Tak Ada yang Tahu Mereka Masih di Dalam: Duka di Balik Kebakaran Sungai Parit

Rumah kayu itu telah menjadi abu. Namun yang tak ikut hangus adalah penyesalan yang datang terlambat. Ketika petugas mengetahui dua anak masih berada di dalam, kobaran api sudah lebih dulu menutup semua jalan untuk menyelamatkan mereka.
Fajri
By
5k Views

Oleh; Nelly Agustina

Bau kayu yang hangus masih menyengat, bahkan sehari setelah api padam. Di atas tanah yang menghitam, potongan papan rumah yang berubah menjadi arang bertumpuk tak beraturan. Rangka sepeda motor berdiri kaku dengan cat yang telah mengelupas akibat panas. Di dekatnya, sebuah tabung gas elpiji tiga kilogram tergeletak di antara puing-puing. Garis polisi membentang membatasi sisa rumah panggung itu, seolah menjadi penanda bahwa tempat ini kini bukan sekadar lokasi kebakaran, melainkan saksi bisu hilangnya dua nyawa kecil.

Tak ada lagi suara tawa anak-anak yang biasanya memenuhi rumah kayu di RT 06, Kelurahan Sungai Parit, Kecamatan Penajam. Yang tersisa hanyalah aroma asap yang belum sepenuhnya hilang, sesekali bercampur dengan debu halus yang beterbangan setiap kali angin berembus.

Beberapa jam sebelumnya, tepat pada Kamis (9/7/2026), kepulan asap hitam membumbung tinggi dan terlihat dari berbagai penjuru kampung. Api menjalar begitu cepat, melahap dinding-dinding kayu yang telah lama mengering diterpa musim kemarau.

Saat sirene mobil pemadam kebakaran memecah suasana, kobaran api sudah menguasai hampir seluruh bangunan. Lidah-lidah api menjilat lantai dua rumah panggung itu, memuntahkan bara yang beterbangan ke udara.

Bagi petugas pemadam, waktu adalah segalanya. Namun pagi itu, waktu bergerak lebih cepat daripada kemampuan manusia untuk menyelamatkan.

“Kami tidak tahu posisi anak-anak ada di mana. Kalau kami tahu mereka berada di kamar tertentu misalnya, mungkin masih bisa kami upayakan penyelamatannya. Tapi saat itu api sudah sangat besar,” kata Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Keselamatan Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), Fernando Simanjuntak, Jumat (10/7/2026).

Material rumah yang hampir seluruhnya berbahan kayu membuat api berkembang dalam hitungan menit. Ketika petugas berusaha memasuki bangunan, suhu di dalam rumah sudah terlalu tinggi.

Seorang anggota Damkar bahkan sempat naik ke lantai dua untuk mencari korban. Di tengah kepulan asap pekat yang membatasi pandangan, terdengar suara ledakan dari dalam rumah.

“Anggota saya langsung melompat turun karena situasinya sudah sangat berbahaya,” ujar Fernando.

Di luar rumah, petugas tak hanya berhadapan dengan kobaran api. Kabel listrik yang masih dialiri arus menjadi ancaman lain. Seorang personel Damkar sempat tersengat listrik ketika proses pemadaman berlangsung. Beruntung, ia berhasil dievakuasi dan kini telah pulih.

Fernando menegaskan, tugas petugas pemadam hanya menyelamatkan jiwa dan memadamkan api. Sementara penyebab kebakaran sepenuhnya menjadi kewenangan kepolisian.

Yang membuat tragedi ini semakin memilukan, keberadaan dua anak di dalam rumah baru diketahui ketika proses pemadaman telah berlangsung.

Informasi itu datang terlambat.

“Baru ketika pemadaman berlangsung muncul informasi bahwa masih ada anak di dalam rumah. Sebelumnya tidak ada yang menyampaikan itu,” ujar Kepala BPBD PPU, Nurlaila.

Dari hasil pendataan BPBD, sang ibu sempat berhasil menyelamatkan diri saat api membesar. Dalam kepanikan, ia keluar rumah. Namun beberapa saat kemudian, baru disadarinya dua anak yang merupakan adik dan anaknya masih berada di dalam bangunan yang telah dipenuhi api.

