Bukan Sekadar Kelola Sampah, Bank Sampah di Samarinda Juga Jadi ‘Tabungan’ Warga

Tak hanya mengurangi tumpukan sampah, keberadaan bank sampah di Samarinda kini juga membantu ekonomi warga. Dari kompos hingga minyak jelantah, semua bernilai. Bahkan, ada yang menyediakan layanan pinjaman ringan bagi nasabahnya.
Fajri
By
3k Views

Kaltim.akurasi.id, Samarinda – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Samarinda mencatat, hingga Oktober 2025 terdapat 92 bank sampah aktif yang tersebar di 10 kecamatan. Rata-rata timbulan sampah yang berhasil dikelola mencapai 4,11 ton per hari.

Plt Kepala DLH Samarinda, Suwarso, mengatakan, jika dihitung sejak Januari hingga Oktober 2025, total sampah yang telah dikelola bank sampah di Kota Tepian mencapai 149,1 ton.

“Ini menunjukkan bahwa kesadaran masyarakat dalam mengelola sampah semakin meningkat,” ujarnya di Samarinda, Kamis (29/10/2025).
Dari sisi partisipasi, jumlah nasabah bank sampah juga meningkat signifikan. Tahun 2024 tercatat sebanyak 1.224 nasabah, sementara pada 2025 naik menjadi 2.170 nasabah atau bertambah 946 orang.

Menurut Suwarso, sampah yang dikelola terdiri dari berbagai jenis, mulai dari organik seperti bahan kompos dan pakan ternak, hingga anorganik seperti plastik, kertas, logam, kaca, dan minyak jelantah. Dari seluruh jenis tersebut, minyak jelantah menjadi yang terbanyak, mencapai 34,6 ton dengan harga jual tertinggi Rp5.500 per kilogram.

“Dari kegiatan itu, tercatat perputaran dana sebesar Rp262,36 juta di bank sampah selama periode Januari hingga Oktober 2025,” jelasnya.

Lebih lanjut, ia menyebut keberadaan bank sampah tidak hanya berperan dalam pengelolaan sampah, tetapi juga memberikan dampak sosial dan ekonomi bagi masyarakat. Salah satunya membantu warga terhindar dari jeratan pinjaman online.

Sebagai contoh, Bank Sampah Unit Tulip di Kelurahan Sekotek menyediakan layanan pinjaman ringan bagi nasabahnya. Nasabah yang meminjam Rp500 ribu dengan pelunasan dua kali akan dikenai tambahan biaya Rp10 ribu. Sedangkan jika pelunasan dilakukan empat kali, tambahan biayanya Rp20 ribu.

Selain layanan keuangan, sejumlah bank sampah juga mengembangkan produk turunan dari hasil pengelolaan sampah organik. Misalnya pembuatan kompos, larutan eco-enzim, sabun dan aromaterapi berbahan alami, hingga pemanfaatan pekarangan sebagai sumber pangan.

“Ada yang membudidayakan bayam Brazil, membuat keripik dan stik bayam. Bank Sampah Pelangi bahkan menjual bunga dari kulit bawang putih,” tutur Suwarso. (*)

Penulis: Yasinta Erikania Daniartie
Editor: Redaksi Akurasi.id

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Menu Vertikal
Menu Sederhana