Stunting di IKN Belum Tuntas, OIKN Dorong Intervensi dari Remaja hingga Calon Pengantin

Di tengah pesatnya pembangunan fisik Ibu Kota Nusantara (IKN), persoalan stunting masih menjadi pekerjaan rumah serius. Data terbaru menunjukkan prevalensi stunting di kawasan IKN masih berada di angka 18 persen. Kondisi ini mendorong Otorita IKN mengubah fokus penanganan dari sekadar pemenuhan gizi anak menjadi pencegahan sejak masa remaja, pra-kehamilan, hingga pendampingan keluarga.
Fajri
By
1.2k Views

Kaltim.akurasi.id, Nusantara – Prevalensi stunting di wilayah Ibu Kota Nusantara (IKN) masih berada di kisaran 18 persen. Angka tersebut menunjukkan persoalan gizi dan kesehatan ibu-anak masih menjadi tantangan yang harus ditangani seiring pembangunan kawasan ibu kota baru.

Merespons kondisi tersebut, berbagai pihak memperkuat upaya pencegahan stunting melalui pendekatan yang lebih menyeluruh, mulai dari kesehatan reproduksi remaja, pendampingan keluarga, hingga peningkatan kapasitas kader Posyandu.

Direktur Pelayanan Dasar Otorita IKN, Suwito, mengatakan penanganan stunting di kawasan IKN tidak hanya berfokus pada pemenuhan gizi anak, tetapi juga menyasar fase sebelum kehamilan hingga masa pengasuhan.

Menurutnya, stunting dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari kesehatan reproduksi, pola asuh, hingga kondisi lingkungan keluarga.

“Yang terlihat saat ini memang pembangunan fisik. Namun, IKN juga sedang membangun aspek nonfisik, yaitu menyiapkan sumber daya manusia yang akan menjadi generasi penerus pembangunan,” kata Suwito saat kegiatan sosialisasi di Puskesmas Maridan, Jumat (12/6/2026).

Suwito menjelaskan, sejumlah program yang dijalankan meliputi edukasi kesehatan reproduksi bagi remaja, pemberian tablet tambah darah kepada perempuan usia subur dan calon pengantin, serta pendampingan keluarga yang berisiko mengalami masalah gizi.

Ia menilai intervensi sejak masa pra-kehamilan menjadi strategi yang lebih efektif dibandingkan penanganan yang baru dilakukan setelah anak lahir.

“Ke depan tidak boleh lagi ada kelahiran stunting di IKN. Ini menjadi bagian dari upaya menyiapkan generasi yang akan melanjutkan pembangunan ibu kota negara,” tegasnya.

Sementara itu, Kepala Puskesmas Maridan, Basiran, menilai keberhasilan penurunan stunting sangat bergantung pada peran kader Posyandu sebagai ujung tombak pelayanan kesehatan masyarakat.

Menurutnya, kader memiliki peran strategis karena berinteraksi langsung dengan keluarga dan masyarakat di tingkat akar rumput.

“Peningkatan pengetahuan kader mengenai kesehatan reproduksi, kehamilan sehat, dan pengasuhan anak dapat membantu memperluas jangkauan pencegahan stunting hingga tingkat rumah tangga,” ujarnya.

Hal senada disampaikan kader Posyandu Maridan, Seminawati. Ia berharap pelatihan dan pendampingan bagi kader dapat dilakukan secara berkelanjutan agar upaya penurunan stunting berjalan lebih efektif.

“Harapannya kegiatan seperti ini bisa terus dilakukan supaya angka stunting di IKN semakin menurun,” katanya.

Meski pembangunan infrastruktur menjadi wajah utama IKN saat ini, keberhasilan ibu kota baru tidak hanya diukur dari berdirinya gedung dan fasilitas publik. Kemampuan menekan angka stunting dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia sejak usia dini juga akan menjadi indikator penting keberhasilan pembangunan Nusantara di masa depan. (*)

Penulis: Nelly Agustina
Editor: Redaksi Akurasi.id

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Menu Vertikal
Menu Sederhana