Lebih Tua dari Piramida Mesir, 4 Cagar Budaya Kalimantan Timur Ini Terancam Hilang Ditelan Zaman

Dari lukisan gua berusia 40.000 tahun sampai rumah panjang tanpa paku sedikit pun. Inilah empat jejak peradaban Kaltim yang kini diperjuangkan naik status jadi cagar budaya nasional.
Fajri
By

Kaltim.akurasi.id, Samarinda – Kalimantan Timur sedang berpacu dengan waktu. Di satu sisi, provinsi ini menyandang status baru sebagai rumah bagi Ibu Kota Nusantara (IKN), pusat gravitasi pembangunan nasional yang bergerak begitu cepat. Di sisi lain, provinsi ini juga menyimpan jejak peradaban yang jauh lebih tua dari republik ini sendiri. Lukisan gua berusia puluhan ribu tahun, rumah adat leluhur Dayak Benuaq, hingga masjid dan museum yang menyimpan sejarah kesultanan.

Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur, melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud), tampaknya sadar betul akan risiko ini. Tahun ini, mereka mendorong empat objek cagar budaya untuk naik status dari tingkat daerah menjadi cagar budaya peringkat nasional. Sebuah langkah yang akan memberi mereka payung hukum perlindungan yang jauh lebih kuat. Ini penting, karena saat ini Kaltim baru punya satu cagar budaya berstatus nasional, yaitu Masjid Jami di Tenggarong.

Berikut empat objek yang sedang diperjuangkan itu, lengkap dengan cerita di baliknya.

1. Lamin Tolan, Rumah Panjang Berusia 200 Tahun Milik Dayak Benuaq

Lamin Tolan, Rumah Panjang Berusia 200 Tahun Milik Dayak Benuaq
Lamin Tolan, Rumah Panjang Berusia 200 Tahun Milik Dayak Benuaq. (ist)

Di Kampung Lambing, Kecamatan Muara Lawa, Kabupaten Kutai Barat, berdiri sebuah bangunan panggung sepanjang 51 meter yang oleh masyarakat setempat disebut Lou Tolan atau Lamin Tolan. Ini bukan sekadar rumah, ini adalah identitas hidup masyarakat Dayak Benuaq.

Yang membuat Lamin Tolan istimewa bukan cuma usianya yang diperkirakan mencapai 200 tahun, melainkan cara ia dibangun. Lantai, dinding, dan atapnya sama sekali tidak menggunakan paku. Semuanya diikat dengan rotan, teknik konstruksi tradisional yang mencerminkan kearifan lokal dalam memanfaatkan material alam sepenuhnya.

Bangunan ini terdiri dari lima bilik yang dulunya menjadi tempat tinggal beberapa kepala keluarga sekaligus, ditambah satu aula luas yang dipakai untuk berbagai kegiatan ritual adat. Nama “Tolan” sendiri konon diambil dari nama seorang budak di masa lampau bernama Kakah Narik.

Lamin Tolan sudah masuk dalam inventarisasi Balai Pelestarian Cagar Budaya Kalimantan Timur sejak 2012, dan diperkuat lewat Peraturan Bupati Kutai Barat Nomor 08 Tahun 2013. Namun sejak 2015, setelah menjalani proses pemugaran oleh pemerintah, bangunan ini sudah tidak lagi dihuni sebagai tempat tinggal permanen. Para pewaris bilik kini tinggal di rumah permanen di sampingnya, sementara Lamin Tolan tetap dijaga sebagai situs bersejarah sekaligus destinasi wisata budaya.

Cara ke sana: dari Sendawar, ibu kota Kutai Barat, perjalanan darat memakan waktu 1-2 jam. Dari Samarinda, siap-siap menempuh 6-7 jam perjalanan, cukup jauh, tapi buat pencinta sejarah dan arsitektur tradisional, ini destinasi yang sepadan dengan usahanya.

2. Karst Sangkulirang-Mangkalihat, Situs Lukisan Gua Tertua di Dunia

Karst Sangkulirang-Mangkalihat, Situs Lukisan Gua Tertua di Dunia
Foto: Karst Sangkulirang-Mangkalihat, Situs Lukisan Gua Tertua di Dunia.(ist)

Kalau ada satu objek dalam daftar ini yang layak disebut kelas dunia, itu adalah Karst Sangkulirang-Mangkalihat. Bentang alam yang membentang dari Kabupaten Kutai Timur hingga Berau ini bukan cuma indah secara geologis, ia menyimpan bukti peradaban manusia purba tertua yang pernah ditemukan di planet ini.

Penelitian kerja sama antara Indonesia dan Australia yang dipublikasikan pada 2018 mengungkap bahwa lukisan cadas di kawasan ini, khususnya di Gua Lubang Jeriji Saleh, berusia sekitar 40.000 tahun, menjadikannya salah satu karya seni figuratif tertua di dunia, bahkan bersaing dengan situs-situs prasejarah ternama di Eropa. Metode penanggalan U-series Geochemistry digunakan para peneliti untuk memastikan usia temuan ini.

