Kaltim.akurasi.id, Bontang – Suku Kutai merupakan suku dan adat asli masyarakat yang mendiami pesisir Kalimantan Timur, terutama di wilayah Kabupaten Kutai Kartanegara. Sering disebut sebagai Urang Kutai, nama “Kutai” awalnya merujuk pada sebuah teritori tempat bermukim masyarakat asli Kalimantan. Seiring waktu, suku ini banyak menyerap pengaruh budaya Melayu pesisir, Banjar, serta unsur Dayak, sehingga membentuk identitas yang kaya dan unik.
Secara umum, masyarakat Kutai beragama Islam. Namun, dalam kehidupan sehari-hari, mereka masih menyembah roh. Beberapa pusaka kerajaan dianggap suci, seperti mahkota emas yang dihiasi permata, kalung uncal, kalung bergambar Wisnu (dewa Hindu), dan kalung dengan dua burung mitos.
Kepercayaan masyarakat Kutai berfokus pada upaya mencari perlindungan dari Sanghyang (kata dalam bahasa Hindu untuk roh) melalui sihir dengan menenangkan dan mengendalikan roh baik dan jahat. Sebelumnya, masyarakat Kutai beragama Hindu dan disebut ‘Kaharingan’. Namun sejak itu, sebagian besar penduduk di daerah Kutai telah memeluk Islam. Hal ini mengakibatkan banyak percampuran antara agama Islam dan Hindu.
Sejarah Suku Kutai sangat erat kaitannya dengan dua kerajaan besar yang menjadi bagian penting dari sejarah Bangsa Indonesia. Pertama, Kerajaan Kutai Martadipura (atau sering disebut Kutai Martapura), yang berdiri sekitar abad ke-4 Masehi. Kerajaan Hindu tertua di Nusantara ini terletak di Muara Kaman.
Keberadaannya dibuktikan melalui prasasti Yupa yang ditemukan di Bukit Belves, menggunakan bahasa Sanskerta dan aksara Pallawa. Raja pertamanya adalah Kudungga, yang kemudian dilanjutkan oleh putranya Aswawarman dan mencapai puncak kejayaan pada masa Maharaja Mulawarman. Kerajaan ini mencerminkan pengaruh Hindu yang kuat, termasuk upacara keagamaan yang dipimpin brahmana.
Kedua, Kerajaan Kutai Kartanegara muncul pada awal abad ke-14 di Kutai Lama (Tepian Batu). Raja pertamanya adalah Aji Batara Agung Dewa Sakti. Kerajaan ini disebutkan dalam Kakawin Negarakretagama karya Mpu Prapanca sebagai salah satu wilayah taklukan Majapahit. Pada 1575, kerajaan ini berubah menjadi kesultanan Islam di bawah pengaruh dakwah dari Makassar.
Pada 1635, Kutai Kartanegara menaklukkan Kerajaan Martapura dan menyatukan nama menjadi Kesultanan Kutai Kertanegara ing Martapura. Ibu kota berpindah beberapa kali hingga ke Tenggarong. Kesultanan ini bertahan hingga 1960, dan kini dihidupkan kembali sebagai simbol pelestarian budaya sejak 1999-2001 dengan penobatan Sultan Aji Muhammad Salehuddin II.
Hingga kini, Suku Kutai terus menjunjung tinggi adat dan budaya leluhur sebagai kearifan lokal yang dilestarikan. Upacara adat seperti Erau yakni pesta adat meriah yang dulunya untuk penobatan raja, kini menjadi atraksi wisata masih rutin dilaksanakan. Ada pula Belian yaitu tarian penyembuhan, serta pengaruh Melayu seperti Tari Jepen (atau Zapin), musik Panting Gambus, dan pertunjukan Mamanda.
Rumah tradisional Adat Kutai berbentuk panggung panjang, bahasa Kutai yang khas, serta pakaian adat tetap dijaga sebagai identitas. Beberapa komunitas bahkan masih mempertahankan kepercayaan Kaharingan atau Kristen di desa tertentu. (*)
Penulis: Siti Rosidah More
Editor: Suci Surya Dewi