Sudarno Tinggalkan Kursi TAGUPP Kaltim, Tepis Adanya Isu Tekanan Mahasiswa

Sudarno memutuskan tidak lagi ingin duduk di kursi TAGUPP Kaltim, bukan karena adanya tekanan dari mahasiswa atau orang lain. Ia mengaku keputusan itu murni atas kesadaran dirinya sendiri.
kaltim_akurasi
3.8K Views

Kaltim akurasi.id, Samarinda – Sudarno memilih melanjutkan perannya sebagai pengawas dari luar pemerintahan setelah resmi mengundurkan diri dari Tim Ahli Gubernur untuk Percepatan Pembangunan (TAGUPP) Kalimantan Timur (Kaltim). Meski tak lagi berada dalam lingkaran pemerintahan, ia memastikan tetap mengikuti perkembangan kebijakan Gubernur Rudy Mas’ud bersama Wakil Gubernur Seno Aji hingga akhir masa jabatan.

Keputusan tersebut diambil agar dirinya memiliki ruang lebih luas dalam menyampaikan pandangan terhadap penyelenggaraan pemerintahan. Sudarno menilai, posisi di luar struktur pemerintah memberinya keleluasaan untuk memberikan penilaian tanpa harus dikaitkan dengan institusi yang sebelumnya menaunginya.

“Saya ingin mengambil posisi sebagai pihak di luar pemerintahan agar dapat lebih leluasa menjalankan fungsi pengawasan terhadap program dan janji politik kepala daerah,” kata Sudarno saat konferensi pers, Kamis (5/11/2026).

Secara administratif, pengunduran diri itu telah disampaikan kepada Rudy Mas’ud dan Seno Aji melalui surat tertanggal 1 November 2026. Statusnya sebagai anggota TAGUPP Bidang Informasi dan Komunikasi Publik berakhir terhitung sejak 3 November 2026.

Sudarno menegaskan, keputusannya tidak mengubah komitmen untuk mengawasi pelaksanaan agenda pembangunan daerah. Terlebih, kondisi keuangan Kaltim yang mengalami penurunan dibandingkan periode sebelumnya membuat penggunaan anggaran dan pencapaian program prioritas perlu diperhatikan secara serius.

Menurutnya, setiap janji yang disampaikan kepala daerah kepada masyarakat harus memiliki kejelasan dalam pelaksanaannya. Ia ingin memastikan program tersebut tidak berhenti pada perencanaan, tetapi benar-benar diwujudkan sesuai kebutuhan masyarakat.

“Yang pasti, saya akan mengawal semua janji politik program bisa dilaksanakan dengan semaksimal mungkin,” ujarnya.

Dalam menjalankan fungsi tersebut, Sudarno tidak menempatkan dirinya sebagai pihak yang selalu berseberangan dengan pemerintah daerah. Ia tetap bersedia memberikan apresiasi apabila kebijakan yang diambil berjalan sesuai tujuan. Namun, evaluasi dan kritik tetap akan disampaikan ketika ditemukan persoalan.

Ia menilai kritik merupakan bagian dari pengawasan terhadap jalannya pemerintahan, bukan bentuk penolakan terhadap kepemimpinan Rudy-Seno.

“Saya akan dukung penuh ketika pemerintah ini benar. Tapi begitu ada kekurangannya, saya juga akan melakukan kritik kepada pemerintah yang sifatnya konstruktif,” tuturnya.

Sudarno mengungkapkan salah satu alasan yang membuatnya mantap meninggalkan TAGUPP. Selama menjalankan tugas sebagai anggota tim ahli, sejumlah pandangan dan kritik yang ia sampaikan, termasuk melalui media sosial, kerap dihubungkan dengan posisinya di lingkungan pemerintah provinsi.

Kondisi tersebut dinilai dapat menimbulkan persepsi seolah-olah setiap pernyataan pribadinya merupakan bagian dari sikap resmi TAGUPP. Karena itu, ia merasa perlu membatasi hubungan antara aktivitas pribadinya dan lembaga pemerintahan.

“Selama ini saya di media sosial, orang masih menyangkut-nyangkutkan dengan Tim Ahli Gubernur. Maka saya harus ada di luar pemerintahan supaya pemerintahan ini tidak terimbas dengan apa yang saya lakukan,” jelasnya.

Ia turut meluruskan bahwa surat yang disampaikan kepada gubernur merupakan pernyataan pengunduran diri, bukan pengajuan permohonan yang harus menunggu keputusan atau persetujuan kepala daerah.

Sementara itu, terkait desakan pencopotan dirinya dalam aksi Gerakan Rakyat Menggugat (GERAM), Sudarno menampik bahwa demonstrasi sekitar 300 mahasiswa menjadi alasan utama keputusannya. Ia menyebut rencana untuk mengakhiri keterlibatannya di TAGUPP sudah dipikirkan sejak 2025.

Sudarno bahkan mengaku tidak akan mengubah keputusan hanya karena tekanan dari kelompok tertentu, termasuk mahasiswa yang menyampaikan tuntutan melalui demonstrasi.

“Saya ini orang paling keras kepala kalau hal prinsip. Mau mahasiswa se-Kaltim atau apalagi kemarin 300 orang, enggak ada urusan,” tegasnya.

Mengenai respons pimpinan daerah, Sudarno menyebut Rudy Mas’ud menghormati pilihannya. Berbeda dengan itu, Seno Aji sempat mengajaknya berbicara dan berharap dirinya tetap bertahan di dalam tim ahli.

“Saya memastikan tetap memantau kinerja pemerintahan Rudy-Seno, khususnya pencapaian agenda politik yang sebelumnya dijanjikan kepada masyarakat Kaltim,” pungkasnya. (drh/mz)

Editor: Dirhanuddin

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Menu Vertikal
Menu Sederhana