Kaltim.akurasi.id, Bontang – Kalimantan Timur memiliki banyak warisan budaya yang mencerminkan kehidupan masyarakat adat, salah satunya melalui alat musik Kelentangan. Di antara berbagai kesenian yang berkembang, Kelentangan menjadi salah satu alat musik khas Kalimantan Timur yang memiliki nilai sejarah dan filosofi mendalam. Alat musik ini tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga menjadi bagian penting dalam berbagai kegiatan adat masyarakat Dayak.
Kelentangan merupakan alat musik tradisional Kalimantan Timur yang dimainkan dengan cara dipukul. Alat musik ini dikenal dengan beberapa penyebutan berbeda di sejumlah kelompok masyarakat Dayak, seperti Kelentangan pada masyarakat Dayak Bulungan, Klentang-an pada masyarakat Dayak Kutai, serta Gluning pada masyarakat Dayak Benuaq dan Tunjung.
Secara bentuk, Kelentangan memiliki beberapa jenis. Salah satu bentuk yang dikenal adalah alat musik yang menyerupai gong kecil. Jenis ini terdiri dari enam buah gong berukuran kecil yang terbuat dari logam atau perunggu dan disusun pada sebuah tempat dudukan berbentuk kotak persegi panjang yang disebut rancak. Selain itu, terdapat pula Kelentangan berbahan kayu yang tersusun dari bilah-bilah kayu dan dimainkan seperti alat musik pukul jenis silofon.
Kelentangan kayu umumnya dibuat menggunakan kayu belembong atau pelantan. Kayu tersebut dipilih karena memiliki karakter kuat, ringan, dan serat yang lurus sehingga mudah dibentuk. Dalam pembuatannya, bilah-bilah kayu dipotong dengan ukuran tertentu agar dapat menghasilkan nada yang berbeda. Biasanya terdapat enam hingga delapan bilah kayu yang disusun pada tempat khusus berbentuk perahu atau kotak.
Keindahan Kelentangan tidak hanya terdapat pada bunyinya, tetapi juga pada bentuknya. Bagian alat musik ini sering dihiasi dengan ukiran khas Dayak, termasuk motif kepala burung Enggang yang dianggap sebagai hewan sakral oleh masyarakat Dayak Modang. Ukiran tersebut menjadikan Kelentangan memiliki nilai seni yang tinggi selain sebagai alat musik.
Cara memainkan Kelentangan dilakukan dengan memukul bilah atau bagian gong menggunakan batang pemukul kayu. Pemain menggunakan kedua tangan untuk menghasilkan irama dan biasanya harus memahami susunan nada agar dapat memainkan melodi dengan baik. Pemain yang sudah mahir bahkan mampu memainkan Kelentangan tanpa harus melihat posisi bilah ketika memukul.
Pada masa lalu, Kelentangan memiliki fungsi sederhana sebagai alat untuk mengusir burung di area persawahan. Namun, seiring perkembangan zaman, fungsi alat musik ini berubah menjadi bagian dari kegiatan adat dan kebudayaan. Kelentangan mulai digunakan untuk mengiringi upacara adat, penyambutan tamu, upacara erau, pertunjukan tari tradisional, hingga ritual tertentu termasuk kegiatan pengobatan masyarakat adat.
Bagi masyarakat Dayak, musik bukan hanya sekadar hiburan, tetapi juga menjadi media untuk mengekspresikan keindahan, kreativitas, serta hubungan manusia dengan alam dan tradisi leluhur. Karena itu, Kelentangan memiliki nilai sakral terutama ketika dimainkan dalam kegiatan adat tertentu.
Selain nilai budaya, Kelentangan juga memiliki nilai seni dan pariwisata. Proses pembuatan yang membutuhkan keterampilan mengukir serta teknik menghasilkan suara menjadikan alat musik ini sebagai karya seni yang berharga. Pertunjukan Kelentangan dalam acara budaya juga menjadi daya tarik bagi wisatawan yang ingin mengenal tradisi Kalimantan Timur.
Namun, keberadaan Kelentangan kini mulai menghadapi tantangan karena semakin sedikit masyarakat yang dapat membuat dan memainkannya. Pelestarian alat musik tradisional ini menjadi penting agar generasi muda tetap mengenal warisan budaya daerahnya.
Kelentangan bukan hanya alat musik pukul dari Kalimantan Timur. Setiap bunyi yang dihasilkan membawa cerita tentang sejarah, adat, dan kehidupan masyarakat Dayak yang telah diwariskan selama bertahun-tahun. (*)
Penulis: Siti Rosidah More
Editor: Suci Surya Dewi