Psikiater RSUD Taman Husada Bontang menjelaskan efek samping anti depresan tidak terjadi pada semua pasien.
Kaltim.akurasi.id, Bontang – Umumnya penderita gangguan mental berat akan diresepkan antidepresan sebagai obat penenang. Namun, salah satu kekhawatiran yang sering muncul pada pasien yakni efek samping dari obat mental atau antidepresan yang dapat memengaruhi bentuk tubuh, khususnya kenaikan pada berat badan.
Hal ini mendapat respon dari Psikiater RSUD Taman Husada Bontang, dr. Dewi Maharni, M.Sc., Sp.KJ. dirinya menyebut efek samping ini tidak terjadi pada semua pasien. Meskipun beberapa obat memang memicu perubahan fisik, tapi efeknya akan berbeda tergantung pada respon tubuh dan pola hidup pasien selama pengobatan.
“Obat-obatan kan terbuat dari bagan kimia, termasuk juga obat mental. Beberapa memang memiliki efek samping, seperti nafsu makan meningkat atau perubahan hormon, yang bisa berujung pada kenaikan berat badan,” ungkap dr. Dewi.
Ia mencontohkan penggunaan antidepresan pada pasien depresi atau anxiety akan membawa ketenangan dan rasa nyaman. Hal ini bisa saja berdampak pada perilaku seperti makan berlebih, kurang bergerak, dan sering tidur. Akibatnya, tubuh akan mengalami peningkatan berat badan secara bertahap.
Baca Juga
Kebalikannya, efek samping penggunaan obat mental bisa saja memicu gangguan pencernaan yang berdampak pada berkurangnya nafsu makan, hingga rasa mual. Kondisi ini membuat pasien bisa saja mengalami penurunan berat badan drastis.
“Tidak hanya itu, obat psikis bisa saja memengaruhi hormon pasien. Ada yang menstruasinya jadi tidak lancar, bahkan langsung muncul jerawat yang banyak. Efek samping ini kembali lagi pada respons tubuh dari pasien,” tambahnya.
Oleh karenanya, dr. Dewi menegaskan pentingnya penggunaan obat mental sesuai resep dokter. Dari efek samping yang dialami, dokter bisa meresepkan dengan dosis yang sesuai dengan kebutuhan tubuh. Ia juga menekankan pentingnya terus berkomunikasi dengan dokter jika mengalami perubahan fisik dan ketidaknyamanan saat terapi. Hal ini menghindari pasien untuk tidak menghentikan pengobatan secara tiba-tiba tanpa pengawasan.
Baca Juga
Melalui edukasi ini, pihaknya berharap masyarakat semakin paham dan tidak ragu menjalani pengobatan kejiwaan. Kesehatan mental bukan hal memalukan, dan pengobatan yang tepat bisa membawa kualitas hidup yang jauh lebih baik.
“Jangan terlalu takut dengan efek samping. Semua bisa dimanajemen dengan baik asal pasien terbuka dan rutin kontrol. Lebih penting pulih dulu, daripada menunda karena takut jerawat atau naik berat badan,” pungkasnya. (adv/rsudtamanhusadabontang/cha/uci)
Penulis: Siti Rosidah More
Editor: Suci Surya Dewi
