Gejala Mirip, Penyebab Beda: Kenali Perbedaan Maag dan GERD

Banyak yang mengira maag dan GERD merupakan kondisi yang sama karena gejalanya mirip. Namun, sebenarnya keduanya memiliki kondisi yang berbeda. Yuk kenali perbedaan maag dan GERD.
Devi Nila Sari
2.1k Views

Kaltim.akurasi.id, Samarinda – Ketika mengalami nyeri ulu hati, mual, dan kembung, seringkali muncul diagnosa sementara orang kena maag. Namun, tak jarang muncul diagnosa orang kena GERD. Kedua penyakit ini sering tertukar karena gejalanya mirip, tapi maag dan GERD adalah dua kondisi berbeda.

Agar tidak salah penanganan dan salah obat, yuk kenali bedanya.

Apa Itu Maag dan GERD?

Dikutip dari berbagai sumber, maag atau dalam istilah medis disebut gastritis adalah peradangan pada lapisan lambung. Pemicunya bisa karena infeksi bakteri H. pylori, terlalu sering minum obat pereda nyeri, alkohol, atau telat makan.

GERD atau Gastroesophageal Reflux Disease adalah kondisi ketika asam lambung naik kembali ke kerongkongan. Katup antara lambung dan kerongkongan melemah, sehingga asam “bocor” ke atas. Pengidap GERD umumnya merasa kesulitan tidur, tak bisa tidur dengan berbaring rata, dan napas terasa tidak lega.

Singkatnya: Maag = masalah di lambung. GERD = masalah asam naik ke atas.

Kesimpulannya, kedua penyakit ini ama-sama di area perut, tapi “rumah” masalahnya beda. Maag di lambung, GERD di perbatasan lambung dan kerongkongan.

Perbedaan Gejala Maag vs GERD

Biar enggak ketuker, berikut perbedaan gejala maag dan GERD.

 

Gejala Utama

Maag: Nyeri atau perih di ulu hati, perut kembung, mual, dan muntah

GERD: Dada panas seperti terbakar, rasa asam di mulut, suara serak, batuk kering, sulit menelan

 

Waktu Kambuh

Maag: Saat telat makan atau perut kosong

GERD: Setelah makan besar, makan pedas/berlemak, atau langsung tiduran

 

Penyebab

Maag: Bakteri H. pylori, obat NSAID, alkohol, stres

GERD: Obesitas, kehamilan, makanan berlemak, rokok, hernia hiatus

 

Solusi

Maag: Makan teratur

GERD: Duduk tegak, tidak makan 2-3 jam sebelum tidur

 

Tingkat Bahaya dan Komplikasi

Maag: Bersifat lokal di lambung. Komplikasi bisa berupa tukak lambung (luka berdarah) jika tidak diobati

GERD: Asam lambung bisa mengikis kerongkongan, merusak gigi, hingga memicu sesak napas dan asma.

Siapa yang Lebih Berisiko Mengalami Maag atau GERD?

Beberapa orang memiliki risiko lebih tinggi mengalami sakit maag maupun GERD karena faktor gaya hidup, kondisi kesehatan, serta kebiasaan sehari-hari. Berikut faktor yang dapat meningkatkan risiko terjadinya GERD?

– Pola makan tidak teratur

– Stress atau kecemasan berlebih.

– Obesitas atau kelebihan berat badan

– Kehamilan

– Kebiasaan merokok

– Konsumsi alkohol dan kafein

– Penggunaan obat tertentu

– Faktor usia

– Riwayat penyakit pencernaan

Kapan Harus ke Dokter?

Berikut beberapa kondisi yang mengharuskan ke dokter.

1. Saat mengalami nyeri hebat dan tidak hilang dengan obat warung.

2. Muntah darah atau BAB hitam seperti aspal.

3. Penurunan berat badan drastis.

4. Sulit menelan dan dada terasa tertekan terus.

5. Gejala sudah lebih dari 2 minggu meski sudah jaga makan.

6. Dokter biasanya akan melakukan endoskopi untuk memastikan apakah itu maag, GERD, atau ada masalah lain.

Penanganan Dasar

Saat mengalami gejala-gejala tersebut, jangan panik. Ada beberapa penanganan dasar yang bisa dilakukan.

Untuk Maag: Teratur makan, hindari kopi, pedas, asam, alkohol. Dokter bisa kasih obat penekan asam dan antibiotik jika karena H. pylori.

Untuk GERD: Porsi makan dikecilkan tapi lebih sering, hindari tiduran 3 jam setelah makan, ganjal kepala saat tidur, hindari cokelat, gorengan, dan minuman bersoda.

Sebagai catatan, artikel ini untuk informasi umum dan bukan pengganti konsultasi medis. Jika keluhan berlanjut, segera periksakan diri ke dokter. (*)

Penulis: Pewarta
Editor: Devi Nila Sari

TAGGED:
Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Menu Vertikal
Menu Sederhana