Pukul delapan pagi, lorong sempit di Kampung Maccini masih lengang. Bau air got bercampur sisa nasi basi dari dapur-dapur belakang rumah mengendap di udara. Di ujung lorong, rumah petak berdinding papan itu tertutup rapat. Tak ada suara radio, tak ada denting sendok, tak ada sapaan pagi seperti biasanya. Hanya kain merah putih yang tergantung miring di depan rumah, terpasang sejak tiga hari lalu, mengikuti imbauan kelurahan.
Di dalam rumah itu, Bahar masih duduk di bangku kayu, punggungnya menyandar ke dinding yang catnya mengelupas. Kaosnya lembap oleh keringat lama, bercampur bau minyak rambut murah yang sejak dulu selalu ia pakai agar terlihat rapi saat membuka warung. Bau itu kini terasa asam, seperti sesuatu yang tertinggal terlalu lama di ruang tertutup.
Di lantai, amplop cokelat dari bank tergeletak bersama beberapa lembar fotokopi KTP dan sertifikat rumah. Sudut-sudut kertasnya mulai melengkung karena lembap. Bahar belum membereskan apa pun sejak semalam.
Ia mengingat betul ketika rumah ini pertama kali ditempatinya. Dindingnya dulu masih utuh, kayunya belum lapuk. Di halaman kecil depan rumah, istrinya menanam bunga kertas. “Biar kalau sore ada warna,” katanya waktu itu. Bahar hanya mengangguk sambil menghitung uang hasil dagang hari itu. Ia selalu menghitung, selalu merasa cukup selama bisa menghitung.
Warung makannya pernah ramai. Spanduk bertuliskan Coto Bahar Daeng Sila tergantung besar di depan ruko sewaan di Jalan Urip Sumoharjo. Setiap pagi, uap kuah panas naik dari panci besar, memenuhi udara dengan bau rempah dan daging rebus. Pelanggan datang silih berganti, seperti sopir pete-pete, pegawai kantor, kadang pejabat kecamatan. Mereka memanggil namanya dengan akrab.
“Daeng, tambah jeruk nipisnya.”
“Iyye.”
Bahar senang pada hal-hal yang bisa dipegang, seperti panci berat, pisau tajam, uang kertas yang bisa dihitung. Ia percaya kerja keras punya bentuk yang nyata.
Pandemi datang tanpa suara. Pertama hanya sepi, lalu tutup lebih cepat. Setelah itu, spanduk diturunkan, panci disimpan, dan pisau mulai tumpul karena jarang dipakai. Hutang bahan baku menumpuk. Tabungan terkuras pelan-pelan, seperti air bocor dari pipa kecil yang dibiarkan terlalu lama.
“Sebentar ini,” katanya pada Sitti, istrinya, tiap kali dia bertanya soal uang. “Nanti juga normal.”
Normal tak pernah datang kembali.
Pegawai bank menelepon hampir setiap minggu. Suaranya selalu sama, sopan dan datar.
“Pak Bahar, kami mengingatkan kembali terkait angsuran yang tertunda.”
“Iyye, saya tahu.”
“Kami harap ada itikad baik.”
Telepon ditutup. Bahar duduk lama menatap layar yang gelap. Ia merasa seperti ditahan oleh sesuatu yang tidak terlihat, sesuatu yang pelan-pelan menekan dadanya tanpa perlu teriak.
Sitti mulai sering diam. Ia tak lagi bertanya, tapi diamnya lebih berat dari pertanyaan mana pun. Di malam hari, mereka tidur dengan punggung saling membelakangi. Anak mereka, Ilham, kadang terbangun dan bertanya kenapa lampu sering mati.
“Biar irit,” jawab Bahar pendek.
Ia tahu itu bohong, tapi tak ada kata lain yang lebih mudah diucapkan.
Suatu sore, Sitti pulang terlambat. Katanya bertemu Daeng Rudi, teman lama mereka yang kini bekerja di kantor pemerintahan. Ia membawa kabar bahwa ada lowongan kerja kecil-kecilan, mungkin bisa membantu.
“Kenapa harus ketemu dia?” tanya Bahar.
“Dia cuma mau bantu.”
Bahar tak menjawab. Ia merasa kecil. Rudi dulu sering makan di warungnya dengan harga potongan. Sekarang namanya muncul sebagai penolong.
Malam itu, Bahar terbangun oleh suara resleting tas. Ia membuka mata sedikit. Sitti berdiri, membelakanginya, merapikan sesuatu.
“Mau ke mana?” tanya Bahar.
“Besok pagi ke rumah Rudi lagi,” jawabnya, tanpa menoleh. “Bicarakan soal kerja.”
Tak ada teriak, tak ada piring pecah. Hanya suara kipas angin yang berdecit dan dengungan jauh motor lewat di jalan besar.
Hari-hari berikutnya berjalan seperti biasa, tapi terasa lain. Sitti sering tersenyum pada layar ponselnya. Ilham bercerita tentang rencana lomba tujuhbelasan di sekolah. Di luar rumah, warga sibuk memasang umbul-umbul. Dunia terlihat bergerak maju, serempak, tanpa menunggu Bahar.
Surat dari bank datang lagi. Kali ini lebih tebal.
“Maaf, Pak,” kata petugas saat Bahar datang ke kantor. “Kalau sampai akhir bulan belum ada pembayaran, kami harus proses jaminan.”
“Ada jalan lain?” tanya Bahar.
Petugas itu menggeleng halus. “Sesuai prosedur.”
Di perjalanan pulang, Bahar membeli tali tambang di toko bangunan. Penjaganya tak bertanya banyak. Tali itu digulung rapi, seratnya kasar di telapak tangan Bahar. Ia teringat lomba tarik tambang bertahun-tahun lalu, saat Sitti berdiri di pinggir lapangan sambil berteriak menyemangatinya. Ia menang waktu itu, dan merasa kuat.
Malam sebelum kejadian, rumah itu sunyi. Ilham menginap di rumah neneknya. Sitti tidak pulang. Di luar, musik dangdut dari rumah tetangga terdengar samar. Bahar duduk sendiri di ruang tengah, menatap foto keluarga yang digantung miring.
Ia tidak menulis pesan apa pun. Tidak ada yang terasa perlu dijelaskan.
Pagi harinya, matahari naik seperti biasa. Anak-anak berlari membawa bendera kecil. Di rumah Bahar, bau mulai berubah. Dua hari kemudian, pintu didobrak oleh ketua RT.
Tubuh Bahar sudah kaku. Tali masih menggantung di balok kayu langit-langit. Debu menempel di kakinya. Lalat berdengung pelan.
Warga berdiri di depan rumah, sebagian menutup hidung, sebagian menatap kosong. Seseorang berbisik tentang hutang. Seseorang lain bicara soal ekonomi.
Bendera merah putih di depan rumah tetap berkibar pelan, tersapu angin pagi.
Tak ada yang benar-benar berhenti karena kematian Bahar. Upacara tujuhbelasan tetap digelar. Musik tetap diputar. Dunia, seperti biasa, menemukan cara untuk melanjutkan dirinya sendiri.
Dan Barangkali memang begitu cara kemerdekaan bekerja: ia berjalan terus, bahkan ketika seseorang memilih berhenti di tengah jalan.
Fajri Sunaryo, Jurnalis Akurasi.id