Bendungan Sepaku Semoi Diportal, Vendor Lokal Minta Brantas Abipraya Bayar Tagihan Hampir Rp10 Miliar

Sejumlah vendor lokal melakukan blokade jalan Bendungan Sepaku Semoi. Aksi ini dilakukan sebagai upaya penagihan pembayaran ke Brantas Abipraya, dengan total hampir Rp10 miliar.
Devi Nila Sari
1.2k Views

Kaltim.akurasi.id, Nusantara – Sejumlah vendor lokal kembali melakukan aksi protes terhadap PT Brantas Abipraya (Persero), dengan memortal akses masuk proyek Bendungan Sepaku Semoi di kawasan delineasi Ibu Kota Nusantara (IKN), Sabtu (9/5/2026). Aksi tersebut dilakukan sebagai bentuk tuntutan pembayaran tagihan proyek yang disebut mencapai hampir Rp10 miliar.

Akses menuju bendungan ditutup menggunakan dump truck 10 roda yang dipasang melintang di pintu masuk proyek. Sejumlah spanduk protes juga dibentangkan, salah satunya bertuliskan “PT Abipraya Belum Melunasi Tagihan”.

Owner PT Borneo Rent Nusantara (BRN) Balikpapan, Rinif Ade Saputra, mengatakan pihaknya masih memiliki tagihan yang belum dibayarkan oleh pihak kontraktor, khususnya pada proyek Bendungan Sepaku Semoi Divisi 2.

“Nilainya sekitar Rp1,4 miliar lebih, yang sampai sekarang masih menggantung,” ujarnya.

Rinif menjelaskan, aksi serupa sebenarnya pernah dilakukan pada Januari 2026. Saat itu, manajemen perusahaan disebut menjanjikan pembayaran dalam waktu sekitar dua bulan. Namun, hingga kini pembayaran belum juga terealisasi.

“Kami sudah menunggu sesuai janji mereka, bahkan sudah ada surat keterangan pembayaran. Tapi sampai sekarang belum dibayarkan, sehingga kami kembali melakukan aksi gelombang kedua,” tegasnya.

Ia mengaku, pihaknya juga telah mendatangi kantor perusahaan di Jakarta dengan membawa dokumen tagihan lengkap. Namun upaya tersebut belum menghasilkan penyelesaian pembayaran.

Keluhan serupa disampaikan Direktur PT Lio Pelindo Perkasa Balikpapan, Sonny. Ia menyebut, tunggakan pembayaran jasa rental alat berat yang digunakan di proyek Bendungan Sepaku Semoi mencapai lebih dari Rp8 miliar.

“Kami sudah dua kali melakukan pemortalan. Bahkan, tahun lalu sempat melakukan pengecoran jalan di pintu masuk bendungan,” katanya.

Para vendor mengancam akan melanjutkan aksi ke kantor pusat perusahaan di Jakarta, apabila tuntutan pembayaran tidak segera ditindaklanjuti.

Tak hanya vendor dari Balikpapan, sejumlah vendor lokal asal Sepaku juga mengaku mengalami tunggakan pembayaran proyek.

Vendor material alam, Jufriansyah, menyebut tagihan pasir untuk proyek bendungan senilai Rp168 juta belum dibayarkan.

“Material alam untuk proyek bendungan, sampai sekarang belum dibayar,” ujarnya.

Sementara vendor bahan bangunan lainnya, Rollibis Tobir, mengatakan tunggakan pembayaran yang dialaminya mencapai ratusan juta rupiah di dua proyek berbeda.

“Di bendungan ini masih tersisa Rp144 juta, kemudian di Intake Sepaku Rp219 juta. Tahun lalu sempat dibayar Rp100 juta,” katanya. (*)

Penulis: Nelly Agustina
Editor: Devi Nila Sari

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Menu Vertikal
Menu Sederhana