
Kaltim.akurasi.id, Samarinda – Penurunan angka stunting merupakan salah satu fokus Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda dalam bidang kesehatan. Berbagai program pun dirancang untuk mengeliminasi persoalan ini.
Pada 2024 prevalensi stunting Samarinda berada di kisaran 20,3 persen. Turun 4,1 persen dari 2023 yang berkisar pada 24,4 persen. Sementara itu, angka stunting pada 2025 baru akan dirilis oleh Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Republik Indonesia (RI) pada 2026 mendatang.
Meski terjadi penurunan, Wakil Ketua Komisi IV Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Samarinda Sri Puji Astuti meminta, agar setiap pihak memperkuat kolaborasi untuk menangani kasus ini.
“Untuk menurunkan angka ini, diperlukan upaya dari berbagai pihak. Karena ini demi masa depan anak-anak kita,” kata dia.
Hal tersebut ia tujukan kepada masyarakat, dunia usaha, media massa, dan berbagai elemen lainnya, agar Kota Tepian dapat mencapai target nasional sebesar 18 persen pada 2025.
Puji menyebut, jika berbagai tantangan sosial seperti ketimpangan ekonomi dan permasalahan gizi keluarga dapat memperlambat upaya penurunan angka stunting di daerah.
“Masalah stunting bukan sekadar soal kesehatan, tapi menyangkut kondisi sosial masyarakat. Kalau semua elemen bergerak, hasilnya akan jauh lebih cepat dan berkelanjutan,” ujarnya.
Dirinya pun menambahkan, DPRD Samarinda berkomitmen mendorong kolaborasi bersama berbagai pihak, untuk memastikan program percepatan penurunan stunting berjalan efektif.
“Langkah ini juga menjadi bagian dari upaya mewujudkan peningkatan kualitas hidup anak-anak Samarinda menuju Indonesia Emas 2045,” pungkasnya. (Adv/dprdsamarinda/yed)
Penulis: Yasinta Erikania Daniartie
Editor: Devi Nila Sari