Kaltim.akurasi.id, Bontang – Pelayanan publik yang inklusif kini bukan lagi sekadar wacana di Kota Bontang. Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BKPSDM) Bontang menunjukkan komitmen nyata sebagai instansi yang ramah disabilitas. Salah satunya dengan menghadirkan layanan dan fasilitas yang memastikan setiap warga tanpa terkecuali, dapat mengakses pelayanan secara setara dan bermartabat.
Begitu melangkah ke kawasan Kantor BKPSDM Bontang, nuansa inklusivitas langsung terasa. Jalur khusus penyandang disabilitas berwarna kuning cerah membentang rapi, menghubungkan pintu utama hingga ruang tunggu layanan. Tak jauh dari sana, areal parkir khusus bermarka biru dengan simbol disabilitas disiapkan di titik yang mudah dijangkau. Detail-detail ini menegaskan satu pesan, di mana akses layanan publik dirancang agar ramah, aman, dan bermartabat bagi semua.
Komitmen ramah disabilitas di BKPSDM tak berhenti pada desain fisik bangunan. Berbagai fasilitas pendukung turut disediakan, mulai dari kursi roda, tongkat bantu jalan, kursi tunggu prioritas, hingga pegangan khusus di area toilet. Di lini depan pelayanan, sejumlah petugas bahkan dibekali kemampuan dasar bahasa isyarat untuk menjembatani komunikasi dengan penyandang tuna rungu. Sekilas tampak sebagai langkah sederhana, namun bagi kelompok disabilitas, inilah wujud nyata dari pelayanan publik yang setara dan berkeadilan.
Sekretaris BKPSDM Bontang Hatamuddin menjelaskan bahwa semua fasilitas ini bukan sekadar pemenuhan standar. Melainkan wujud kesadaran institusi bahwa setiap warga memiliki hak yang sama atas informasi dan pelayanan.
“Keterbatasan fisik tidak boleh menjadi penghalang seseorang untuk mengakses layanan kepegawaian secara optimal,” jelas Hatamuddin.
Baca Juga
Hatamuddin kemudian mengajak awak media memasuki sebuah ruangan berukuran sekitar 10×6 meter yang diisi sejumlah meja kerja staf yang tersusun rapi.
Di ruang inilah, wajah inklusivitas BKPSDM tidak hanya hadir dalam bentuk fasilitas fisik. Ia hidup dan berdenyut dalam keseharian para pegawainya. Potret nyata tersebut tergambar pada sosok Chairul Hamzah, pegawai BKPSDM yang merupakan penyandang disabilitas tuna rungu. Dengan ketekunan dan ketelitian tinggi, Chairul menjalankan tugas mencetak tanda pengenal bagi seluruh ASN se-Kota Bontang.
Bagi rekan-rekannya, Chairul bukan sekadar mitra kerja yang andal. Ia juga menjadi penghubung bagi tamu penyandang tuna rungu yang membutuhkan layanan. Kehadirannya menegaskan bahwa penyandang disabilitas bukanlah objek semata, melainkan subjek aktif yang mampu berkontribusi nyata dalam pelayanan publik.
Baca Juga
Menanggapi sosok Chairul, Kepala BKPSDM Bontang Sudi Priyanto menyebutnya sebagai salah satu figur ASN inspiratif. Selain mumpuni dalam pekerjaan, Chairul juga dikenal sebagai atlet difabel berprestasi pada cabang olahraga bulutangkis dan tenis meja. Menurut Sudi, lingkungan kerja yang ramah dan suportif menjadi kunci agar potensi penyandang disabilitas dapat berkembang secara maksimal.
“Ketika institusi memberi ruang dan kepercayaan, maka keterbatasan bukan lagi menjadi rintangan,” ujarnya.
Sudi menegaskan melalui penyediaan fasilitas yang aksesibel, sumber daya manusia yang peka, serta budaya kerja yang menghargai keberagaman, BKPSDM membuktikan bahwa pelayanan publik yang manusiawi merupakan fondasi menuju birokrasi modern dan berkeadilan.
“Maka dari itu, upaya BKPSDM Bontang dalam membangun layanan inklusif bukan sekadar jargon, melainkan telah menjadi praktik nyata,” tutupnya. (adv/bkpsdmbontang)
Penulis: Pewarta
Editor: Suci Surya Dewi