Fira selalu tiba di rumah beberapa menit setelah sirene terakhir berhenti.
Ia tidak pernah sengaja menghitungnya.
Tubuhnya saja yang lama-kelamaan hafal.
Pintu rumah berbunyi lirih ketika didorong. Kayunya mengembang sejak musim hujan tahun lalu dan tak pernah kembali rapat. Setiap kali pintu dibuka, ada serbuk halus yang jatuh dari bagian kusennya. Entah cat yang lapuk, entah debu yang terlalu lama menunggu disentuh.
Ia meletakkan tas di kursi makan.
Kursi di depannya masih sedikit ditarik ke belakang.
Sudah hampir sebelas bulan.
Ia tidak pernah mendorongnya kembali.
Di dapur, ketel listrik mendidihkan air.
Suara gelembung yang pecah di dasar logam mengingatkannya pada bunyi las dari arah pabrik setiap malam. Hampir sama. Sama-sama seperti sesuatu yang sedang dipaksa berubah bentuk.
Fira mengambil satu cangkir.
Lalu berhenti.
Tangannya bergerak ke rak paling atas.
Mengambil cangkir yang retak.
Meletakkannya di samping cangkir pertama.
Dua sendok.
Dua sachet kopi.
Air panas dituangkan bergantian.
Uap naik perlahan.
Ia baru menyadari apa yang dikerjakannya ketika tangannya hendak mengaduk cangkir kedua.
Sendok berhenti di udara.
Lama.
Kemudian ia menuangkan isi cangkir itu ke wastafel.
Kopi hitam mengalir mengitari saringan pembuangan.
Warnanya hampir sama dengan air yang keluar dari hidungnya setiap pagi.
***
Kulkas kembali berdengung.
Fira membuka pintunya.
Di dalam hanya ada telur, seikat kangkung yang mulai layu, sambal botolan, dan sekotak makan siang dari kantor yang belum disentuh sejak kemarin.
Ia menatap kotak makan itu.
Tidak ingat mengapa tidak membukanya.
Barangkali sedang tidak lapar.
Barangkali lupa.
Ia menutup kulkas.
Lima langkah kemudian membukanya lagi.
Memandang isi yang sama.
Kali ini ia mengambil kotak makan tersebut.
Tanggal pada tutup plastik menunjukkan kemarin.
Atau dua hari lalu.
Ia sulit memastikan.
Baca Juga:Jelaga (Bagian I)
Baca Juga:Jelaga (Bagian II)
***
Jam dinding berbunyi sekali.
Delapan malam.
Fira mengambil telepon genggam.
Ada lima belas pesan.
Empat dari kantor.
Dua dari grup keluarga.
Sisanya promosi.
Ia membuka percakapan paling bawah.
Nama pengirimnya sudah tidak ada.
Hanya deretan angka.
Pesan terakhir berbunyi:
Sudah makan? Jangan pulang terlalu malam.
Di bawahnya tertulis waktu.
22.14
Tidak ada balasan.
Fira mengetik:
Sudah.
Jempolnya menggantung di atas tombol kirim.
Baru setelah beberapa detik ia melihat tulisan kecil di bagian atas layar.
Nomor ini tidak lagi terdaftar di WhatsApp.
Ia menghapus kata yang baru saja diketik.
Menutup aplikasi.
Membukanya lagi.
Percakapan itu tetap ada.
Hanya saja kini pesan terakhir berbeda.
Aku lembur. Tidur dulu saja.
Ia memicingkan mata.
Bukankah tadi bukan kalimat itu?
***
Di kamar tidur, jam tangan masih tergeletak di atas nakas.
Jarumnya berhenti pada pukul 15.47.
Kaca bagian depannya retak membentuk garis menyerupai sungai pada peta.
Fira belum pernah mengganti baterainya.
Atau mungkin jam itu memang rusak.
Ia tak pernah membawanya ke tempat servis.
Jam yang berhenti terkadang terasa lebih jujur daripada jam yang terus berjalan.
Setidaknya ia tidak berpura-pura mengetahui waktu.
