Jika baby blues tidak segera ditangani, kondisi tersebut bisa meningkat menjadi depresi postpartum. Gejalanya bahkan bisa lebih berat.
Kaltim.akurasi.id, Bontang – Minimnya kesadaran akan gangguan mental yang dialami ibu pascamelahirkan seperti baby blues syndrome dan depresi postpartum menjadi perhatian serius. Dokter Psikiater Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Taman Husada Bontang, dr. Dewi Maharni menegaskan bahwa dukungan keluarga, terutama dari suami memiliki peran penting dalam mencegah kondisi tersebut.
Menurut dr. Dewi, baby blues umumnya dialami oleh ibu baru, khususnya mereka yang baru pertama kali memiliki anak. Kondisi ini muncul akibat perasaan bingung dan kewalahan dalam merawat bayi. Ditambah lagi jika kurangnya dukungan emosional dari orang-orang terdekat.
“Seorang ibu yang baru melahirkan, terutama yang pertama kali, kerap merasa cemas dan takut salah dalam merawat bayinya. Ketika dukungan suami minim, misalnya suami menganggap semua tanggung jawab bayi hanya ada pada istri, maka kondisi mental ibu bisa terguncang dan memicu baby blues,” ungkap dr. Dewi, belum lama ini.
Ia menambahkan, jika baby blues tidak segera ditangani, kondisi tersebut bisa meningkat menjadi depresi postpartum. Gejalanya bahkan bisa lebih berat. Seperti muncul perasaan sedih yang mendalam, kehilangan minat terhadap bayi, hingga pikiran untuk melukai diri sendiri atau bayinya.
“Yang membedakan baby blues dan depresi postpartum adalah intensitas dan durasinya. Baby blues biasanya muncul dalam beberapa hari setelah melahirkan dan bisa membaik dalam dua minggu. Tapi jika terus memburuk, itu tanda depresi postpartum,” jelasnya.
Dukungan keluarga, khususnya suami, menurutnya menjadi benteng utama. Ibu baru tidak hanya butuh bantuan fisik dalam merawat bayi, tetapi juga pendampingan emosional. Ia menegaskan, suami harus peka, ikut terlibat dalam pengasuhan, dan memberi semangat serta tidak membiarkan istri merasa sendirian.
Dirinya pun mendorong adanya edukasi bagi keluarga ibu baru, baik melalui layanan kesehatan seperti Puskesmas maupun kelas persiapan melahirkan. Tujuannya, agar para suami dan keluarga memahami tanda-tanda baby blues dan bagaimana cara mencegahnya.
“Semakin cepat keluarga sadar dan bertindak, semakin besar peluang mencegah baby blues berkembang menjadi depresi postpartum,” tandasnya. (adv/rsudtamanhusadabontang)
Penulis: Rae
Editor: Suci Surya Dewi