya tiga puluh satu, tubuhnya sedikit gempal, wajahnya teduh namun menyimpan gurat yang tak bisa dihapus waktu. Gaun krem yang membalutnya tampak sederhana, tetapi mata siapa pun yang menatap lebih lama akan menangkap kesunyian yang menjelma pakaian kedua di tubuhnya.
Tangannya yang bulat namun lembut meraih gelas kopi dingin. Sedotan hijau menjulur miring, seperti batang ilalang yang pernah dipatahkan angin. Ia meneguknya perlahan, membiarkan cairan dingin itu mengalir, menghapus panas sesaat namun meninggalkan pahit yang menetap. Baginya, kopi adalah perahu kecil—membawanya berlayar ke ingatan yang tak pernah benar-benar padam.
Di luar, seekor burung merpati hinggap di kabel listrik, sayapnya berkilat abu-abu keperakan. Burung itu seperti pengintai, menatap ke dalam kafe dengan mata bulatnya yang basah. Nara memandanginya lama, merasa ada pesan yang dititipkan lewat bulu-bulunya yang bergetar. Ia tahu, burung itu hanya binatang biasa, tapi hatinya memilih percaya bahwa setiap kedatangannya adalah tanda—tanda dari sesuatu yang dulu hilang, sesuatu yang tak pernah kembali.
Sepuluh tahun telah lewat sejak rahimnya kehilangan denyut mungil yang pernah bersemayam di dalam. Saat itu, ia masih muda, penuh rencana dan janji, seperti laut yang tampak tenang di permukaan namun menyimpan badai di dalam. Keguguran itu meninggalkan ruang kosong di tubuhnya—ruang yang tak bisa diisi oleh makanan apa pun, meski ia mencoba.
Nara suka makan, selalu suka. Setiap suapan bagai tambalan kecil pada lubang besar dalam dirinya. Nasi yang mengepul hangat di piring, kue manis yang lembut di lidah, bahkan roti keju dingin di atas meja kafe hari ini—semuanya ia biarkan masuk, mengisi tubuhnya, meski tak pernah mengenyangkan hatinya.
Kadang ia merasa, tubuh gempalnya adalah monumen sunyi yang ia bangun sendiri, lapis demi lapis, sebagai peringatan atas sesuatu yang pernah hilang.
“Bu, mau tambah gula atau sirupnya?” suara barista menyapanya. Seorang lelaki muda, matanya ramah, membawa nampan kecil.
Nara menggeleng. “Tidak… sudah cukup.”
Ia ingin menutup percakapan, tapi mata barista itu menatapnya sejenak, seolah membaca sesuatu yang lebih dalam. Nara menunduk, tak ingin tatapan itu menyingkap apa yang ia sembunyikan.
Ia kembali meneguk kopi. Aneh, gelas itu seakan tak pernah benar-benar habis. Berkali-kali ia minum, cairan di dalamnya tetap saja bertahan, seolah menolak lenyap.
Seorang lelaki tua duduk di meja seberang, koran terlipat di tangannya. Rambutnya putih, bajunya sederhana, matanya jernih seperti laut di musim kemarau. Ia menatap Nara beberapa kali, lalu membuka percakapan:
“Sendirian, Mbak?”
Nara menoleh. “Iya,” jawabnya singkat.
“Kopi memang teman paling setia di siang panas seperti ini. Tak pernah habis kalau kita masih menyimpan cerita.”
Kata-kata itu menusuknya. Bagaimana mungkin lelaki asing itu menebak isi hatinya? Ia balas bertanya dengan nada datar, “Cerita apa yang Bapak maksud?”
“Cerita yang disimpan terlalu lama,” jawab lelaki itu, sebelum ia bangkit, melipat korannya, dan pergi begitu saja.
Nara menatap pintu yang tertutup perlahan di belakang lelaki itu. Rasanya seperti mendengar kunci diketuk di dalam kepalanya.
Jarum jam di dinding berdetak pelan, seolah setiap detik adalah tetes air yang jatuh ke batu karang. Nara memejamkan mata, mendengar gema masa lalu: suara tangisan bayi yang tak pernah terdengar, buaian kayu yang tak pernah sempat digoyangkan, nama yang tak pernah sempat dipilih.
Ia berbisik lirih, “Waktu bukan penyembuh. Ia hanya perpanjangan luka dengan wajah yang berbeda.”
Di seberang jalan, sebuah pohon meranti berdiri gagah. Daunnya bergetar diterpa angin laut, cabangnya menjulang menantang cahaya. Pohon itu seperti peringatan—bahwa ada yang bisa bertahan meski diterpa musim, meski diguncang badai. Nara menatapnya lama, berharap dirinya seteguh itu, meski ia tahu, setiap kali kenangan datang, tubuhnya selalu retak.
Seorang remaja perempuan masuk ke kafe. Rambutnya dikepang dua, tas besar penuh buku di punggungnya. Ia tersenyum pada Nara sebelum memesan minuman. Senyum itu sederhana, tapi bagi Nara, senyum itu seperti pisau halus yang menyayat hati.
Seandainya anakku lahir… mungkin ia seusia gadis itu sekarang.
Air matanya nyaris jatuh, tapi ia buru-buru meneguk kopi. Cairannya dingin, pahit, meninggalkan rasa logam di tenggorokan. Ia menggenggam gelas erat-erat, seperti menggenggam sesuatu yang tak boleh hilang lagi.
“Bu, sebentar lagi jam dua. Kalau mau pesan lagi, saya bisa buatin,” suara barista kembali memanggilnya.
Nara menoleh. “Tidak… cukup yang ini.” Ia mengangkat gelas, memperlihatkan cairan yang masih setengah.
Barista mengernyit. “Tadi saya lihat Ibu sudah sering minum. Kok masih…” Ucapannya terhenti, ragu.
Nara tersenyum samar. “Kopi ini memang tak pernah habis.”
Barista tertawa kecil, menganggapnya lelucon. Tapi bagi Nara, itu bukan lelucon. Itu adalah kebenaran yang hanya ia pahami.
Di luar, langit siang bergeser. Cahaya menyilaukan perlahan menjadi temaram, padahal jarum jam masih menunjuk pukul dua. Burung-burung merpati terbang berputar di atas atap, sebelum bertengger bersama di tiang lampu. Pohon meranti tetap berdiri, menatap laut yang berkilat bagai kaca retak.
Nara menatap gelasnya. Cairan kopi bergoyang, memantulkan bayangan wajahnya yang letih. Ia tahu, penantian adalah cara lain dari kesetiaan. Dan kesetiaan, meski tak berbalas, tetap harus dipelihara, seperti api kecil yang ditiup angin tetapi tak dibiarkan padam.
Tangannya bergerak, meraih gelas itu sekali lagi. Bibirnya menyentuh sedotan, ia meneguk habis, sampai tak tersisa.
Namun saat ia meletakkan kembali, gelas itu tetap penuh.
Nara menatapnya, lama, seolah di dasar gelas itu bersemayam rahasia yang menolak terucap.
Di luar, merpati kembali terbang, mengepakkan sayapnya ke arah laut yang berkilau.
Dan waktu, sekali lagi, berhenti menetes.
Penulis: Fajri Sunaryo