Melalui konsep ekonomi biru, pembangunan dengan memanfaatkan segala sumber daya alam yang ada di laut dan pesisir diharapkan bisa berjalan secara beriringan antara kebutuhan untuk ekonomi dan ekologi.
Kaltim.akurasi.id, Samarinda – Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kaltim berkomitmen untuk mewujudkan pembangunan berkelanjutan melalui konsep ekonomi biru. Pembangunan dengan memanfaatkan segala sumber daya alam yang ada di laut dan pesisir diharapkan bisa berjalan secara beriringan antara kebutuhan untuk ekonomi dan ekologi.
Kepala DKP Kaltim, Irhan Hukmaidy mengatakan, upaya ini mencakup langkah-langkah tegas dalam melindungi lingkungan dan mengatur hasil tangkapan ikan. Salah satu tindakan yang diambil adalah pembatasan hasil tangkapan ikan berdasarkan kuota yang telah ditetapkan untuk setiap kota.
“Kalau sudah lewat kita lakukan pelarangan penangkapan,” terang Irhan Hukmaidy, saat konferensi pers di Diskominfo Kaltim, Jumat (8/9/2023).
Tak hanya itu, dia juga menjelaskan, Provinsi maupun Kabupaten/Kota juga bertanggungjawab soal peningkatan produksi perikanan. Termasuk yang menjadi sorotan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 49 Tahun 2022 yang menunjuk dua Kabupaten/Kota di Kaltim untuk pengembangan kampung budidaya ikan kerapu dan ikan nila. Hal ini memungkinkan bantuan dari pemerintah pusat dan provinsi untuk diintegrasikan mulai dari pembenihan hingga pasar.
Ekonomi biru yang diusung DKP Kaltim didasarkan pada tiga unsur yakni ekologis, ekonomi, dan kesejahteraan sosial masyarakat setempat. Hal itu dapat terwujud apabila terjadi peningkatan produksi perikanan tangkap. Dimana dapat dilakukan peningkatan komunikasi dengan nelayan, penyederhanaan perizinan, pemberian subsidi BBM, pembangunan pelabuhan perikanan, pemberdayaan nelayan, dan optimalisasi penangkapan ikan terukur untuk meningkatkan pendapatan nelayan dan Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kaltim.
Dengan mengimplementasikan strategi ini, DKP Kaltim berharap dapat mencapai pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. “Sekaligus melindungi lingkungan laut yang sangat berharga,” pungkasnya. (*)
Penulis: Yasinta Erikania Daniartie
Editor: Fajri Sunaryo