Pakaian Adat Kalimantan Timur: Baju Takwo, Simbol Kebesaran Warisan Kesultanan Kutai

Baju Takwo merupakan salah satu pakaian adat khas masyarakat Kutai di Kalimantan Timur yang kaya akan nilai sejarah dan budaya.
Ocha Ocha
11 Views

Kaltim.akurasi.id, Bontang – Baju Takwo merupakan salah satu pakaian adat khas masyarakat Kutai di Kalimantan Timur yang kaya akan nilai sejarah dan budaya. Pakaian ini menjadi simbol kebesaran dan sering digunakan dalam acara penting seperti pernikahan adat, upacara adat, serta acara resmi kesultanan.

 

Berasal dari era Kesultanan Kutai Kartanegara, baju Takwo dulunya hanya boleh dikenakan oleh raja, keturunannya, serta kalangan bangsawan. Kini, masyarakat umum dapat memakainya pada momen-momen spesial, menunjukkan bahwa warisan budaya ini semakin terbuka dan dilestarikan.

 

Secara etimologi dan makna, “Takwo” mencerminkan kebesaran atau kemuliaan. Menurut cerita dari kalangan kesultanan, pakaian ini awalnya melambangkan status tinggi dalam masyarakat Kutai. Bahan pembuatannya biasanya dari kain katun, linen, atau beludru yang nyaman namun elegan.

 

Desain baju Takwo mirip jas tertutup dengan kerah tinggi, memberikan kesan formal dan anggun. Bagian depan baju sering dilengkapi elemen dekoratif seperti bordiran emas, kancing emas di sisi kanan, serta rantai emas yang menggantung di lubang kancing untuk menambah kesan mewah.

 

Baju Takwo dibedakan menjadi tiga jenis utama. Pertama, Takwo Biasa yang umum untuk perempuan (baju Takwo Bini), berbentuk sederhana namun tetap elegan, sering dipadukan dengan kain sarung Tajong. Kedua, Takwo Sebelah atau Takwo Setempik yang khas untuk laki-laki (baju Takwo Laki), dengan kain depan yang memanjang dan dilipat khusus.

 

Ketiga, Takwo Kustim (atau Takwo Kostum) yang diperuntukkan bagi pasangan pengantin dari keturunan bangsawan, lebih mewah dengan ornamen tambahan. Untuk pria, biasanya dilengkapi songkok Kutai bermotif emas dan sepatu pantofel hitam, sementara wanita memadukannya dengan aksesori tradisional yang serasi.

 

Keunikan baju Takwo terletak pada kesederhanaannya yang tetap memancarkan kemewahan. Berbeda dengan baju Kustin yang lebih penuh pasmen, Takwo cenderung polos namun tetap berkelas. Presiden Joko Widodo bahkan pernah mengenakan baju Takwo berwarna hitam saat upacara HUT RI ke-79 di IKN, menjadikannya semakin dikenal secara nasional. Hal ini membuktikan bahwa pakaian adat Kalimantan Timur mampu tampil di panggung internasional tanpa kehilangan identitasnya.

 

Pelestarian baju Takwo terus dilakukan melalui berbagai cara, mulai dari penyewaan kostum untuk pernikahan hingga pertunjukan tari tradisional. Di Balikpapan, Samarinda, dan Tenggarong, banyak atelier yang menyediakan baju Takwo lengkap beserta aksesorinya. Generasi muda Kutai diajarkan untuk menghargai pakaian ini agar tidak punah ditelan zaman.

 

Sebagai bagian dari kekayaan budaya Nusantara, baju Takwo mengajarkan nilai kesederhanaan sekaligus kebanggaan akan akar sejarah. Di tengah modernisasi Kalimantan Timur yang pesat menuju Ibu Kota Nusantara, menjaga pakaian adat seperti Takwo menjadi penting untuk mempertahankan identitas daerah. Dengan demikian, warisan Kesultanan Kutai akan terus hidup dan menginspirasi generasi mendatang. (*)

 

Penulis: Siti Rosidah More
Editor: Suci Surya Dewi

 

 

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Menu Vertikal
Menu Sederhana