Salah satu korban yang berusia tujuh tahun diduga memiliki kebutuhan khusus sehingga tidak memberikan respons saat diajak keluar.

“Ada yang bilang tangannya sempat ditarik, tetapi dia tidak merespons untuk keluar dari rumah,” kata Nurlaila.

Di tengah kepanikan itu, setiap menit menjadi sangat berarti.

Namun ada persoalan lain yang ikut memperlambat respons.

Nurlaila mengaku informasi pertama justru diterimanya dari seorang nelayan yang sedang berada di laut, bukan dari warga sekitar lokasi kebakaran.

Padahal, menurutnya, sebelum laporan resmi masuk, video kebakaran lebih dulu beredar di media sosial.

“Penting sekali masyarakat menyimpan nomor kedaruratan, baik Damkar maupun BPBD PPU, sehingga tidak harus melalui teman ke teman. Kami justru tahu dari orang yang punya teman di BPBD. Ini sangat tidak efektif,” tegasnya.

Ia mengingatkan, seluruh layanan kedaruratan memiliki target waktu respons sekitar 15 menit setelah laporan diterima. Keterlambatan menyampaikan informasi bisa menjadi pembeda antara sebuah penyelamatan dan sebuah kehilangan.

Sementara itu, hingga kini penyebab kebakaran masih menjadi teka-teki.

Kasat Reskrim Polres PPU, Handry, mengatakan olah tempat kejadian perkara belum dapat dilakukan secara maksimal karena kondisi lokasi masih panas dan membahayakan.

Polres PPU kini berkoordinasi dengan Tim Identifikasi Polda Kalimantan Timur serta Laboratorium Forensik Surabaya untuk memastikan penyebab kebakaran.

“Kami masih mendalami apakah penyebabnya karena faktor human error atau ada faktor lain. Semua masih menunggu hasil olah TKP lanjutan dan pemeriksaan Laboratorium Forensik,” ujarnya.

Penyidik juga memeriksa sejumlah saksi, termasuk warga sekitar dan keluarga korban. Namun pemeriksaan dilakukan secara bertahap mengingat kondisi psikologis keluarga masih sangat terpukul.

Di lokasi kejadian, polisi menemukan tabung LPG dan bahan yang diduga sebagai bahan bakar minyak (BBM). Meski demikian, aparat belum dapat memastikan apakah keberadaan BBM tersebut berkaitan langsung dengan penyebab kebakaran ataupun apakah disimpan untuk digunakan sendiri atau diperjualbelikan.

“Kalau nanti terbukti ada pelanggaran terkait penyimpanan atau penjualan BBM tanpa izin tentu ada ketentuan hukumnya. Tetapi saat ini fokus kami adalah memastikan penyebab kebakaran terlebih dahulu,” kata Handry.

Di tengah duka yang masih menyelimuti keluarga, Pemerintah Kabupaten Penajam Paser Utara mulai menyalurkan bantuan.

Usai menyerahkan bantuan pascabencana, Bupati PPU Mudyat Noor mengatakan kebutuhan dasar korban telah dibantu melalui Baznas. Pemerintah kecamatan bersama masyarakat juga mulai menggalang bantuan agar keluarga dapat kembali memiliki tempat tinggal.

Namun menurutnya, membangun rumah mungkin jauh lebih mudah dibanding memulihkan luka batin keluarga yang kehilangan dua anak sekaligus.

“Kami berharap pendampingan psikologis dari rumah sakit terus dilakukan sampai kondisi keluarga benar-benar stabil,” ujar Mudyat.

Ia juga mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan selama musim kemarau, terutama terhadap penyimpanan bahan-bahan yang mudah terbakar di sekitar rumah.

“Kami akan serahkan ke APH untuk penegakannya terkait penyimpanan bahan bakar. Kami juga sudah membahasnya sejak kemarin. Kami juga dilema dengan kondisi ini, apalagi ini menjadi salah satu sumber pemasukan masyarakat,” pungkasnya.

Kini, rumah panggung itu tinggal puing.

Api memang telah padam. Namun bagi keluarga yang kehilangan dua bocah dalam hitungan menit, bara duka itu kemungkinan akan menyala jauh lebih lama daripada sisa arang yang masih menghitam di Sungai Parit. (*)

Editor: Fajri Sunaryo

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Menu Vertikal
Menu Sederhana