
Dewan mengusulkan peningkatan daya tampung rumah singgah minimal 50 persen pada 2029. Sebagai upaya mengurai permasalahan sosial di Samarinda.
Kaltim.akurasi.id, Samarinda – Ketua Komisi IV DPRD Samarinda, Mohammad Novan Syahronny Pasie, menegaskan pentingnya merumuskan target konkret untuk memperbaiki layanan sosial pada periode 2026–2029. Dalam hal ini, mengenai keberadaan rumah singgah yang memadai.
Hal ini penting, sebab ia menilai, penanganan sejumlah persoalan sosial di Kota Tepian, dari penanganan anak jalanan, orang dengan gangguan jiwa (ODGJ), dan anak terlantar. Bermuara kepada keterbatasan kapasitas rumah singgah.
Sesuai regulasi Kementerian Sosial, masa penampungan anak terlantar atau ODGJ maksimal hanya 14 hari. Setelah itu, individu yang bersangkutan harus dipindahkan ke yayasan swasta atau lembaga provinsi. Sayangnya, proses pemindahan ini kerap menemui kendala, baik dari segi administrasi maupun kesiapan tempat penampungan lanjutan.
“Fasilitas kita sangat terbatas. Banyak ODGJ berasal dari luar Samarinda dan setelah dirawat di RSJD Atma Husada Mahakam, keluarga mereka tidak mau menerima lagi. Akhirnya, jadi beban tambahan bagi Dinsos Samarinda,” kata Novan.
Baca Juga
Selain itu, ketergantungan terhadap yayasan swasta juga menjadi tantangan. Pemerintah daerah hanya mampu memberikan bantuan terbatas dalam bentuk barang dan dana, sementara operasional harian masih mengandalkan donasi masyarakat.
Untuk mengatasi hal ini, DPRD Samarinda mengusulkan peningkatan daya tampung rumah singgah minimal 50 persen pada 2029, memperkuat kolaborasi dengan Pemprov Kaltim, mengusulkan revisi regulasi Kemensos, meningkatkan anggaran, serta memanfaatkan data komprehensif untuk menyusun strategi pelayanan.
“Data itu penting. Kita harus tahu siapa mereka, dari mana asalnya, dan seperti apa kondisi keluarganya. Itu dasar untuk membuat program yang tepat sasaran,” tambahnya.
Baca Juga
Ia juga mendorong, pembuatan blueprint penanganan terpadu lintas instansi, serta evaluasi berkala agar program-program sosial benar-benar efektif. Sosialisasi dan edukasi publik pun dirasa penting untuk menumbuhkan empati masyarakat terhadap kelompok rentan ini. (Adv/dprdsamarinda/zul)
Penulis: Muhammad Zulkifli
Editor: Devi Nila Sari
