Kaltim.akurasi.id, Bontang – Kabupaten Berau terletak di pesisir utara Kalimantan Timur. Tidak hanya dikenal karena keindahan bawah laut Kepulauan Derawan yang mendunia, wilayah ini menyimpan kekayaan budaya yang luhur melalui keberadaan Suku dan Adat Asli Kalimantan Timur, yakni suku Berau. Dahulu, suku Berau memiliki perbedaan kelas, tetapi perbedaan ini telah memudar di zaman modern.
Secara umum, suku Berau lebih suka tinggal berkelompok di dekat sungai di rumah-rumah kayu berplatform tinggi. Rumah-rumah mereka berdekatan, seperti di kota, meskipun terdapat banyak lahan tempat mereka tinggal. Mereka memiliki pemisahan yang jelas antara area tempat tinggal dan ladang. Seperti suku Melayu, suku Berau pada umumnya ramah dan menganut agama Islam.
Sebagai salah satu suku asli yang mendiami wilayah kesultanan tua di Kalimantan, Suku Berau hingga kini terus konsisten memegang teguh adat istiadat dan nilai-nilai leluhur di tengah arus modernisasi yang kian kencang. Salah satu aspek paling menonjol yang menjadi pembeda utama Suku Berau dengan suku lainnya di Kalimantan adalah bahasa.
Bahasa Berau atau Bahasa Banua memiliki dialek yang sangat khas dengan intonasi yang unik. Meski secara historis memiliki kedekatan dengan rumpun bahasa Melayu dan dipengaruhi oleh interaksi dengan suku Banjar maupun Kutai, bahasa Berau tetap mempertahankan struktur dan kosa kata yang asli.
Bagi masyarakat setempat, bahasa ini bukan sekadar alat komunikasi, melainkan simbol harga diri dan identitas kolektif yang mempersatukan mereka. Kehidupan sosial ekonomi Suku Berau sangat dipengaruhi oleh kondisi geografis wilayahnya yang strategis. Secara garis besar, masyarakat Suku Berau membagi kehidupan mereka dalam dua sektor utama.
Di sektor kelautan sebagian besar masyarakat Berau yang tinggal di wilayah pesisir berprofesi sebagai nelayan. Mereka memiliki pengetahuan tradisional dalam membaca tanda-tanda alam dan arus laut, yang memungkinkan mereka mengambil hasil laut secara berkelanjutan.
Sedangkan dalam sektor pertanian, bagi masyarakat yang tinggal sedikit ke arah daratan, bertani adalah urat nadi kehidupan. Mereka mengelola lahan dengan menanam padi, palawija, dan tanaman perkebunan lainnya untuk memenuhi kebutuhan pangan lokal.
Kreativitas Suku Berau tidak berhenti pada tenun saja. Untuk menunjang penghasilan dan memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, masyarakat aktif memproduksi berbagai jenis kerajinan tangan. Mulai dari anyaman rotan, kerajinan manik-manik, hingga peralatan rumah tangga tradisional dibuat dengan ketelitian tinggi. Produk-produk kerajinan ini kini menjadi salah satu daya tarik wisata yang membantu menggerakkan roda ekonomi kreatif di Kabupaten Berau. (*)
Penulis: Siti Rosidah More
Editor: Suci Surya Dewi