Secarik Kisah dari Gang Rombong: Terlunta-lunta Mencari Tempat Tinggal Baru

Fajri
By
231 Views

Dari balik jendela kayu yang sudah mulai kusam, Maya melihat dengan jelas Camat dan Lurah datang membawa sejumlah uang. Jantungnya berdegup kencang. Tanpa aba-aba, bulir keringat di keningnya mulai mengucur. Kabar buruk soal penggusuran Gang Rombong, Samarinda menyepuh kesuraman di wajah Maya.

Ghiyats Azatil Ismah, Wartawan Akurasi.id

Maya (40) duduk menjongkok di depan puing-puing kayu bekas bongkaran rumahnya. Janda tiga anak itu nampak termenung. Matanya tertuju pada kayu balok yang sedikit berlumut hijau dan kehitaman, tetapi pikirannya melayang entah ke mana. Tak didengar suara bising di sekeliling: suara dari orang-orang yang juga sibuk merapikan sisa-sisa bongkaran rumahnya, suara dari orang-orang saling bicara satu sama lain, dan suara dari anak-anak yang bermain. Tidak satu pun suara tertangkap telinganya.

Jarum jam membidik pukul 16.30 Wita, Minggu (29/10/2023). Gerimis yang sempat mengemas kawasan kota siang tadi menyisakan bau harum tanah yang masih basah. Langit nampak cerah dan biru. Udara segar sore itu turut serta mengambil peran menyepuh kesuraman di wajah Maya.

Wartawan Akurasi.id mencoba mendekati wanita itu. Deretan gigi janda itu terlihat rapi saat tersenyum. Meski senyumnya terkesan sedikit dipaksakan. Kerutan di sudut bibir Maya seolah mengabarkan akan lipatan rasa kecewa yang tak mampu tersembunyikan oleh mata. Dihadapan Akurasi.id, Maya berusaha tegar. Dia langsung cerita banyak hal. Mulai dari anak cucunya dan banyak lagi hal lain.

Kata wanita itu, ruang riak bahagianya sudah hilang semenjak kejadian malam itu (Jumat, 20 Oktober 2023). Dari balik jendela kayu yang sudah mulai kusam, Maya melihat dengan jelas Camat dan Lurah datang membawa sejumlah uang. Jantungnya berdegup kencang. Tanpa aba-aba, bulir keringat di keningnya mulai mengucur. Maya membayangkan hal buruk akan terjadi.

Firasatnya benar, Camat dan Lurah Samarinda Kota datang membawa kabar, bahwa Permukiman Gang Rombong akan digusur. Dia hanya bisa pasrah mendengar kabar itu. Maya diberi waktu satu pekan untuk membongkar sendiri bangunan rumahnya. Apabila perintah tak diindahkan, Pemerintah Kota akan turun tangan melakukan pembongkaran.

“Saya kaget, malam itu tiba-tiba mereka (Camat dan Lurah) datang membawa sejumlah uang. Ternyata uang itu untuk ganti rugi rumah saya dan warga lain. Padahal, tidak ada kabar sebelumnya akan digusur,” ucap wanita itu kepada Akurasi.id.

Dengan sukarela Maya menerima uang ganti rugi sebesar Rp1,5 juta. Wanita itu tidak melakukan protes sedikitpun. Sebab ia tau, kawasan itu dulunya adalah fasilitas umum. Dan Pemkot berencana mengembalikan fungsinya sebagai ruang publik. Tapi, jelas terlihat dia tidak bisa menyembunyikan kesedihannya.

Merawat Kenangan Masa Lalu

Maya kembali melanjutkan ceritanya, sesekali ia mendongak menyaksikan belasan burung gereja nangkring di tiang listrik. Sepoi angin yang hinggap pada daun kering dan kicau burung terdengar begitu anggun. Maya tidak pernah mengerti makna kicau-kicau itu. Hanya saja kicauan burung gereja yang saling bersahutan sore itu tidak mampu mengusir dukanya.

Katanya, setiap senja begini, permukiman kumuh itu begitu riuh dengan tawa. Ruang-ruang keluarga menjadi hangat. Pintu dan jendela dibuka lebar-lebar. Maya ingat betul, biasanya menjelang petang begini ia pasti sudah bergelut di dapur. Memasak nasi di atas kompor gas yang dia beli beberapa tahun silam. Periuk tua yang bagian bawahnya sudah sangat menghitam dan sedikit peot itu mengepulkan asap putih kehitaman. Sesekali penutup periuk nasi terlihat melompat-lompat ketika air mendidih.

“Saya tinggal disini sudah lama. Hampir 30 tahun. Sekarang saya sudah punya tiga anak dan dua cucu. Anak saya ada yang sudah nikah, tapi sekarang dia statusnya duda. Kalau sore begini, saya biasanya menyiapkan makan malam untuk keluarga,” katanya.

Kini, lingkungan kumuh itu dilanda hening. Biasanya, setiap Azan berkumandang dari salah satu musala di ujung jalan, sekelompok anak kecil berpakaian lusuh dan berwajah cemong langsung berhamburan, berlari ke rumah masing-masing diiringi perasaan khawatir sebelum dijemput paksa oleh ibu mereka yang kelak menghampiri dengan menenteng gagang sapu sembari bersungut-sungut. Azan magrib, tentu saja, tak ubahnya lonceng pulang yang mesti ditaati.