Di samping jam itu terlipat selembar kertas kecil.
Daftar belanja.
Sabun.
Beras.
Lampu kamar mandi.
Obat nyamuk.
Tulisan tangan di bagian bawah berbeda.
Lebih besar.
Ingat beli gula.
Fira mengusap tulisan itu dengan ibu jari.
Huruf-hurufnya sedikit memudar.
Ia tidak ingat siapa yang menulisnya.
Padahal ia mengenali setiap lekukan hurufnya.
***
Malam semakin larut.
Asap dari kawasan industri tetap terlihat dari balik tirai.
Pada jam-jam seperti ini, cerobong tampak seperti lilin-lilin raksasa.
Bedanya, yang keluar bukan cahaya.
Melainkan sesuatu yang pelan-pelan mengubah warna langit.
Fira membuka jendela.
Udara hangat masuk bersama bau logam yang basah.
Ia menarik napas panjang.
Ada rasa getir di pangkal lidah.
Seperti menjilat sendok besi.
Ia menutup jendela lagi.
Tetapi bau itu tetap tinggal.
***
Ia bermimpi.
Atau barangkali tidak.
Dapur rumahnya jauh lebih terang daripada biasanya.
Ketel sedang mendidih.
Seseorang berdiri membelakanginya.
Kemeja putih.
Lengan digulung.
Sedang mencuci dua cangkir.
Air keran mengalir terus.
“Besok jangan lupa…”
Suara itu pelan.
Tertelan suara air.
“Apa?” tanya Fira.
Lelaki itu tidak menjawab.
Ia hanya mengangkat cangkir retak.
Menatapnya beberapa saat.
Lalu meletakkannya kembali.
Ketika Fira hendak mendekat, seluruh dapur dipenuhi asap.
Bukan asap kebakaran.
Asap yang sama seperti setiap hari keluar dari cerobong pabrik.
Warnanya kelabu.
Pekat.
Tetapi tidak membuat mata pedih.
Hanya membuat segala sesuatu kehilangan tepi.
Ketika asap menipis, dapur telah kosong.
Keran masih menyala.
Air terus mengalir.
***
Fira terbangun.
Bantalnya lembap.
Bukan oleh keringat.
Jendela kamar terbuka.
Padahal ia yakin telah menguncinya.
Ia bangkit.
Langit masih gelap.
Cerobong tetap menyala.
Jam digital di atas televisi menunjukkan 03.18.
Ia menuju dapur.
Keran benar-benar menyala.
Air jatuh setetes demi setetes ke dalam bak cuci.
Tuk.
Tuk.
Tuk.
Di rak piring terdapat dua cangkir.
Keduanya masih basah.
Fira berdiri cukup lama di depan wastafel.
Ia tidak ingat apakah sebelum tidur sempat mencuci cangkir.
Tangannya menyentuh gagang cangkir yang retak.
Masih dingin.
Belum lama dicuci.
Ia mengambil lap.
Mengeringkannya perlahan.
Ketika membalik bagian bawah cangkir, matanya menangkap sesuatu yang selama ini luput.
Spidol hitam.
Tulisan kecil yang hampir hilang.
F + A
Huruf-huruf itu ditulis seadanya.
Mungkin bertahun-tahun lalu.
Sebagian tintanya telah pudar.
Fira memejamkan mata.
A.
Arga.
Nama itu akhirnya muncul utuh.
Bukan seperti serpihan yang selama ini datang lalu menghilang.
Arga.
Suaminya.
Ia mengucapkannya sangat pelan.
Seolah takut nama itu pecah bila terlalu keras disebut.
Di luar rumah, sirene pendek terdengar dari arah kawasan industri.
Bukan tanda pergantian sif.
Lebih pendek.
Lebih tergesa.
Fira membuka ponselnya.
Layar menyala.
Notifikasi dari reporter lapangan muncul paling atas.
Fir, ada kecelakaan lagi di Plant 3. Katanya mirip kejadian tahun lalu.
(Bersambung ke Bagian IV)
Fajri Sunaryo; Jurnalis Akurasi.id