Kaltim.akurasi.id, Samarinda – Gubernur Kalimantan Timur, Rudy Mas’ud, akhirnya angkat bicara usai tidak menemui massa dalam aksi unjuk rasa 21 April 2026. Sikap tersebut sempat menuai sorotan, terutama karena ia juga memilih tidak memberikan keterangan kepada media saat aksi berlangsung.
Di lapangan, aksi sempat diwarnai insiden puluhan peserta yang dilaporkan pingsan akibat berdesakan dan cuaca terik. Hingga aksi berakhir, sebagian massa masih bertahan di halaman Kantor Gubernur sebelum akhirnya dibubarkan aparat menggunakan water cannon.
Rudy menegaskan bahwa sejak awal dirinya tidak pernah menjanjikan akan menemui massa secara langsung di lokasi aksi.
“Kami memang tidak pernah menyampaikan untuk bertemu di lapangan, tapi kami siap berdialog. Rumah jabatan terbuka 1×24 jam untuk berdialog,” ujarnya saat ditemui di Samarinda, Kamis (23/4/2026).
Ia menyebut faktor keamanan menjadi salah satu pertimbangan utama. Menurutnya, situasi di lapangan saat itu tidak sepenuhnya kondusif, terutama setelah sebagian massa membubarkan diri dan tersisa kelompok lain yang masih bertahan.
“Bapak Ibu bisa membayangkan kalau saya di tengah situasi seperti itu, lalu ada lemparan botol, bagaimana?” katanya.
Karena itu, pemerintah daerah memilih membuka ruang dialog di tempat yang dinilai lebih kondusif. Rudy menilai diskusi tidak akan berjalan efektif jika dilakukan di tengah tekanan situasi lapangan yang panas dan tidak stabil.
Ia juga menegaskan bahwa setiap kebijakan pemerintah harus didasarkan pada data, bukan respons spontan terhadap tuntutan di lapangan.
“Saya tidak bisa asal bicara, semua harus berdasarkan data,” tegasnya. (*)
Penulis: Yasinta Erikania Daniartie
Editor: Redaksi Akurasi.id