Hampir 80 persen benih padi datang dari luar Kaltim. Hal ini disebut menjadi penghambat ketika pemerintah ingin membantu petani.
Kaltim.akurasi.id, Samarinda – Selain air, ketersediaan benih padi menjadi salah satu penyumbang masalah bagi sektor pertanian di Kaltim. Hal ini dikatakan Kepala Dinas Pangan Tanaman Pangan dan Holtikultura (DPTPH) Provinsi Kaltim Siti Farisyah Yana.
“Kami babak belur membangun penangkar benih, untuk bisa memproduksi benih padi dengan baik,” terangnya di Kutai Kertanegara, Senin (13/5/2024).
Dikatakannya, hampir 80 persen benih padi datang dari luar Kaltim. Hal ini disebut menjadi penghambat ketika pemerintah ingin membantu petani. Kualitas benih pun belum mumpuni.
Kejadian ini terjadi karena cara panen yang dilakukan sekaligus. Kemudian penyimpanan yang kurang baik juga menyebabkan turunnya angka benih yang bisa disebar.
Tak hanya itu, cara dan pola tanam petani Kaltim pun masih terbatas. Ditambah lahan tanak yang memiliki pH asam yang tinggi, yakni di bawah 5 masih menjadi momok untuk penanaman padi.
Sebenarnya hal ini sudah diatasi melalui proses pengapuran. Nyatanya metode itu tidak cukup, masih dibutuhkan cara lain untuk menghasilkan struktur tanah yang lebih baik bagi pertanian generatif. Pasalnya, jenis pertanian tersebut memerlukan proses yang berkelanjutan.
Selama ini benih yang dihasilkan oleh penangkar hanya dapat menghasilkan 3 sampai 4 ton per hektare. Untuk itu, pihaknya pun mencoba untuk menghasilkan varietas baru agar produksi dapat meningkat, yaitu Inpari 32, Inpari 48, Mekongga, dan Cibogo. Dengan harapan varietas tersebut dapat menghasilkan 5 ton per hektare.
Yana mengatakan, ada dua hal yang dapat meningkatkan produksi, yaitu penambahan luas panen dan menambah berat produksi yang dapat dihasilkan dalam satu hektar.
Untuk menghasilkan padi yang lebih berat, maka diperlukan bulir yang berkualitas. Dalam kata lain, pihaknya mencoba untuk mengurangi bulir hampa. Hal ini lah yang menyebabkan kualitas benih Kaltim lebih rendah dibandingkan wilayah lain.
“Sudah selayaknya pemerintah turun tangan karena ini masalah darurat pangan. Kami coba hari ini mulai sedikit demi sedikit mulai kemandirian pangan,” tandasnya. (*)
Penulis: Yasinta Erikania Daniartie
Editor: Redaksi Akurasi.id