Kaltim.akurasi.id, Samarinda – Lapas Narkotika Kelas IIA Samarinda bakal mengelola dapur Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Dalam program tersebut, pihak lapas akan melibatkan warga binaan sebagai bagian dari pengelolaan dapur, sekaligus mendukung pembinaan dan asimilasi.
Kepala Lapas Narkotika Kelas IIA Samarinda, Puang Dirham mengatakan, pembangunan satuan pelayanan pemenuhan gizi (SPPG) menjadi bentuk dukungan terhadap program pemerintah sekaligus pelaksanaan Asta Cita Presiden. Fasilitas tersebut nantinya tidak hanya melayani masyarakat, tetapi juga menjadi wadah pembinaan bagi warga binaan.
“SPPG yang kami bangun nantinya akan melayani masyarakat dan tetap menjadi bagian dari program pembinaan serta asimilasi warga binaan,” jelas Puang.
Ia menjelaskan, sejauh ini pihak lapas sebenarnya telah mengelola dapur secara mandiri. Namun untuk mendukung program MBG, fasilitas dapur khusus masih dalam tahap pembangunan sebelum nantinya masuk ke tahap pengelolaan dan manajemen operasional.
“Terkait dengan MBG, kami juga sedang membangun SPPG di Lapas Narkotika. Langkah ini merupakan bentuk pelaksanaan Asta Cita Presiden sekaligus dukungan terhadap program pemerintah dan Negara Republik Indonesia,” ujarnya.
Puang Dirham menuturkan, konsep SPPG yang dibangun akan melibatkan masyarakat serta warga binaan agar mereka tetap produktif dan memiliki kegiatan positif selama menjalani masa pembinaan di dalam lapas.
Menurutnya, warga binaan tidak seharusnya terus dipandang negatif. Untuk itu, negara telah memberikan kepercayaan kepada mereka untuk ikut berkontribusi melalui program tersebut.
“Mereka bukan orang yang harus dipandang rendah atau terus-menerus dianggap bermasalah. Negara memberikan kepercayaan kepada mereka, dan mereka harus mampu membuktikan bahwa mereka bisa memberikan hal terbaik bagi negara dan masyarakat,” tegasnya.
Ia menambahkan, pelibatan warga binaan dalam program MBG diharapkan dapat menjadi ruang bagi mereka untuk berkembang dan kembali berkontribusi di tengah masyarakat. Saat ini, proses pembangunan fasilitas disebut sudah berjalan dan tinggal menunggu tahap penyelesaian agar program dapat segera direalisasikan.
“Inti dari pelibatan warga binaan dalam program ini adalah memberikan kesempatan kepada mereka untuk tetap produktif. Kami tidak ingin hanya memandang warga binaan sebagai pelanggar hukum, tetapi juga sebagai manusia yang masih memiliki kesempatan untuk berkembang dan berkontribusi,” pungkasnya. (*)
Penulis: Muhammad Zulkifli
Editor: Devi Nila Sari