Diminta Bayar Rp75 Ribu, Pendaki Gunung Parung IKN Mengeluh Soal Pungli

Sepuluh pendaki mengaku dipalak saat turun dari Gunung Parung oleh dua remaja yang mengaku petugas kebersihan. Praktik pungli ini memicu pertanyaan soal pengelolaan wisata di kawasan IKN.
Fajri
By
4.2k Views

Kaltim.akurasi.id, Penajam Paser Utara — Dalam beberapa bulan terakhir, anak-anak muda di Kalimantan Timur tengah aktif mengeksplorasi destinasi wisata lokal, termasuk kawasan perbukitan di Penajam Paser Utara (PPU) yang menawarkan pemandangan awan dan matahari terbit. Daerah sekitar Ibu Kota Nusantara (IKN) yang sebelumnya belum banyak dikenal pun kini semakin ramai dikunjungi. Promosi wisata di sekitar IKN turut meningkat, mulai dari pendakian Gunung Parung hingga kunjungan ke Air Terjun Tembinus.

Namun di tengah geliat wisata tersebut, praktik pungutan liar (pungli) masih terjadi. Salah satunya dialami oleh pendaki Gunung Parung.

N (28), salah seorang pendaki, menceritakan pengalamannya saat mendaki Gunung Parung bersama delapan rekannya sekitar sebulan lalu. Mereka memilih naik pada malam hari agar dapat menikmati matahari terbit dari puncak gunung yang memiliki ketinggian sekitar 1.200 mdpl tersebut.

“Kita memang berencana naik malam hari, kebanyakan pendaki juga begitu biar dapat sunrise dan awan-awan,” ujarnya.

- Advertisement -
Ad image

Tetapi pengalaman tidak menyenangkan justru menimpa mereka ketika turun dari puncak. N mengatakan bahwa kelompoknya dihampiri dua remaja yang diduga warga sekitar, diperkirakan masih berusia SMA atau SMK. Mereka meminta pungutan sebesar Rp75 ribu per orang.

“Kata mereka boleh nego. Setelah kami tawar, cuma turun jadi Rp50 ribu,” kata N.

Ia menuturkan, bukan hanya kelompoknya yang dimintai pungutan. Dua pendaki lain yang berada di belakang mereka juga mengalami hal serupa. Jika tidak membayar, para pendaki diancam akan difoto sebelum turun.

“Kalau tidak bayar, kami difoto. Jadinya kami delapan orang plus dua orang itu difoto bareng. Sampai sekarang nggak tahu tujuannya apa,” tambahnya.

N mengaku kecewa dengan kejadian tersebut. Ia sebelumnya sudah beberapa kali mendaki Gunung Parung dan tidak pernah mengalami pungutan ilegal seperti ini. Kedua remaja itu, katanya, mengaku sebagai petugas kebersihan dan pengangkut sampah di area gunung.

“Mereka bilang dari informasi mereka juga, nanti bakal ada tiket resmi. Tapi katanya dimulai dari mereka dulu. Jadi kami nggak paham sebenarnya gimana,” ucapnya.

Terkait peristiwa ini, redaksi Akurasi.id masih berusaha mengonfirmasi pihak-pihak terkait untuk memastikan kebenaran dan legalitas pungutan tersebut. (*)

Penulis: Nelly Agustina
Editor: Redaksi Akurasi.id

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Menu Vertikal
Menu Sederhana