Kaltim.akurasi.id, Mataram — Aksi Global Climate Strike bertajuk Just Transition Now yang digelar Koalisi Rakyat dan Mahasiswa Nusa Tenggara Barat mencuri perhatian warga saat berlangsung di area CFD Taman Udayana, Minggu pagi. Sejak pukul 06.00 WITA, ratusan peserta—didominasi anak muda, komunitas lingkungan, pegiat seni, hingga masyarakat umum—berkumpul di Tugu Pesawat, Simpang Udayana, sebelum melakukan long march menuju pusat keramaian CFD.
Aksi yang terhubung dengan jaringan protes iklim global ini menekankan tiga desakan utama: transisi energi bersih yang adil harus dimulai sekarang, hentikan ketergantungan Indonesia pada energi fosil, dan akhiri kriminalisasi terhadap warga serta aktivis lingkungan. Pesan para peserta, terutama generasi muda, disampaikan dengan lugas: mereka menolak hidup di dunia yang rusak akibat keputusan politik hari ini dan menolak mewarisi krisis ekologis yang ditinggalkan generasi sebelumnya.
Beragam aksi kreatif turut meramaikan kegiatan, mulai dari poster, instalasi seni, pembacaan puisi, hingga orasi kritis. Komunitas seni menampilkan musik tradisional gendang beleq dan teatrikal dengan tema Just Transition Now. Para juru bicara koalisi memaparkan persoalan konkret di NTB, mulai dari ekspansi tambang, kekeringan berkepanjangan, banjir, hilangnya ruang hidup warga, hingga konflik agraria yang tak kunjung terselesaikan.
Dalam pernyataan penutup, penyelenggara menegaskan bahwa aksi ini bukan seremoni tahunan, melainkan tekanan moral dan politik kepada pemerintah. NTB disebut sebagai wilayah yang sangat rentan terhadap dampak krisis iklim, namun suara publik—khususnya anak muda—kerap diabaikan dalam perumusan kebijakan. Koalisi juga menolak solusi pseudo-ilmiah dan meminta pemerintah berhenti memberikan janji tanpa aksi nyata.
Mereka menuntut perlindungan bagi masyarakat dan aktivis yang memperjuangkan lingkungan, serta memastikan transisi energi dan kebijakan iklim tidak meninggalkan kelompok rentan. Tingginya partisipasi peserta menunjukkan meningkatnya kesadaran publik di Mataram dan NTB. Banyak pengunjung CFD berhenti untuk mendokumentasikan kegiatan, bahkan ikut bergabung. Pelajar dan mahasiswa tampak mendominasi barisan, mencerminkan kecemasan mereka terhadap masa depan jika pemerintah terus lamban menghadapi krisis ekologis.
Baca Juga
Aksi ini juga menjadi momentum memperkuat jaringan komunitas di NTB. Penyelenggara berkomitmen mendorong edukasi publik, advokasi kebijakan, serta kolaborasi lintas sektor dengan sejumlah tuntutan, di antaranya:
- Transisi energi bersih berbasis komunitas
- Pembangunan inklusif dan berkeadilan
- Perlindungan ruang hidup dan wilayah adat
- Penghentian bertahap operasional PLTU batu bara
- Keterlibatan bermakna orang muda
- Kebijakan iklim yang konkret dari pemerintah daerah dan pusat
- Moratorium tambang, termasuk tambang rakyat di NTB
- Penghentian kriminalisasi gerakan rakyat. (*)
Penulis: Nelly Agustina
Editor: Redaksi Akurasi.id