Catatan: Suci Surya Dewi, Manager Bisnis & Kreatif Akurasi.id
HARI ini, 2 Februari 2026, Akurasi.id menginjak usianya tepat tujuh tahun. Ibarat seorang anak masuk Sekolah Dasar (SD), usia ini merupakan masa pengembangan diri yang pesat. Mulai dari kemampuan motorik yang semakin baik, hingga pengelolaan emosional, sosial, dan bahasa yang mulai terbentuk. Begitu pula Akurasi.id, media yang berdiri di Bontang, kota kecil di pesisir Kalimantan Timur ini kini sedang dalam fase usia bertumbuh pesat dan terus menguatkan kolaborasi timnya.
Menjadi salah satu saksi hidup yang membersamai Akurasi.id, kami menikmati perjalanannya yang penuh dinamika. Selama 2.555 hari tentang bertahan, belajar, dan terus beradaptasi dengan segala perubahan.
Sebagai seseorang yang berada di persimpangan antara pengembangan bisnis dan produksi konten, saya menyaksikan langsung bagaimana media ini tumbuh, jatuh, bangkit, lalu kembali berjalan dengan cara yang lebih matang.
Akurasi.id berdiri di tahun 2019. Saat itu, belum banyak media online yang bertebaran seperti saat ini. Pendiri dan karyawannya sebagian berawal dari koran yang sama: Bontang Post, anak perusahaan Kaltim Post (Jawa Pos Group). Kami masih sama-sama belajar dan meraba, bagaimana cara kerja media online yang pola kerjanya berbanding terbalik saat di koran dahulu.
Dari sisi keredaksian, jika dulu di koran, berita penting hari ini baru terbit keesokan harinya. Polanya: berita diolah wartawan, lalu dikemas jari-jemari piawai redaktur, disusun seapik mungkin di tangan layouter hingga larut malam. Koran dicetak dini hari dan didistribusikan ke pembaca setelah fajar menyingsing.
Jelas sangat berbeda di media online, breaking news lambat terbit satu jam saja, sudah dianggap basi. Sehingga wartawan dan redaktur media ini tak hanya beradu kecepatan, namun juga harus aktual dalam menyajikan berita.
Sedangkan dari sisi pengembangan bisnis, koran menjual space iklan dengan jangkauan lokal yang terbatas sesuai oplah. Bahkan harga cenderung mahal per tayang. Format yang disajikan hanya berupa gambar dan tulisan yang sudah dicetak.
Sebaliknya, media online menawarkan iklan dengan segala bentuk: foto, video, maupun banner yang dapat disesuaikan penempatannya. Jangkauan pun lebih luas, target audiens presisi, biaya lebih terjangkau, dan hasil dapat dilihat secara real-time. Tak hanya iklan, pemberitaan advertorial pun menjadi penopang. Tak ayal pembaca perlahan beralih ke industri ini karena mereka dimanjakan dengan kecepatan informasi semudah genggaman.
Namun perjalanan ini tentu tak selalu mulus seperti jalan tol. Kami pernah berada di masa paling sunyi dan tidak pasti. Persis ketika badai pandemi Covid-19 menghantam hampir seluruh sektor, termasuk media ini. Saat itu, tantangan datang bertubi-tubi: pola konsumsi informasi berubah, dunia usaha melambat, dan bisnis media diuji habis-habisan.
Pada masa pandemi, pemerintah dan masyarakat menerapkan protokol kesehatan ketat. Termasuk wartawan maupun karyawan media turut menerapkan work from home (WFH). Tantangannya cukup kompleks. Wartawan dituntut tetap mencari dan mengolah informasi meski keterbatasan ruang gerak. Sedangkan di sektor bisnis turut terdampak, lantaran pendapatan mulai menurun akibat pengalihan anggaran untuk penanganan pandemi. Namun satu hal yang patut disyukuri, Akurasi.id mampu melewati badai.
Baru bernapas lega lantaran pascapandemi ekonomi mulai membaik, tantangan baru pun muncul. Dunia media tidak lagi hanya berhadapan dengan media kompetitornya saja. Belakangan, perhatian masyarakat dan pengiklan mulai terpecah ke akun lokal media sosial maupun influencer yang menyajikan informasi secara instan dan visual.
Di titik ini, tantangannya bukan soal kalah cepat atau kalah menarik. Tantangannya bagaimana menjelaskan bahwa media berita memiliki nilai yang berbeda. Akurasi.id bukan sekadar kanal informasi, tetapi institusi pers yang terverifikasi Dewan Pers, bekerja dengan standar jurnalistik, proses verifikasi, dan tanggung jawab etis. Informasi yang disajikan tidak berhenti pada viral atau ramai, tetapi bisa dipertanggungjawabkan.
Dari sisi bisnis, perbedaan ini sering kali tidak langsung terlihat. Bagi sebagian pengiklan, memasang promosi di media sosial terasa lebih dekat, lebih lokal, dan lebih cepat terlihat hasilnya. Sementara media berita seperti Akurasi.id bekerja dengan jangkauan yang lebih luas, audiens yang beragam, dan dampak yang lebih panjang. Apa yang ditayangkan di media berita tidak hanya hadir sesaat, tetapi menjadi arsip, referensi, dan bagian dari rekam jejak informasi publik.
Baca Juga
Di sinilah peran pengembangan bisnis media menjadi semakin menantang sekaligus menarik. Kami tidak hanya menjual ruang iklan, tetapi juga membangun kepercayaan, kredibilitas, dan kolaborasi jangka panjang. Menjembatani kebutuhan pengiklan dengan nilai-nilai jurnalistik, tanpa mengorbankan independensi redaksi.
Bahkan dua tahun terakhir, Akurasi.id juga melakukan penguatan strategi dengan membangun dan mengembangkan tim media sosial serta content creator sebagai bagian dari ekosistem bisnis media. Langkah ini bukan untuk menggantikan peran jurnalisme, melainkan memperluas distribusi dan memperkuat relevansi konten di ruang digital. Media sosial menjadi jembatan antara kerja jurnalistik yang berbasis data dan fakta dengan kebutuhan audiens serta pengiklan yang menginginkan pendekatan komunikasi yang lebih adaptif dan kreatif.
Sebagai seseorang yang mengalami langsung transisi dari wartawan, editor, hingga terlibat dalam pengembangan bisnis dan konten kreatif, saya melihat proses ini sebagai fase pendewasaan Akurasi.id. Redaksi tetap menjadi fondasi, sementara pengembangan bisnis dan media sosial menjadi penguatnya. Di titik ini, Akurasi.id bukan hanya berbicara soal kecepatan informasi, tetapi tentang bagaimana pesan yang disampaikan memiliki nilai, konteks, dan kepercayaan.
Maka di usia ketujuh ini, Akurasi.id bukan hanya tentang apa yang telah dilewati, tetapi tentang kesiapan menghadapi masa depan. Dengan tantangan yang terus berubah, satu hal yang tetap kami pegang yakni komitmen untuk terus “Bersatu, Berkarya, Berjaya”, sesuai tema HUT ketujuh Akurasi.id tahun ini. Perjalanan ini belum selesai, dan semoga langkah ke depan semakin mantap. Selamat ulang tahun! (*)