Kaltim.akurasi.id, Bontang – Di era digital saat ini, ancaman penipuan, scam, dan peretasan data bukan hanya semakin marak tetapi juga semakin canggih dengan modus yang sangat beragam. Mulai dari pesan singkat, telepon, email palsu, tautan mencurigakan, hingga penyamaran sebagai pihak internal instansi.
Risiko yang ditimbulkan pun tidak main-main, bila terkait data pribadi atau data personal perbankan, maka kerugian finansial jelas membayang di depan mata. Bila terkait data institusi, peretasan data terutama pada pusat data dapat menimbulkan dampak serius. Seperti kebocoran atau pencurian data pribadi warga maupun customer yang dilayani, gangguan operasional layanan publik, hingga rusaknya reputasi kepercayaan publik terhadap keamanan data yang dipegang oleh pemerintah.
Penjabat (Pj) Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Bontang Akhmad Suharto menjelaskan di lingkup Pemkot Bontang juga masih ditemukan kasus Aparatur Sipil Negara (ASN) yang menjadi korban penipuan digital, scam, maupun peretasan data. Ia menyebut bahwa korban penipuan digital umumnya bukan karena kurang cerdas, melainkan karena pelaku kejahatan digital yang terus memperbarui cara dan celah untuk menipu. Oleh karenanya peningkatan secara terus menerus literasi dan kesadaran keamanan data menjadi sangat penting.
“Nilai ASN Ber-AKHLAK, terutama nilai adaptif dan akuntabel mengingatkan kita untuk terus mengembangkan kemampuan diri terhadap hal-hal semacam ini,” sebut Suharto.
Suharto menyinggung bahwa ASN sejatinya tidak hanya menyimpan data pribadi, tetapi juga bertanggung jawab terhadap data institusi yang bisa jadi bersifat strategis dan sensitif.
Baca Juga
Senada, Kepala Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BKPSDM) Bontang Sudi Priyanto mengurai beberapa jurus jitu yang dapat diterapkan oleh seluruh ASN Kota Taman dalam memperkuat keamanan digital.
Pertama, jangan sembarang meng-klik tautan. Selalu pastikan sumber pesan/email/link sebelum dibuka, terutama yang meminta data atau login akun. Kedua, jaga kerahasiaan data sensitive, jangan pernah membagikan PIN/OTP/password/kode verifikasi kepada siapapun termasuk yang mengaku dari instansi resmi.
Ketiga, gunakan kata sandi yang kuat dan berbeda. Hindari menggunakan password yang sama untuk berbagai akun yang dimiliki. Keempat, aktifkan pengamanan tambahan; manfaatkan fitur verifikasi dua langkah (two factor authentication) jika tersedia.
Baca Juga
Kelima, waspada terhadap permintaan mendesak. Penipu selalu menciptakan situasi panik agar korban tidak sempat berpikir logis. Keenam, laporkan jika menemukan indikasi penipuan. Segera menyampaikan pada atasan atau admin pengelola/unit terkait apabila menemukan aktivitas mencurigakan pada aplikasi yang sedang digunakan.
“Bila memungkinkan, rekan-rekan ASN juga disarankan untuk memisahkan gawai pribadi yang digunakan untuk komunikasi sehari-hari dengan gawai kerja yang berisi akun aplikasi kerja/akun perbankan-nya. Ini bisa meminimalisir potensi bocor data,” sebut Sudi.
Sudi menambahkan bahwa keamanan digital bukan semata tanggung jawab unit teknis yang menangani komunikasi informasi saja. “Tanggung jawab ini harus menjadi budaya yang dibangun secara bersama oleh seluruh ASN Pemkot Bontang,” tutupnya. (adv/bkpsdmbontang)
Penulis: Pewarta
Editor: Suci Surya Dewi