Longsor Samarinda Tewaskan Satu Keluarga, Jenazah Ditemukan Seolah Masih Tidur

Fajri
By
149 Views

Empat anggota keluarga tewas tertimbun longsor di Samarinda. Dua di antaranya ditemukan berpelukan dalam kamar yang hancur.

Kaltim.Akurasi.id, Samarinda – Memasuki hari kedua pencarian korban longsor di Jalan Belimau, Gang Bulu Tangkis, RT 022, Kelurahan Lempake, tim gabungan akhirnya berhasil menemukan dua korban terakhir yang tertimbun. Keduanya ditemukan pada Selasa (13/5/2025) sekitar pukul 10.00 Wita, sehingga melengkapi total empat korban jiwa yang tertimbun tanah longsor pada Senin (12/5/2025).

Korban pertama yang berhasil diidentifikasi adalah seorang ibu bernama Hamdana (50), disusul Nasrul (24). Pada hari kedua, dua korban lainnya ditemukan dalam satu kamar, yakni Nurul Shakira (17) dan Fitri (14). Keempatnya diketahui merupakan satu keluarga.

Wali Kota Samarinda, Andi Harun, yang turun langsung ke lokasi, mengonfirmasi bahwa seluruh korban ditemukan dalam kondisi meninggal dunia.

“Akhirnya, hari ini kita berhasil menemukan dua jenazah terakhir. Keduanya langsung dibawa ke RSUD AWS untuk penanganan lebih lanjut,” ujar Andi Harun kepada awak media di lokasi kejadian.

Ia menyebut, kedua korban ditemukan dalam posisi seolah sedang tidur. Salah satunya bahkan ditemukan dalam posisi memeluk guling.

Menurutnya, wilayah tersebut memang tergolong rawan longsor. Karakteristik tanah di Samarinda—sebagaimana umumnya di Kalimantan Timur—tersusun dari lapisan pasir dan lempung, yang sangat rentan bergerak terutama saat musim hujan.

Sebagai bentuk kepedulian, Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda memberikan bantuan kepada lima keluarga terdampak langsung. Bantuan berupa dana sewa tempat tinggal sementara diberikan agar mereka tidak kembali ke rumah yang berisiko.

“Untuk sementara, warga tidak kami izinkan kembali ke rumah mereka karena masih berbahaya. Lima kepala keluarga yang rumahnya berada di sekitar lokasi longsor kami bantu dana sewa tempat tinggal, masing-masing sebesar Rp4,5 juta,” ungkapnya.

Dana tersebut diharapkan cukup untuk menyewa tempat tinggal selama kurang lebih enam bulan. Pemkot juga akan terus memantau kondisi geologis kawasan guna mencegah longsor susulan.

“Kami minta warga untuk tidak kembali dulu ke lokasi. Ini demi keselamatan mereka. Jangan sampai kita mengabaikan risiko yang nyata,” tegasnya.

Lebih lanjut, Andi Harun mengungkapkan bahwa kawasan tersebut sebenarnya telah dipasangi tanda peringatan oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). Sejumlah patok peringatan telah dipasang sejak lama, menandai kawasan rawan longsor. Bahkan sejak masa lurah sebelumnya, imbauan untuk tidak membangun rumah di area itu sudah disampaikan.

“Namun karena status tanah adalah milik pribadi, warga tetap punya hak hukum dan sosial untuk memanfaatkannya,” imbuhnya.

Ia berharap ke depan masyarakat bisa lebih bijak dalam memilih lokasi tempat tinggal, terutama di wilayah dengan risiko geologis tinggi. Ia juga menyebut bahwa kawasan tersebut dulunya merupakan lahan yang ditumbuhi pohon aren, yang secara alami menjaga kestabilan lereng.

“Tapi karena ingin dijadikan permukiman, pohon-pohon itu ditebang. Sekarang kita semua menyaksikan akibatnya. Kami sangat menyesalkan dan turut berduka atas musibah ini,” ujarnya. (*)

Penulis: Muhammad Zulkifli
Editor: Redaksi Akurasi.id

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Menu Vertikal
Menu Sederhana