Ramai Kasus Bullying, Disdikbud Samarinda Dorong Sekolah-Sekolah Bentuk TPPK

Devi Nila Sari
352 Views

Disdikbud Samarinda dorong seluruh sekolah di Tepian Mahakam bentuk TPPK. Guna mencegah terjadinya kasus bullying atau perundungan.

Kaltim.akurasi.id, SamarindaDinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Samarinda minta kepada seluruh sekolah untuk bentuk Tim Pencegahan Penanganan Kekerasan (TPPK). Hal dilakukan guna mencegah terjadinya kasus bullying atau perundungan di lingkungan sekolah.

Sebab, belakangan ini ramai beredar kabar terjadinya kasus perundungan, bahkan berujung penganiayaan. Seperti video viral yang beredar belakangan ini, yang menampilkan penganiayaan oleh siswa sekolah menengah pertama (SMP) di Cilacap.

Vidio yang menampilkan aksi perundungan dan penganiayaan itu dilakukan oleh seorang siswa berinisial MK (15). Tak pelak, kasus itupun mengundang kecaman dari berbagai pihak.

Hal tersebut mendorong Kepala Diadikbud Kota Samarinda, Asli Nuryadin, mengimbau kepada setiap sekolah di Samarinda untuk membentuk tim TPPK. Guna meminimalisir tindakan perundungan dilingkungan sekolah.

“Baik itu SD maupun SMP agar membentuk tim khusus anti kekerasan dan perundungan. Sebagai antisipasi adanya perundungan serta aksi bullying di sekolah,” kata Asli Nuryadin, Jum’at (29/9/2023).

TPPK Miliki Nilai Krusial

Menurutnya, bentukan TPPK ini dinilai sangat krusial. Untuk menciptakan rasa aman bagi masing-masing individu peserta didik. Selain itu, TPPK juga dapat menekan kekerasan dan aksi perundungan di lingkungan sekolah.

“Karena berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Permendikbudristek) No 46 Tahun 2023. Tentang Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Lingkungan Satuan Pendidikan (PPKSP). Untuk itu, saya meminta pada sekolah untuk bentuk tim TPPK,” jelasnya.

Dalam hal ini, siswa tidak diperkenankan untuk menjadi anggota TPPK. Peserta didik hanya mengampanyekan bukan sebagai pelaksana tugas, karena mereka adalah agen perubahan.

“Pun dikhawatirkan penanganan kekerasan menjadikan peserta didik menjadi korban kelompok. Akibat secondary trauma yang dapat mempengaruhi kesehatan fisik dan psikis,” tegasnya.

Lebih lanjut, Asli mengimbau pada para peserta didik, untuk dapat untuk memilah informasi positif di media sosia supaya tidak mudah termakan hoaks.

“Terlebih, orang tua juga memiliki peran dalam pengawasan anaknya di rumah. Karena, paparan dari media sosial sangat berbahaya jika tidak dipilah terlebih dahulu,” pungkasnya. (*)

Penulis: Muhammad Zulkifli
Editor: Devi Nila Sari

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Menu Vertikal
Menu Sederhana