Kaltim.akurasi.id, Bontang – PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. melalui Branch Office Bontang menggelar kegiatan Business Matching bagi klaster usaha dan pelaku UMKM binaan Rumah BUMN Bontang di Cafe Goerna, Jumat (23/10/2026). Kegiatan ini menjadi wadah untuk memperkuat jejaring usaha, berbagi pengalaman, serta membuka peluang kolaborasi bagi pelaku UMKM di Kota Bontang.
Sebanyak 28 UMKM mengikuti kegiatan ini, yang terdiri dari satu klaster usaha kelompok perikanan dan pelaku UMKM binaan Rumah BUMN Bontang. Turut hadir Kepala Bidang Industri Dinas Koperasi, Usaha Mikro, Perindustrian dan Perdagangan (DKUMPP) Bontang Muh Ridwan, Kepala Bidang Perdagangan DKUMPP Bontang Sunita Sinaga, serta Ketua Asosiasi Makanan dan Minuman (Asmami) Bontang Hairuddin Syar.
Kegiatan tersebut dibuka oleh Ultra Micro Business Department Head Region 14 Banjarmasin, Hadi Nur Sanjaya. Acara dilanjutkan dengan pengenalan produk BRI dan AgenBRILink, serta pemaparan pengalaman usaha dari Owner Pusat Oleh-Oleh Bontang Fara Snack, Astutik.
Hadi Nur Sanjaya menyampaikan bahwa UMKM merupakan salah satu pilar penting perekonomian Indonesia. Karena itu, BRI Bontang tidak hanya berperan sebagai penyedia layanan perbankan, tetapi juga sebagai mitra pemberdayaan usaha.
Dukungan tersebut diwujudkan melalui akses pembiayaan, pendampingan usaha, penguatan kapasitas, hingga perluasan akses pasar bagi pelaku UMKM.
“Kegiatan Business Matching yang kita laksanakan hari ini merupakan salah satu wujud komitmen tersebut. Kami berharap kegiatan ini dapat menjadi wadah untuk berbagi pengetahuan, membangun jejaring usaha, serta membuka peluang kolaborasi yang dapat mendorong UMKM semakin maju dan berkembang,” ujarnya.
Hadi juga berharap para peserta dapat memanfaatkan kegiatan tersebut untuk bertukar pengalaman, membangun relasi, serta mendapatkan pengetahuan baru yang dapat diterapkan dalam pengembangan usaha masing-masing.
Belajar dari Perjalanan Fara Snack

Dalam kegiatan tersebut, peserta mendapatkan kesempatan untuk belajar langsung dari Astutik, Owner Fara Snack, yang membagikan pengalaman membangun usaha dari skala rumahan hingga berkembang menjadi pusat oleh-oleh di Bontang.
Astutik menceritakan, usaha yang dirintisnya sejak 2012 itu awalnya belum memiliki produk sendiri. Ia mendatangkan aneka camilan dari Jawa, kemudian mengemas ulang produk tersebut secara mandiri di rumah tanpa bantuan karyawan.
Perjalanan usahanya mulai berkembang ketika pada 2016 ia memutuskan untuk memproduksi camilan sendiri. Pilihannya jatuh pada amplang karena melihat kebiasaan masyarakat yang membawa camilan khas Kalimantan sebagai oleh-oleh saat pulang kampung maupun bepergian ke luar daerah.
Kini, pelanggan Fara Snack tidak hanya berasal dari masyarakat Bontang, tetapi juga tamu perusahaan dan wisatawan yang berkunjung ke Kota Taman.
Astutik turut membagikan sejumlah hal yang perlu diperhatikan pelaku UMKM agar produknya dapat dipasarkan melalui outlet oleh-oleh, mulai dari kualitas, legalitas, hingga kemasan.
Menurutnya, produk yang ditawarkan harus memiliki kualitas yang layak dan konsisten. Sampel atau tester yang diberikan kepada calon mitra juga harus sesuai dengan produk yang nantinya dijual.
Dari sisi legalitas, pelaku usaha perlu memenuhi perizinan yang sesuai, termasuk izin Pangan Industri Rumah Tangga (PIRT) bagi produk yang memenuhi kriteria, serta ketentuan sertifikasi halal yang berlaku.
Sementara itu, kemasan perlu dibuat rapi, menarik, dan informatif. Informasi produk harus sesuai dengan isinya, termasuk pencantuman tanggal kedaluwarsa dan nomor izin yang relevan.
Astutik juga menekankan pentingnya menjaga harga tetap terjangkau dengan kualitas yang baik, menciptakan produk yang unik, melakukan promosi melalui tester, serta menjaga konsistensi rasa, ukuran, dan mutu.
“Produksi kita hari ini belum tentu sama dengan hari berikutnya. Perubahan itu bisa dari beberapa faktor, seperti perbedaan bahan baku, takaran, dan proses kerja. Jadi, proses produksi harus mengikuti SOP,” jelasnya.
Menurutnya, pengendalian mutu menjadi bagian penting dalam menjaga kepercayaan pelanggan. “Konsistensi produk akan membantu pelaku usaha mempertahankan pelanggan sekaligus meningkatkan peluang pembelian berulang,” tutupnya. (adv/bricabangbontang/uci)
Penulis/Editor: Suci Surya Dewi