Hari Buruh, “Hari Buruk” bagi Sopir Truk di Penajam

Para sopir truk di Penajam mengeluhkan sulitnya mendapatkan solar subsidi. Bahkan pada peringatan Hari Buruh, yang menandai hak-hak dasar dan kesejahteraan pekerja, mereka menyebutnya sebagai “Hari Buruk”. Lantaran tak pernah ada perbaikan dalam layanan distribusi BBM.
Devi Nila Sari
1.4k Views

Kaltim.akurasi.id, Penajam Paser Utara – Terik matahari menyambar kulit para sopir truk angkutan material di SPBU Penajam Paser Utara (PPU). Mereka berdiri di samping jajaran truk dengan tatapan mata lelah, sambil sesekali menyudut batang rokok di ujung bibirnya.

Terkadang duduk, terkadag berdiri, sambil sesekali berkelakar, membunuh rasa bosan saat mengantre bahan bakar subsidi jenis solar. Ya, BBM subsidi jenis solar sudah langka sejak dua pekan terakhir.

Celakanya, hal ini terjadi di tengah kenaikan harga bahan bakar non subsidi. Sehingga, pilihan untuk tetap menggunakan solar bersubsidi adalah yang paling masuk akal.

“Ganti harga, bukan naik harga kalau Pertamina-Dex,” ungkap salah satu sopir truk, Andi (nama samara), yang sedang duduk di warung sekitar bersama kawan lainnya, Jumat (01/05/2026).

Bertepatan dengan Hari Buruh pada 1 Mei 2026, para sopir truk yang menggantungkan hidupnya dari kendaraan roda empat itu, mengeluhkan bahwa antrean ini cenderung membuat rugi.

Banyak pesanan mengangkut jadi tertunda, lantaran dalam satu minggu para sopir menghabiskan waktu selama 3 hari untuk mengantre solar dan dua hari untuk bekerja. Artinya, dalam satu bulan para sopir truk hanya kerja 8 sampai 10 hari.

Sebenarnya, mereka tidak hanya berdiam diri menerima nasib, gelombang protes sudah dilayangkan beberapa kali. Misal, pada 2025 para sopir memprotes kelangkaan solar. Namun, apalah daya, suara mereka seolah menguap di udara.

Normalisasi distribusi solar hanya tejadi selama sepekan atau dua pekan. Setelah itu, kelangkaan solar kembali terulang, tanpa adanya upaya perbaikan atau pengawasan dari pihak Pertamina.

“Kami sudah demo, masih sama saja. Paling seminggu atau dua minggu saja distribusinya normal, setelahnya tidak ada,” ungkap salah satu sopir.

Pejabat Acuhkan Antrean Solar Mengular

Mau tidak mau, pil pahit ini mereka telan bulat-bulat. Bahkan, pada Hari Buruh yang ditetapkan sebagai libur nasional pun, tak pernah ada kata hari libur dalam kalender mereka.

Para sopir justru berkelakar dan mengganti kata Hari Buruh sebagai Hari Buruk. Bukan tanpa sebab, mereka kecewa karena permasalahan bahan bakar ini berada tepat di depan mata atau tidak jauh dari halaman para pejabat Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU). Namun, sejak antre tidak ada satu pun aparat yang turun langsung melihat situasi ini.

“Ini Hari Buruk, padahal setiap hari mulai dari bupati, DPRD, kejaksaan, polres, hingga kodim lewat di depan kami. Tapi tidak ada yang datang dan bertanya apa yang terjadi,” tambah mereka.

Bahkan, setiap hari para sopir mengaku harus berebut antrean dengan para pengetap yang menggunakan mobil angkutan jenis L300. Antrean mereka kerap kali diserobot jika tidak cepat berada di depan pintu SPBU.

“Setiap hari kami harus berebut di depan pintu itu, tidak ada sama sekali yang mengawasi, tidak ada pengamanan,” ungkapnya.

Para sopir juga tidak punya pilihan untuk membeli di SPBU lain, dikarenakan hanya SPBU KM 9 dan SPBU Babulu yang menyediakan solar bersubsidi. Sedangkan SPBU Babulu jaraknya cukup jauh dari rumah, sehingga SPBU KM 9 menjadi satu-satunya harapan.

“Jika membeli di eceran, enggak masuk harga modal, kami jadi harus menaikkan upah angkut atau harga materialnya yang harus naik,” tambahnya.

Para sopir berharap, agar pengawasan distribusi solar subsidi dipekuar. Sehingga, penyalurannya tepat sasaran, dan merata kepada seluruh masyarakat.

“Setiap hari para pejabat pasti melihat, ini kan tepat di depan kantor jajaran. Kami Cuma berharap bagaimana supaya distribusi solar subisidi adil dan kami tidak mengantre panjang berhari-hari lagi,” pungkasnya. (*)

Penulis: Nelly Agustina
Editor: Devi Nila Sari

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Menu Vertikal
Menu Sederhana