“Kalau Azan sudah berkumandang, kerumunan orang biasanya berangsur bubar,” sambung Maya.

Mengenang masa-masa itu, mata Maya kembali berair. Lalu perlahan menetes ke pipi. Itu pasti bukan karena asap rokok dari pria yang baru saja lewat. Tetapi sesungguhnya, karena Maya memikirkan akan kemana dia dan keluarganya selanjutnya. Terlebih, rumah berukuran 5×4 yang dia tinggali itu, juga merupakan tempatnya mencari rezeki.

“Sekarang saya binggung harus kemana. Saya adalah tulang punggung keluarga. Disini (Gang Rombong) saya biasanya jualan minuman sachet,” imbuhnya.

Maya merasa duit kompensasi yang diberikan pemkot tidaklah cukup. Dia menyayangkan tidak adanya solusi dari pemerintah. “Uang yang diberikan itu tidak sepadan. Harusnya ada solusi untuk kami bisa dapat tempat tinggal baru,” harapnya.

Rumah Maya hanyalah satu dari 34 bangunan yang ada di Gang Rombong, Jalan Pelabuhan. Sejumlah bangunan yang ditenggarai tak berizin, menjadi alasan pemkot harus menertibkan kawasan itu. Pun area gang kecil itu dulunya merupakan fasilitas umum (fasum).

Sejarah Gang Rombong, Samarinda

 Awalnya nama gang itu adalah Jalan Pabean. Masyarakat Samarinda, pasti tidak asing dengan nama Gang Rombong. Jalan ini merupakan jalan yang menghubungkan Jalan Pelabuhan ke Jalan Mulawarman. Di sana, dulu terdapat banyak rumah toko yang menjual berbagai macam barang.

Bahkan, di ujung jalan ini, terdapat kantor Badan Urusan Logistik (Bulog). Pada awal tahun 1980-an, ketika kompleks Pinang Babaris mulai dibangun, Jalan Pabean menjadi tempat strategis bagi pekerja pelabuhan untuk melepas lelah. Di sini, terdapat beberapa warung kecil yang menyajikan makanan dan minuman.

Sejarah Gang Rombong Samarinda terus berlanjut seiring berjalannya waktu. Semakin banyak warga yang berkumpul di tempat ini. Para pedagang di Jalan Pabean semakin padat, bahkan beberapa Ruko (rumah toko) yang ada di sepanjang Jalan Pabean berubah fungsi menjadi tempat hiburan malam, yang membuat Gang Rombong semakin ramai.

Awalnya Jalan Pabean adalah tempat duduk-duduk para pekerja di Pelabuhan. Namun, tempat ini terus berkembang. Berbagai jenis minuman dijual di Gang Rombong, mulai dari minuman ringan seperti teh atau kopi hingga yang berat seperti bir atau minuman keras lainnya.

Nama “Gang Rombong” sendiri disematkan untuk mempermudah warga mencari tempat ini, karena lokasi yang banyak rombongnya hanya ada di kawasan itu. Berdirinya Gang Rombong tidak lepas dari pembangunan komplek pertokoan Pinang Babaris di Samarinda. Ini adalah pusat perbelanjaan paling hebat di era 1980-an.

Terdiri dari tiga lantai, Pinang Babaris memiliki lantai dasar yang menawarkan pertokoan dan bioskop. Di lantai dua, terdapat perkantoran, termasuk Notaris Laden Mering yang sangat terkenal waktu itu. Lantai tiga merupakan tempat hiburan malam, termasuk Orchild, Blue Pasifik, Laba Laba, dan beberapa tempat hiburan malam lainnya.

Namun, seiring perkembangan kota dan pemerataan penduduk di wilayah Samarinda, kawasan Pinang Babaris semakin tertinggal. Terutama ketika Hak Guna Usaha (HGU) yang diberikan oleh pemerintah akhirnya kadaluarsa. Sengketa pengelolaan kawasan itu terus berkembang, bahkan hingga kawasan pusat perbelanjaan itu berubah menjadi dua hotel mewah saat ini.

Sempat terbengkalai selama empat tahun, bangunan hotel ini akhirnya diresmikan pada 22 Februari 2020. Dua bangunan ini telah berubah menjadi salah satu fasilitas mewah di kota ini, namun sayangnya Gang Rombong tidak berubah sama sekali. Gang Rombong terlihat seperti noda hitam di kain putih, yang sangat mengganggu.

Gang Rombong adalah jalan bersejarah yang mencerminkan perkembangan Kota Samarinda di Kalimantan Timur. Dari awalnya sebagai tempat pekerja pelabuhan melepas lelah, hingga menjadi kawasan dengan berbagai jenis minuman dan hiburan malam. Gang Rombong juga memiliki kaitan erat dengan sejarah Pinang Babaris, pusat perbelanjaan yang pernah mendominasi era 1980-an.

Meskipun mengalami perubahan, Gang Rombong masih menjadi perhatian, dan pemerintah kota berusaha mencari solusi untuk mengubahnya menjadi tempat yang lebih baik. Semua ini mencerminkan semangat Kota Samarinda untuk terus membangun Kota Peradapan yang lebih baik. (*)

Editor: Fajri Sunaryo

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Menu Vertikal
Menu Sederhana