Angin dari sungai datang seperti napas orang tua—basah, berat, dan membawa bau lumpur yang tak pernah benar-benar kering. Di Kampung Muara Pampang, listrik sering mati tanpa sebab. Lampu-lampu padam serempak, lalu menyala kembali seperti mata yang enggan terjaga.
“Ah, mati lagi,” gumam seorang ibu dari balik jendela.
“Biarkan saja,” sahut tetangganya. “Sungai lagi tidak mau terang.”
Sungai Mahakam mengalir lebar di depan kampung, hitam kecokelatan, berkilat seperti kulit ular tua. Di musim tertentu, arusnya melambat, seolah menahan sesuatu di dasar. Di musim lain, ia rakus, menyeret batang kayu, perahu kecil, kadang ternak. Kadang pula, kata orang-orang tua, ia meminta yang lain.
Kapten Arman sudah dua puluh tahun berdinas. Ia percaya pada peta, kompas, dan laporan tertulis. Ia percaya bahwa segala sesuatu punya sebab yang bisa diurai oleh akal sehat. Ia pulang ke kampung itu setelah ibunya meninggal, membawa seragam rapi dan kebiasaan lama: bangun subuh, menyeduh kopi pahit, menatap sungai tanpa rasa.
Namun sejak kembali, mimpi-mimpi datang seperti hujan malam—pelan, rapat, dan tak bisa ditolak. Dalam mimpi itu, Arman selalu berdiri di jembatan kayu yang sudah lama diganti beton. Di bawahnya, sungai memantulkan wajah seorang perempuan. Rambutnya panjang, basah, menempel di pipi. Ia tidak berbicara. Hanya menatap, seolah menunggu Arman mengingat sesuatu yang sengaja ia kubur.
Perempuan itu bernama Lela. Atau setidaknya, dulu begitu ia memanggilnya.
Lela menghilang sepuluh tahun lalu, saat Arman bertugas di perbatasan. Ia menerima kabar lewat pesan singkat: *Lela tidak pulang dari mandi sore.*
“Air lagi tinggi,” kata Pak Rahman.
“Arusnya berat,” sahut yang lain.
“Kalau sudah begitu,” seseorang menutup, “ya sudahlah.”
Tidak ada teriakan. Tidak ada pencarian besar-besaran. Sungai sedang pasang, dan orang-orang kampung sudah paham: jika sungai sudah mengambil, jangan terlalu berisik.
Arman pulang beberapa hari kemudian. Ia berdiri di tepi sungai, menatap air kehitaman yang berkilat malas.
“Kita sudah cari semampunya,” kata ibunya lirih.
“Jangan salahkan sungai.”
Kini, bertahun-tahun kemudian, ia kembali. Dan sungai seolah mengenalinya.
Suatu sore, seorang nelayan menemukan drum besi mengapung di dekat akar pohon ulin tua. Drum itu berkarat, berputar pelan mengikuti arus yang seperti bernapas.
“Bukan drum ikan,” kata nelayan itu.
“Baunya lain,” jawab temannya, mundur setapak.
Arman ikut melihat, berdiri tegak di antara warga yang berbisik.
“Jangan dibuka di sini.”
“Sudah terlanjur.”
Ketika drum dibuka, bau air lama dan waktu yang membusuk menyebar. Isinya bukan mayat utuh, melainkan potongan-potongan yang tak ingin diingat: kain perempuan, rambut yang masih terikat karet hitam.
“Perempuan lagi,” seseorang berbisik.
“Sudah berapa kali,” yang lain menimpali.
Tidak ada yang menyebut nama Lela. Namun angin sore itu berembus dingin, membawa aroma yang pernah Arman kenal—bau sabun murah setelah mandi di sungai.
Malam-malam berikutnya, listrik makin sering padam.
“Sumur belakang bunyi lagi,” kata seorang tetangga.
“Dari dulu begitu.”
“Tapi sekarang lebih sering.”
Dalam gelap, Arman mendengar suara air dari sumur tua di belakang rumah ibunya. Papan penutupnya bergetar halus, seperti ada yang mengetuk dari dalam. Di sela suara itu, bisikan muncul—bukan suara perempuan, bukan pula suara lelaki. Seperti arus yang belajar menyebut nama.
Ia melawan dengan logika. Ia mencatat waktu listrik mati, arah angin, tinggi air. Tapi catatan itu basah oleh mimpi.
“Mas Arman kelihatan pucat.”
“Kurang tidur.”
“Atau kurang dengar.”
Pada malam keempat puluh sejak drum ditemukan, Arman berjalan sendiri ke jembatan lama. Beton dingin di telapak kakinya. Sungai di bawah tampak terlalu tenang.
“Mau ke mana malam-malam?” teriak seseorang dari kejauhan.
Arman tidak menjawab.
Paginya, warga menemukan seragam TNI terlipat rapi di tepi sungai. Sepatunya sejajar, menghadap air.
“Dia orang baik,” kata seseorang.
“Tapi bukan orang sungai,” sahut yang lain pelan.
Tidak ada tubuh. Tidak ada tanda perlawanan. Hanya bau lumpur dan daun basah.
Warga tidak banyak bicara. Sumur tua ditutup papan baru. Lampu dinyalakan seperlunya.
“Sudah cukup,” kata seorang tetua.
“Jangan dipanggil-panggil lagi.”
Sungai kembali mengalir seperti biasa—tenang, lebar, seolah tak pernah meminta apa pun.
Dan di beberapa malam, saat angin datang dari hulu dan listrik berkedip malas, ada yang melihat dua bayangan berdiri di jembatan lama.
“Jangan dilihat lama-lama,” bisik seorang ibu sambil menarik anaknya.
“Biarkan saja.”
Sungai tidak jahat.
Ia hanya tahu apa yang ia inginkan.
Fajri Sunaryo: Jurnalis Akurasi.id