Sejauh ini, sedikitnya 64 gua dengan cap tangan purba sudah teridentifikasi di kawasan seluas 1,8 juta hektare ini, dengan total sekitar 1.700 lukisan tangan purba tersebar di berbagai lokasi. Selain lukisan, di sana juga ditemukan tulang, wadah dari tanah liat, dan berbagai alat dari batu, petunjuk bahwa kawasan ini pernah dihuni manusia purba dalam jangka waktu yang sangat panjang.

Tapi Karst Sangkulirang-Mangkalihat bukan cuma soal masa lalu. Kawasan ini juga punya peran ekologis vital sebagai hulu bagi setidaknya lima sungai besar di Kaltim, penyimpan air alami, penangkap karbon, sekaligus habitat lebih dari 120 spesies burung. Karena nilai gandanya ini, arkeologi, geologi, dan ekologi. Pemprov Kaltim bersama Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) bahkan tengah mengusulkan kawasan ini sebagai Taman Bumi Nasional, dengan harapan jangka panjang bisa diakui sebagai UNESCO Global Geopark.

Ironisnya, kawasan bernilai sejarah dunia ini juga menghadapi ancaman nyata dari industri ekstraktif seperti pertambangan batu bara dan rencana pembangunan pabrik semen, yang justru menjadi alasan kuat kenapa status perlindungan tingkat nasional begitu mendesak untuk segera ditetapkan.

3. Masjid Shirathal Mustaqiem, Saksi Bisu Islam Tertua di Samarinda

Masjid Shirathal Mustaqiem, Saksi Bisu Islam Tertua di Samarinda
Foto: Masjid Shirathal Mustaqiem, Saksi Bisu Islam Tertua di Samarinda. (ist)

Berbeda dari dua objek sebelumnya yang terletak jauh dari pusat kota, Masjid Shirathal Mustaqiem justru berdiri di jantung Samarinda. Sebagai salah satu masjid tertua di Kalimantan Timur, keberadaannya menjadi penanda penting perjalanan penyebaran Islam di wilayah Kutai dan sekitarnya.

Masjid-masjid tua semacam ini biasanya bukan cuma tempat ibadah, tapi juga pusat pendidikan agama, ruang pertemuan masyarakat, dan penanda sejarah urban sebuah kota yang berkembang dari pemukiman kecil menjadi kota besar. Dengan status cagar budaya nasional, masjid ini berpotensi mendapat perlindungan hukum yang lebih kuat sekaligus dukungan pendanaan untuk pemeliharaan bangunan bersejarahnya.

4. Museum Sadurengas, Penjaga Ingatan Kesultanan Paser

Museum Sadurengas, Penjaga Ingatan Kesultanan Paser
Foto: Museum Sadurengas, Penjaga Ingatan Kesultanan Paser. (ist)

Terletak di Kabupaten Paser, Museum Sadurengas menyimpan rekam jejak sejarah Kesultanan Paser, salah satu entitas politik penting yang pernah eksis di wilayah selatan Kalimantan Timur sebelum era kemerdekaan. Museum ini menjadi rujukan penting bagi siapa pun yang ingin memahami bagaimana pemerintahan lokal terbentuk di kawasan ini jauh sebelum Kaltim menjadi provinsi seperti sekarang.

Bagi generasi muda Paser khususnya, museum ini adalah jembatan untuk mengenal akar sejarah daerah mereka sendiri, sesuatu yang makin relevan di tengah derasnya arus informasi dan budaya populer yang datang dari luar.

Kenapa Status Nasional Ini Penting?

Menurut Pamong Budaya Disdikbud Kaltim, Lucia Dyah Prasetyarini, upaya menaikkan status keempat objek ini ke peringkat nasional dilakukan demi perlindungan yang lebih luas. Ini bukan sekadar formalitas administratif. Status cagar budaya nasional membawa konsekuensi hukum yang konkret, objek yang sudah ditetapkan akan tercatat dalam Registrasi Nasional Cagar Budaya, pemiliknya berhak mendapat surat keterangan status resmi, dan bahkan berpotensi memperoleh kompensasi dari pemerintah.

Yang membuat momentum ini terasa mendesak adalah konteksnya: semua ini terjadi di tengah pembangunan besar-besaran IKN yang mengubah wajah Kalimantan Timur dengan sangat cepat. Ketua Komisi X DPR RI, Hetifah Sjaifudian, dalam sebuah kegiatan di Samarinda belum lama ini menegaskan bahwa pembangunan daerah tidak boleh hanya berfokus pada kemajuan teknologi dan pertumbuhan ekonomi, kebudayaan harus menjadi fondasi utama pembangunan yang berkelanjutan.

Dengan kata lain, di tengah gedung-gedung baru yang bermunculan di Nusantara, empat warisan ini. Rumah adat Dayak, lukisan gua purba, masjid tua, dan museum kesultanan, adalah pengingat bahwa Kalimantan Timur punya cerita panjang yang jauh mendahului statusnya sebagai ibu kota baru. Menjaga cerita itu tetap hidup, sama pentingnya dengan membangun masa depan.

Artikel ini disusun berdasarkan informasi dari Disdikbud Kalimantan Timur, penelitian arkeologi Indonesia-Australia, Balai Pelestarian Cagar Budaya Kalimantan Timur, dan sejumlah sumber media lokal serta nasional.

Penulis/Editor: Redaksi Akurasi.id

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Menu Vertikal
Menu Sederhana