Kaltim.akurasi.id, Bontang – Kalimantan Timur dikenal sebagai provinsi yang kaya akan sumber daya alam, mulai dari batu bara, minyak bumi, gas alam, hingga hasil hutan tropis. Namun, di balik dominasi sektor pertambangan, terdapat potensi lain yang terus berkembang, yakni sektor peternakan. Didukung lahan yang luas, iklim tropis, serta ketersediaan sumber pakan alami, peternakan menjadi salah satu sektor yang memiliki prospek cerah untuk mendukung ketahanan pangan sekaligus meningkatkan perekonomian masyarakat.
Pengembangan peternakan di Kalimantan Timur juga semakin strategis seiring hadirnya Ibu Kota Nusantara (IKN). Permintaan terhadap daging, telur, dan susu diperkirakan terus meningkat sehingga membuka peluang besar bagi para peternak lokal untuk memenuhi kebutuhan pasar.
Salah satu keunggulan Kalimantan Timur adalah ketersediaan lahan yang sangat luas. Provinsi ini memiliki wilayah lebih dari 127 ribu kilometer persegi, dengan hamparan padang rumput, lahan pertanian, hingga perkebunan kelapa sawit yang dapat dimanfaatkan sebagai kawasan pengembangan peternakan.
Kabupaten Kutai Kartanegara, Kutai Timur, Berau, Paser, Penajam Paser Utara, dan Kutai Barat menjadi daerah yang memiliki potensi besar karena masih tersedia lahan yang cukup luas untuk budidaya ternak.
Iklim tropis dengan curah hujan rata-rata 2.000–3.000 milimeter per tahun juga mendukung pertumbuhan hijauan pakan ternak sepanjang tahun. Rumput gajah (Pennisetum purpureum), rumput odot (Pennisetum purpureum cv. Mott), dan berbagai jenis leguminosa tumbuh dengan baik sebagai sumber pakan alami.
Komoditas peternakan terbesar di Kalimantan Timur adalah sapi potong (Bos indicus dan Bos taurus). Sapi Bali (Bos javanicus domesticus) menjadi salah satu jenis yang paling banyak dipelihara karena memiliki kemampuan beradaptasi dengan lingkungan tropis dan efisiensi pakan yang baik.
Selain sapi, masyarakat juga mengembangkan berbagai jenis ternak lainnya, seperti:
- Kerbau rawa (Bubalus bubalis)
- Kambing kacang (Capra hircus)
- Domba (Ovis aries)
- Ayam kampung (Gallus gallus domesticus)
- Ayam pedaging (broiler)
- Ayam petelur
- Itik atau bebek domestik (Anas platyrhynchos domesticus)
Masing-masing komoditas memiliki pasar tersendiri, baik untuk memenuhi kebutuhan lokal maupun memasok daerah lain di Kalimantan.
Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) dan Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Kalimantan Timur, populasi ternak terus mengalami peningkatan dalam beberapa tahun terakhir.
Populasi sapi potong diperkirakan mencapai lebih dari 120 ribu ekor, menjadikannya ternak ruminansia terbesar di provinsi ini. Sementara itu, populasi kambing berada pada kisaran 60 ribu–70 ribu ekor, sedangkan kerbau mencapai sekitar 10 ribu ekor.
Di sektor unggas, jumlahnya jauh lebih besar. Populasi ayam pedaging mencapai puluhan juta ekor setiap tahun, sedangkan ayam petelur dan ayam kampung juga terus bertambah untuk memenuhi kebutuhan konsumsi masyarakat.
Salah satu konsep yang mulai banyak diterapkan di Kalimantan Timur adalah integrasi peternakan dengan perkebunan kelapa sawit (Elaeis guineensis).
Dalam sistem ini, sapi dipelihara di area perkebunan sehingga dapat memanfaatkan rumput yang tumbuh di bawah pohon sawit sebagai pakan. Sebaliknya, kotoran sapi dimanfaatkan sebagai pupuk organik yang membantu meningkatkan kesuburan tanah.
Selain sawit, limbah pertanian seperti jerami padi, kulit kakao (Theobroma cacao), dedak padi, dan bungkil inti sawit juga dapat diolah menjadi pakan ternak. Pendekatan ini membuat biaya produksi menjadi lebih efisien sekaligus mengurangi limbah pertanian.
Walaupun memiliki potensi besar, sektor peternakan Kalimantan Timur masih menghadapi sejumlah tantangan. Produktivitas ternak perlu terus ditingkatkan melalui penggunaan bibit unggul, perbaikan manajemen pakan, serta pengendalian penyakit hewan.
Ketersediaan rumah potong hewan berstandar, fasilitas rantai dingin (cold chain), serta akses pemasaran juga masih perlu diperkuat agar hasil peternakan memiliki nilai tambah yang lebih tinggi.
Di sisi lain, regenerasi peternak menjadi perhatian penting. Banyak peternak saat ini masih didominasi kelompok usia tua sehingga diperlukan keterlibatan generasi muda melalui pemanfaatan teknologi digital dan sistem peternakan modern. (*)
Penulis: Rosi
Editor: Suci Surya Dewi