Kaltim.akurasi.id, Penajam Paser Utara– Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Penajam Paser Utara (PPU) mulai mengkaji potensi pengembangan peternakan sapi dengan metode ekstensif sebagai salah satu peluang baru di sektor agribisnis daerah.
Asisten Bidang Ekonomi, Keuangan dan Pembangunan Setkab PPU, Margono Hadi Susanto, mengatakan kajian tersebut merupakan upaya pemerintah mencari potensi lain dari sektor peternakan. Khususnya melalui pola pemeliharaan sapi dengan sistem dilepasliarkan atau digembalakan.
Menurut Margono, metode ekstensif dinilai memiliki sejumlah keunggulan dari sisi biaya operasional dan kebutuhan tenaga kerja. Sapi tidak sepenuhnya dipelihara dalam kandang, tetapi memanfaatkan lahan yang memiliki potensi sebagai area penggembalaan.
“Peternakan sapi metode ekstensif itu memang lebih minim perawatan, minim operasional, kemudian bisa meng-handle lebih banyak dengan tenaga yang lebih sedikit,” kata Margono.
Ia menjelaskan, pola tersebut memungkinkan seorang tenaga pengelola menangani jumlah sapi lebih banyak dibandingkan sistem pemeliharaan intensif yang membutuhkan penyediaan pakan secara rutin.
Potensi pengembangan juga tidak terbatas pada satu lokasi. Pemerintah daerah masih melihat berbagai kemungkinan lahan yang dapat dimanfaatkan. Termasuk melalui integrasi peternakan sapi dengan perkebunan kelapa sawit, kawasan hutan, maupun lahan masyarakat.
Kajian tersebut telah dituangkan dalam bentuk policy paper yang memuat hasil riset sekaligus simulasi kelayakan usaha. Margono mengatakan terdapat tiga skenario yang dihitung berdasarkan jumlah sapi indukan, yakni 50 ekor, 75 ekor, dan 100 ekor.
“Kalau hasil riset itu, tadi kita bikin tiga simulasi, kasih indukan yang 50 ekor, 75 ekor dan 100 ekor. Artinya kita punya juga opsi simulasinya,” ujarnya.
Dalam kajian tersebut, pemerintah juga menghitung aspek kelayakan bisnis dan tingkat pengembalian investasi. Margono menyebut salah satu simulasi menunjukkan tingkat kelayakan bisnis yang cukup tinggi. Namun, ia belum menyampaikan secara rinci besaran modal dan potensi keuntungan dari masing-masing skenario.
Ia mengatakan data lebih detail mengenai simulasi tersebut akan disampaikan kemudian agar angka yang digunakan tidak keliru. Menurut Margono, hasil kajian itu berpeluang dikembangkan menjadi salah satu sumber pendapatan asli daerah (PAD), meski keputusan akhirnya tetap bergantung pada kebijakan Bupati PPU.
“Bisa jadi, kan tergantung Bapak Bupati,” katanya.
Margono menyebut respons bupati terhadap hasil riset tersebut cukup positif. Bupati juga telah meminta organisasi perangkat daerah (OPD) terkait untuk menindaklanjuti hasil kajian tersebut. Tahapan berikutnya, kata dia, salah satunya menentukan terlebih dahulu entitas yang akan mengelola pengembangan usaha peternakan tersebut.
Pemerintah memiliki sejumlah opsi, termasuk penugasan kepada badan usaha milik daerah maupun unit pelaksana teknis yang berkaitan dengan pengembangan sektor pertanian dan perkebunan.
Selain itu, pola kerja sama juga perlu ditentukan. Pemerintah dapat mempertimbangkan integrasi peternakan sapi dengan perusahaan perkebunan kelapa sawit, pemanfaatan kawasan hutan sesuai ketentuan, maupun kerja sama dengan masyarakat pemilik lahan.
Skema pengelolaan ternak juga dapat menggunakan pola bagi hasil atau sistem gaduh. Dalam skema tersebut, pemerintah dapat berperan sebagai pihak yang melakukan investasi atau menyediakan ternak, sementara pengelolaan dilakukan melalui pola kerja sama yang disepakati.
Margono mengatakan pengembangan peternakan sapi dengan metode ekstensif merupakan bagian dari upaya PPU untuk melihat peluang agribisnis di luar sektor yang selama ini menjadi andalan daerah.
“Jadi kita mencoba melirik sektor agribisnis. PPU ini kan potensinya itu,” ujarnya.
Ia berharap hasil riset yang telah disusun dapat menjadi bahan pertimbangan pemerintah daerah dalam menentukan model pengembangan peternakan sapi yang paling memungkinkan sekaligus memberikan manfaat ekonomi bagi daerah.
“Ya ini hasil riset kan harapannya bisa dipertimbangkan untuk potensi PAD baru,” pungkasnya. (adv/diskominfoppu/dv)
Editor: Suci Surya Dewi