Setelah nikmat kemeriahan lebaran dengan sedapnya hidangan rendang, ada satu lagi nikmat yang hanya bisa dipetik di bulan penuh sukacita ini. Inilah dia sunnah puasa Syawal, puasa yang mendatangkan pahala dengan keutamaannya. Nabi Muhammad SAW bersabda:
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ
“Puasa di bulan Ramadan dan diikuti dengan enam hari di bulan Syawal sama seperti puasa terus-menerus.”
(HR. Sahih Muslim)
Ini dia 3 hal yang perlu Kamu ketahui tentang puasa istimewa ini.
- Berpuasa 6 hari di bulan Syawal sama seperti berpuasa selama setahun.
Para ulama menjelaskan bahwa pahala amal perbuatan dilipatgandakan setidaknya sepuluh kali lipat. Berdasarkan pernyataan di atas, puasa di bulan Ramadan selama tiga puluh hari setara dengan puasa selama tiga ratus hari, dan enam hari di bulan Syawal setara dengan puasa selama enam puluh hari. Nabi Muhammad SAW sendiri telah menyatakan hal ini secara eksplisit.
“Puasa Ramadan itu seperti berpuasa selama sepuluh bulan, dan berpuasa enam hari (Syawal) itu seperti berpuasa selama dua bulan. Itu seperti berpuasa selama setahun penuh.”
(Musnad Ahmad)
Baca Juga
- Berpuasa pada hari pertama bulan Syawal dilarang.
Hari pertama bulan Syawal menandai Idul Fitri, sebuah perayaan istimewa yang menjadi hari kemenangan umat Muslim di seluruh dunia setelah menyelesaikan bulan Ramadhan. Pada hari ini, puasa dilarang. Hal ini termuat dalam hadits yang ditetapkan karena Nabi Muhammad SAW secara khusus melarang puasa baik pada Idul Fitri maupun Idul Adha.
Diriwayatkan bahwa Abu ‘Ubaid berkata,
“Saya hadir pada perayaan Idul Fitri bersama Umar bin Khattab. Beliau memulai dengan salat sebelum khutbah, dan berkata: ‘Rasulullah ﷺ melarang berpuasa pada dua hari ini, yaitu Hari Raya Idul Fitri dan Hari Raya Idul Adha. Adapun Hari Raya Idul Fitri adalah hari berbuka puasa, dan pada Hari Raya Idul Adha, kalian memakan daging kurban.'”
(Sunan Ibn Majah)
Larangan ini mengandung hikmah yang mendalam. Idul Fitri dimaksudkan sebagai hari perayaan bersama, rasa syukur, dan penguatan ikatan persaudaraan. Umat Islam dianjurkan untuk memulai hari mereka dengan salat Id, berbagi makanan dengan keluarga dan teman, serta turut memeriahkan dalam kegiatan-kegiatan gembira. Perayaan ini menandai selesainya kewajiban puasa Ramadan dan mengungkapkan rasa syukur kepada Allah SWT karena telah memungkinkan kita untuk memenuhi rukun Islam ini.
Oleh karena itu, bagi kamu yang berniat untuk berpuasa selama enam hari di bulan Syawal hendaknya memulainya dari hari kedua Syawal dan memastikan telah sepenuhnya merangkul semangat Idul Fitri terlebih dahulu.
- Diperbolehkan menggabungkan puasa yang terlewat di bulan Ramadan dengan puasa sunnah enam hari di bulan Syawal.
Berpendapat bahwa seseorang dapat menggabungkan kedua puasa tersebut. Diperbolehkan menggabungkan niat untuk mengganti puasa yang terlewat (Qadha’) selama Ramadan dan sunnah puasa enam hari di bulan Syawal, meskipun melakukan keduanya secara terpisah akan mendatangkan pahala yang lebih besar. Hal ini sebagaimana disebutkan oleh Al-Hafidz As-Suyuthi dalam bukunya, Al-Asybah wa al-Nadhair, di mana beliau mengutip pendapat al-Bariziy. Namun, kamu perlu ketahui niat puasa ini terutama ditujukan untuk mengganti puasa yang terlewat, dan puasa enam hari di bulan Syawal hanyalah sebagai tambahan.
Oleh karena itu, Imam Ar-Ramli dalam kitabnya Nihayatul Muhtaj ila Syarh al-Minhaj menyatakan bahwa meskipun diperbolehkan menggabungkan kedua puasa, misalnya puasa yang terlewat di bulan Ramadhan dan puasa enam hari di bulan Syawal, pahalanya akan sama dengan orang yang berpuasa secara terpisah, di mana mereka tentu akan mendapatkan pahala yang lebih besar.
Di sisi lain, ulama seperti Syekh Ali Gom’ah berpendapat bahwa hadits tentang puasa enam hari di bulan Syawal bersifat umum dan selama Anda telah berpuasa 6 hari di bulan Syawal, baik untuk tujuan utama mengganti puasa yang terlewat atau untuk puasa sunnah lainnya, Anda telah memperoleh pahala puasa enam hari di bulan Syawal.
Setiap pendapat yang didasarkan pada ijtihad ulama pasti memiliki kebaikan di dalamnya.