Waspada! 9 Penyakit yang Sering Muncul Saat Musim Kemarau Panjang

Musim kemarau tidak hanya rawan kebakaran hutan, namun juga memicu lonjakan penyakit. Berikut beberapa penyakit yang perlu diwaspadai salama musim kemarau.
Devi Nila Sari
2.6K Views

Kaltim.akurasi.id, Samarinda – Masuk Agustus 2026, cuaca panas dan kemarau panjang kembali melanda Kalimantan. Selain rawan kebakaran hutan, musim kemarau juga memicu lonjakan beberapa penyakit.

Data Dinkes Kaltim mencatat penyakit yang perlu diantisipasi antara lain infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), terutama apabila kualitas udara memburuk akibat kabut asap. Oleh karena itu, masyarakat diminta selalu waspada dan menjaga kesehatan selama musim kemarau.

Penyakit yang Muncul Saat Musim Kemarau

Lalu penyakit apa saja yang harus diwaspadai? Berikut rangkumannya.

1. Penyakit Saluran Pernapasan

Penyakit saluran pernapasan menjadi penyakit paling dominan saat kemarau. Terlebih musim kemarau kerap disertai kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Udara yang kering, berdebu, hingga polusi membuat saluran pernapasan mudah iritasi. Berikut beberapa penyakit saluran pernapasan yang perlu diwaspadai.

– ISPA: gejalanya batuk, pilek, sakit tenggorokan, demam. Paling banyak menyerang anak dan pekerja outdoor.

– Asma dan Alergi: debu dan partikel asap memicu sesak napas dan batuk berdahak.

– Pneumonia: Komplikasi ISPA yang berbahaya. Rawan pada balita dan lansia.

– Konjungtivitis: Mata merah, perih, dan berair karena paparan debu dan asap.

2. Penyakit Kulit

Cuaca panas membuat produksi keringat tubuh jadi berlebih. Jika kamu beraktivitas di luar ruangan, ditambah debu, hal ini bisa membuat kulit gampang bermasalah. Berikut beberapa penyakit kulit selama kemarau yang perlu diwaspadai.

– Dermatitis/Kulit kering: kulit bersisik, gatal, dan pecah-pecah.

– Scabies / Kudis: enyakit kulit menular akibat jamur dan tungau. Sering muncul di lingkungan padat.

– Infeksi jamur: tumbuh di area lipatan seperti leher, ketiak, dan selangkangan.

– Bisul dan jerawat: pori-pori tersumbat debu dan keringat.

3. Penyakit dari Air dan Makanan

Saat musim kemarau, berhati-hati dalam penggunaan air, terutama yang dikonsumsi tubuh. Karena kondisi air bersih menipis, masyarakat kerap terpaksa menggunakan air seadanya sehingga meningkatkan risiko kontaminasi tinggi. Berikut penyakit yang harus diwaspadai.

– Diare: disebabkan bakteri E.coli dari air minum yang tidak dimasak atau makanan basi karena cuaca panas.

– Tifus: penularan lewat makanan jajan yang terbuka dan terkontaminasi debu.

– Hepatitis A: virus menular melalui air dan makanan yang terkontaminasi tinja.

4. Penyakit Akibat Panas Ekstrem

Terlalu lama terpapar cuaca panas juga bisa memberikan dampak serius pada tubuh, hingga mengancam nyawa. Berikut penyakit yang perlu diwaspadai.

– Dehidrasi: atau kekuangan cairan. Ciri-cirinya pusing, lemas, urine berwarna pekat.

– Heat exhaustion: kelelahan karena panas. Gejalanya mual, pusing, kulit dingin dan berkeringat.

– Heatstroke: kondisi darurat. Suhu tubuh >40°C, bisa menyebabkan pingsan.

5. Demam Berdarah Dengue – DBD

Banyak yang mengira DBD adalah penyakit yang marak terjadi saat musim hujan. Faktanya, awal musim kemarau kasus DBD justru naik. Penyebabnya kebiasaan menampung air di bak, ember, dan tong untuk antisipasi krisis air. Genangan air itu jadi tempat favorit nyamuk aedes aegypti bertelur.

Cara Mencegah Penyakit Saat Musim Kemarau

Sebagai langkah antisipasi, perhatikan hal-hal berikut saat musim kemarau.

1. Pakai masker saat keluar rumah. Tutup ventilasi saat kabut asap tebal

2. Minum air putih minimal 2-3 liter per hari. Hindari kopi dan minuman manis berlebihan.

3. Mandi 2x sehari. Gunakan pelembab. Ganti baju jika basah keringat.

4. Masak air sampai mendidih. Cuci tangan pakai sabun. Jaga kebersihan makanan.

5. Jalankan 3M Plus: menguras, menutup, mengubur. Tabur bubuk abate di tempat penampungan air.

Kelompok yang Paling Rentan

Anak usia di bawah 5 tahun, lansia di atas 60 tahun, ibu hamil, dan pekerja yang beraktivitas di luar ruangan, menjadi kelompok paling rentan. Oleh karena itu, masyarakat diimbau segera ke puskesmas atau fasilitas kesehatan terdekat jika mengalami demam lebih dari 3 hari, sesak napas, diare tidak berhenti, atau tanda dehidrasi berat. (*)

Penulis/Editor: Devi Nila Sari

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Menu Vertikal
Menu Sederhana