Kaltim.akurasi.id, Samarinda – Kekeringan mulai berdampak terhadap ketersediaan air bersih di sejumlah wilayah Kota Samarinda. Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda pun menyalurkan suplai air kepada masyarakat yang terdampak, terutama di Kecamatan Sambutan dan Palaran.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Samarinda, Suwarso, mengatakan keterbatasan air bersih terjadi karena sejumlah instalasi PDAM terdampak intrusi air laut. Kondisi tersebut membuat produksi air bersih tidak dapat berjalan secara optimal.
“Sejumlah instalasi PDAM terdampak intrusi air laut sehingga tidak dapat berproduksi secara optimal,” ujarnya.
Sebagai langkah penanganan, BPBD menyalurkan tangki-tangki suplai air ke sejumlah titik yang membutuhkan. Distribusi dilakukan melalui masjid, fasilitas umum, sekolah, hingga rumah warga yang memiliki tempat penampungan air.
Sejumlah wilayah yang mendapat suplai air antara lain Kecamatan Sambutan dan Palaran, termasuk Kelurahan Bantuas.
“Semuanya kita suplai, dan saat ini kondisinya masih bisa terkendali,” tuturnya.
Suwarso menerangkan, status siaga darurat kekeringan di Samarinda telah ditetapkan sejak 25 Agustus hingga 7 September 2026. Status tersebut berlaku selama 14 hari dan akan terus dievaluasi berdasarkan perkembangan kondisi di lapangan.
“Kalau memang cukup 14 hari, kita selesaikan dalam 14 hari. Yang penting, selama masa tersebut kita maksimalkan seluruh potensi dengan melibatkan semua unsur yang ada di Kota Samarinda,” sebutnya.
Selain menyalurkan air bersih, BPBD Samarinda juga menerima bantuan mesin dari BPBD Provinsi Kalimantan Timur. Peralatan tersebut memiliki fungsi ganda untuk mendukung penanganan bencana, baik pada musim kemarau maupun penghujan.
Pada musim kemarau, mesin tersebut dapat digunakan untuk menyedot sumber air dari void bekas tambang, menyiram sawah, hingga membantu pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Sementara pada musim penghujan, peralatan itu dapat dimanfaatkan untuk menyedot genangan air agar banjir lebih cepat surut.
“Kita tahu Samarinda juga sering menghadapi banjir. Karena itu, alat tersebut tetap kita siagakan agar bisa digunakan sesuai kebutuhan,” jelasnya.
Ia menegaskan, BPBD terus memantau perkembangan kekeringan dan ketersediaan air bersih di wilayah terdampak. Penanganan dilakukan dengan mengoptimalkan seluruh sumber daya yang tersedia, termasuk melalui dukungan lintas instansi.
Di sisi lain, masyarakat diimbau menggunakan air secara bijak selama masa kekeringan. Warga juga diminta segera melaporkan apabila mengalami kesulitan mendapatkan air bersih agar dapat ditindaklanjuti oleh petugas. (*)
Penulis: Muhammad Zulkifli
Editor: Redaksi Akurasi.id